Berteman dengan Ketidak Sempurnaan

Melalui facebook saya kembali bertemu dengan seorang teman baik di masa kuliah, dan sekarang dia sudah menjadi seorang manager HRD di sebuah perusahaan group yang bergerak dalam bidang fast moving consumer goods. Dia perempuan yang pintar dan aktif, lancar dalam mengemukakan pikiran, dan menikah muda. Bahkan sebelum selesai kuliah anak pertamanya lahir.

single parent

“Saya bercerai setahun silam,” ujarnya ringan. Sebuah pengakuan atau pernyataan yang menurut saya luar biasa, dan disampaikan dengan cara yang sangat biasa.

Ia harus menanggung ketiga anaknya sendirian, dan bisa survive. Bukan sekedar survive, tetapi ketiga anaknya bahkan punya prestasi masing-masing – dalam konteks subjektif teman saya itu. Bukan prestasi yang heboh, tetapi kemampuan mengatasi masalah dan menjadi pemenang dalam pergulatan kehidupannya sehari-hari. Intinya bahwa, ketiga anak tersebut mampu mandiri dan berbagi dalam semua kesulitan yang dimiliki.

Berumah tangga selama dua puluh tahunan, berakhir dengan perceraian. Apa tidak sayang? Sekalipun disayangkannya, namun semua menjadi pelajaran baginya. Menurutnya, dua puluh tahun berumah tangga itu berproses menjadi ajang pembuktian jati diri masing-masing. Teman saya itu membentuk karakter, pikiran dan hasratnya, demikian pula mantan suaminya. Teman saya berorientasi religius, dan semakin bertambah umur kian mencoba mendekatkan diri dengan agama. Sebaliknya, suaminya semakin membuktikan bahwa kehidupan dunia adalah nafasnya.

Akhir sebuah rumah tangga biasanya membawa dampak logis, berupa gangguan psikologi khususnya depresi. Tapi, teman saya itu berhasil melewati fase kritis dengan baik. Ia tidak terlalu terguncang dengan perceraiannya, karena tampaknya ia sudah melihat akhir hubungan suami istrinya jauh hari sebelumnya dengan jernih. Perceraian bukan sekedari konsekuensi atas sebuah perilaku tetapi juga pilihan dari pihaknya. Dalam situasi turbulensi, ia berpegang pada kedua asa yang masih kuat digenggamnya: ketiga anaknya, dan keyakinannya pada Tuhan.

Dari perspektif psikologi, teman saya itu berhasil menunaikan aturan pertama dalam konseling pada dirinya sendiri: membumikan masalah. Membumikan masalah bermakna meninjau masalah secara komprehensif sebagai realitas, sebagai masa lalu yang tidak bisa diubah, dan solusi hanya bisa dicari dengan melihat ke depan secara konstruktif. Menyikapi masalah sebagai realitas bermakna mengakui kekinian, tidak berandai-andai pada kejadian yang sudah lewat, dan tidak mengasihani diri sendiri.

Membumikan masalah bukan pekerjaan mudah, karena lebih banyak orang yang masih mengedepankan kalimat “… seandainya saja…” atau “... I wish ….”. Kalau manusia boleh memutar waktu, mereka boleh membuat kekeliruan dan tetap punya peluang melakukan koreksi. Tapi, kita tidak punya peluang itu. Kekeliruan pasti terjadi, dan kita memang harus hidup dengan segala macam ketidak pastian, ketidak sempurnaan, dan serba kekurangan.

Di muka bumi ini tidak ada kesempurnaan yang sebenarnya. Kesempurnaan yang dipersepsi manusia hanyalah nisbi belaka, sesuatu yang bermain di pikiran manusia. Kesempurnaan akan kecantikan, kekayaan, kepandaian, ketangkasan, dsb. Persepsi akan kesempurnaan ini secara positif memberi semangat dan keberanian individu untuk meraih cita-cita, pe-de dalam memilih pasangan hidup, mencari peluang bisnis, dsb. Masalah baru terjadi bila yang menghadang di jalan bukan keberhasilan melainkan kegagalan. Harapan dan cita-cita yang sudah melambung, tiba-tiba terhadang tembok tinggi. Akibatnya jelas: timbul jarak antara impian dan kenyataan.

Orang perlu siap dan paham bahwa dirinya tidak sempurna, karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Dengan demikian, kegagalan, nasib buruk, atau sekedar ketidak beruntungan sebenarnya menjadi bagian yang integral dari kehidupan. Expect the unexpected! Memprakirakan hal yang tidak terduga, karena apa sih yang tidak mungkin di dunia ini?

terus berjalan meski tak sempurna

Seorang atlet yang mengalami kecelakaan dan lumpuh, jauh lebih tersiksa daripada orang yang sejak kecil cacat kaki. Selama hidupnya, hingga sebelum nikmat dicabut darinya, atlet tersebut menganggap dirinya sempurna dan fisiknya yang utuh memberinya nafkah. Sehingga, bila hal itu diambl darinya, ia akan menderita. Beda dengan orang yang sejak kecil menderita cacat dan telah berteman dengan ketidak sempurnaan sepanjang hidupnya. Penerimaan keduanya pada realitas kehidupan terpaut jauh, sebab penderita cacat sejak kecil telah lebih dulu menerima kecacatannya sebagai bagian dari kehidupannya.

Perubahan membuat orang cemas, apalagi bila perubahan itu tidak mengarah pada sesuatu yang lebih baik. Kecelakaan, perceraian, kematian suami, kehilangan pekerjaan, kalah bersaing untuk promosi, semuanya memberikan tekanan sendiri-sendiri, dan diterima oleh orang yang berbeda secara unik. Pada umumnya, akan terjadi turbulensi pada kondisi kejiwaannya, namun cepat atau lambat orang akan menyesuaikan diri dengan cara yang beragam. Seberapa cepat penyesuaian diri tersebut, tergantung seberapa kuat usahanya untuk menerima kenyataan serta kesiapan menjalani kehidupan baru yang tidak sesempurna sebelumnya.

Kehidupan ini tidak lah sempurna, sehingga tidak perlu kita memaksakan diri mencari kesempurnaan di dalamnya. Kesempurnaan di dunia ini letaknya hanya ada di persepsi, sebab sesempurna apapun di mata kita pasti menyimpan celah dan cela yang mungkin tidak tampak oleh mata kita – yang juga tidak sempurna. Kita boleh punya angan-angan dan cita-cita, namun bersiaplah kembali ke alam realitas, khususnya bila menemui masalah dengan cita-cita itu.

Jadilah diri sendiri dengan konsep diri yang jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: