Membela Allah

“Allah tidak perlu dibela,” ujar almarhum Gus Dur pada suatu ketika.

Kalimat sederhana yang bisa diinterpretasikan secara berlawanan. Orang bisa menganggap Gus Dur melecehkan Islam, tetapi bisa juga bermakna meninggikan kedudukan Islam. Sekalipun suka bercanda, saat menyatakan ini beliau tampak serius.

Kita memahami bahwa Indonesia adalah sebuah negeri beretnis majemuk, mayoritas penduduknya beragama Islam, namun sejak awal para bapak bangsa sudah sepakat untuk menerapkan demokrasi sebagai landasan bernegara, bukan Islam. Konsekuensinya, bangsa ini selalu berada di persimpangan paham politik yang sedang trend di dunia. Sempat cenderung  ke arah liberal, sosialis, dan sekarang kembali mengarah ke liberal lagi. Dalam iklim politik seperti ini, setiap orang boleh berekspresi selama tidak melanggar hukum dan mengganggu orang lain. Sekalipun mungkin tidak suka, orang Islam harus menyerahkan kepercayaan kepada pengurus negara yaitu pemerintah, untuk bertindak adil.

Sayangnya, selalu ada orang atau pihak yang mencari celah hukum dan melakukan perbuatan yang bagi sebagian orang Islam cukup menyakitkan atau tidak pada tempatnya. Diskotik buka malam hari itu wajar bagi pemda, karena mereka sudah membayar pajak. Tapi bagi sekelompok massa, hal itu menghina bulan ramadhan. Lokalisasi yang tetap buka di malam hari, itu melecehkan ibadah orang Islam. Mungkin ini lebih ke perbedaan persepsi, tetapi ujungnya adalah perusakan properti. Pamong praja dianggap lamban dalam menyikapi hal ini, sementara sekelompok massa tidak sabar menunggu aksi pemda atau pemkot.

Hal serupa juga menyangkut tindakan ekstrim sekelompok umat Islam yang meledakkan objek yang mereka anggap representasi Barat atau peradaban Barat. Pemerintah sudah tidak dianggap punya legitimasi karena dipandang telah menjadi kaki tangan Barat, dan niatan membangun negara Islam menguat. Bagi mereka, demokrasi yang berjalan sekarang ini tidak Islami, dan harus diganti dengan syariat Islam sepenuhnya. Kalau pun ada korban yang jatuh karena aksi mereka – termasuk sesama orang Islam – dianggap sebagai korban perang semata.

Alih-alih menarik simpati, kelakuan anarkis tersebut justru mengundang antipati. Setidaknya itu yang muncul di permukaan dan kabar di media massa nasional. Sekalipun yang punya pemikiran dan melakukan tindakan adalah individu atau kelompok individu (karena saya sebagai orang Islam tidak merasa terwakili) tetapi Islam sendiri sebagai agama dan petunjuk yang lurus jadi terbawa-bawa.

Sebenarnya, apakah Islam sebagai agama, pandangan hidup, dan kultur mengalami ancaman di tengah berbagai peradaban di dunia? Sehingga ada individu atau kelompok individu yang “terpanggil” untuk membelanya dengan kekerasan.

Kalau kita menengok sejarah, dan kembali ke masa lalu, kita tahu bahwa sejak awal kebangkitannya bersama Rasulullah SAW, Islam tidak pernah kering dari cobaan, karena memang kebenaran selalu mendapatkan ujian. Sebagai bukti bahwa Islam adalah kebenaran, bukannya mengerdil tetapi agama ini justru menjelma menjadi raksasa di tengah peradaban dunia saat itu. Dalam perjalanannya, semakin besar tekanan kepada Islam, semakin luas wilayah perkembangannya. Ketika tentara Perang Salib sempat mengalahkan pasukan Islam, sebenarnya justru saat itulah awal masuknya ide-ide dari para pemikir Islam ke Eropa, seperti ilmu kedokteran Ibnu Sina. Eropa tercerahkan, tapi pada umumnya mereka tidak mengakui bahwa pencerahan itu bersumber dari peradaban Islam yang mereka serap.

Kita ingat kontroversi 9/11 – saat menara kembar Wold Trade Center rata dengan tanah akibat dihantam pesawat berbadan lebar secara sengaja. Konon, pesawat itu dibajak teroris dari Timur Tengah dan ditabrakkan ke WTC. Versi lain, semua kabar tentang terorisme adalah rekayasa, sebab pada hari itu, hampir semua karyawan yang beretnis Yahudi serentak cuti sehingga selamat dari runtuhnya WTC. Apapun alasannya, orang Amerika lah yang menderita.

Anehnya, seperti anti-tesis bahwa runtuhnya WTC akan menjatuhkan reputasi Islam, justru kejadian pahit ini membuat orang Amerika ingin tahu Islam itu seperti apa. Mereka yang sebelumnya tidak tahu dan tidak perduli, menjadi ingin tahu dan ingin belajar. Justru inilah kunci peradaban Islam, penyebaran agama dengan akal. Orang Amerika yang berakal, dan menggunakan akal mereka dalam mempelajari Islam, justru tertarik ke Islam. Mualaf menjadi jauh lebih besar pasca tragedi 9/11 … sebuah keanehan yang nyata.

Upaya pelemahan Islam terjadi secara sistematis maupun sporadis, itu sudah terjadi sejak jaman Rasulullah sendiri. Selama sifatnya masih pertentangan dengan kata-kata, ketinggian kandungan dan tata bahasa Al-Qur’an tidak akan terpatahkan. Oleh karena itu, yang kemudian terjadi adalah upaya pembunuhan Rasulullah SAW dan menghabisi semua orang Islam. Terjadilah berbagai peperangan yang tidak terhindarkan.

Pada masa Khulafaur Rasyidin, Islam mengembangkan sayap semakin jauh ke negeri-negeri tetangga hingga ke tempat yang jauh. Islam bukan lagi sebuah agama dan gagasan tetapi sudah menjelma menjadi sebuah peradaban dan negara. Oleh karena itu, perluasan peradaban ini terkadang berbenturan dengan peradaban lain dan menimbulkan pertentangan dan perang.

Kemudian, muncullah pameo bahwa Islam disebarkan dengan pedang. Sebagai penghalusan gagaan bahwategaknya Islam ini karena memaksa orang untuk memeluknya, bukan karena keikhlasan. Islam tidak akan mendunia bila tidak melalui peperangan.

Padahal, dalam kenyataannya, penyebaran agama Islam di Asia, Eropa, dan banyak negara lain justru kebanyakan melalui perdagangan. Tidak mungkin Islam bercokol beberapa abad di Spanyol tanpa adanya orang-orang Islam yang mendahului tiba di sana. Tidak ada kabar berita dan bukti bahwa tentara dari jazirah Arab disebarkan di banyak negara Asia dan Afrika untuk penaklukan. Yang ada adalah armada pedagang, yang membawa peradaban Islam dalam tata cara perdagangan mereka. Tentu saja ini sangat berbeda dengan penaklukan kaum kolonial Spanyol dan Portugis yang membawa agenda ekspedisi: gold, gospel, glory (perburuan emas, penyebaran agama, dan membangun kejayaan) – untuk menyebut mencari harta di tanah orang, menyebarkan agama kepada bangsa lain, dan membentuk koloni di negeri yang jauh.

Ujian bagi kaum Islam pun sampai sekarang belum selesai, dengan bentuk yang berbeda-beda dan berasal dari elemen yang beragam. Ada yang berbentuk tekanan militer seperti di Palestina, ada yang berwujud westernisasi seperti di beberapa negara pesisir jazirah Arab, melalui arus informasi yang tidak terbendung seperti di Indonesia, dan sebagainya. Dampaknya serupa, yakni menjauhkan orang Islam dari Al-Qur’an dan Hadits. Justru ujian non-fisik seperti westernisasi dan informasi lah yang jauh lebih berbahaya, karena tidak nyata dan halus sekali masuk ke pembuluh nadi orang Islam.

Akankah Islam akan runtuh? Sekali-kali TIDAK. Allah telah memberikan janjiNya bahwa satu-satunya agama di sisiNya adalah Islam (Ali Imran 19): Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam. Kemudian dalam QS Al Maidah ayat 3, Allah menegaskan … Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Dengan demikian, sebenarnya Islam sebagai agama tauhid sudah diamanatkan Allah bagi manusia yang bertakwa. Allah sendiri yang menjamin keberlangsungannya. Allah sendiri yang akan melindungi Islam, dan Allah tidak butuh manusia sebagai penolongNya. Tidak mungkin Allah membiarkan agama yang diridhaiNya, dan satu-satunya yang benar seperti dalam wahyuNya dibiarkan runtuh.

tanggung jawab kita adalah anak-anak kita

Bila kita mencintai agama ini sebagai rahmatan lil alamin, tugas kita adalah menegakkan syariat Islam bagi diri kita, keluarga kita, dan orang-orang yang mau bertakwa sebagaimana Rasulullah menegakkan Islam dengan kasih sayang dan persaudaraan. Tidak ada paksaan dalam beragama, sehingga memusuhi orang di luar Islam sungguh bukan ajaran Rasulullah SAW. Biarlah mereka dengan sesembahan mereka, dan Allah akan memberikan keputusanNya kelak.

Bagaimana dengan musuh-musuh yang membenci Islam dan berusaha menghancurkan umat Islam? QS An-Nisa 45 menjelaskan: Dan Allah lebih mengetahui  tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung. Dan cukuplah Allah menjadi Penolong.

Bila Allah sudah berkehendak, apa susahnya meremukkan sebuah bangsa dan menghapusnya dari muka bumi? Kaum ‘Ad, kaum Tsamud, bangsa Nabi Nuh, dsb telah menjadi bukti. Biarlah Allah yang akan menentukan nasib bangsa Israel, orang Eropa, dan semua yang dianggap musuh Islam, karena mereka bertahan di muka bumi ini semata karena ijin Allah, semata agar menjadi ujian bagi kita – kaum mukmin yang bertakwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: