Cukuplah Bagiku Allah …

Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung … demikian bunyi sepotong ayat dalam Ali Imran ayat 173, untuk menunjukkan bahwa kekuatan iman (seharusnya) bisa menahan ketakutan dan kekhawatiran atas apapun yang membahayakan jiwa.

Sayangnya, realitanya tidak semudah itu. Kita dibesarkan dalam konsep keduniaan, dan sebagai mahluk sosial terbiasa untuk menjadikan manusia lain sebagai penolong. Ayah ibu kita, kakak, saudara, hingga sahabat dan teman biasa. Bisa dikatakan, kita tidak dididik untuk menjadikan Allah sebagai penolong, kecuali mungkin bila kita dibesarkan secara khusus seperti di lingkungan pesantren.

Ketika sakit, pikiran yang pertama terlintas adalah dokter. Wajar, tetapi kecenderungannya kemudian adalah berpikir pertolongan sangat jauh, dan hanya bisa didapatkan lewat tangan ahli. Ketika mendadak membutuhkan biaya besar, yang pertama terlintas di pikiran adalah pinjam uang pada orang atau bank, karena rasanya Allah yang gaib tidak akan menurunkan sejumlah uang secara nyata. Ketika masuk rumah baru dan takut pada fenomena yang tidak dipahami, yang terpikirkan justru bantuan paranormal.

Mungkin sekarang ini kondisi religius orang Indonesia sudah membaik, setelah sangat lama terbelenggu total pada sekularisme di era sebelumnya. Kemajuan informasi dan komunikasi telah mendorong maraknya dakwah agama, dan orang jadi lebih mudah mengakses apapun yang terkait dengan agama. Akan tetapi, seperti halnya evolusi dalam berbagai bidang, tidak mudah mengikis cara berpikir yang diturunkan dari generasi sebelumnya.

Mengatakan cukuplah bagiku Allah memang mudah untuk dikatakan, tetapi bila masih percaya pada ruwatan, hari baik, sedekah bumi, selamatan, dan apapun namanya yang mengatas namakan keselamatan, berarti Allah belum lah cukup. Allah tidak pernah menyuruh kita melakukan ritual selain sholat untuk mendekatkan Dia pada umat-Nya. Hanya sholat saja ritual yang diperintahkan, dan perbanyak zikir agar kita lebih mendekat padaNya.

Beberapa waktu lalu, seorang teman bercerita tentang sakitnya. Dia masih muda dan belum menikah, atraktif, dan masih naif. Menurutnya, keluarganya cukup konservatif, dan cukup baik dalam pengajaran agama. Dalam ceritanya, ia pernah ditaksir seseorang yang sudah dianggapnya kakak sendiri. Intinya, ia tidak tertarik dengan laki-laki tersebut dengan dalih belum siap untuk menikah. Konon, setelah penolakan itu beberapa kali mimpi buruk mendatanginya. Yang paling serius terjadi saat ia merasa dicekik figur hitam besar, dan merasa hampir mati.

Menurut teman tersebut, keesokan harinya ia tidak bisa berjalan. Kakinya terasa berat seperti dibebani sesuatu. Dua minggu ia tidak bisa kemana-mana, dan dokter pun tidak menemukan penyakit apapun. Selanjutnya, orang tuanya membawanya ke kiai (sebutannya begitu). Menurutnya, sampai ada 4 kiai yang didatangi untuk mencari kesembuhan. Akhirnya ia memang sembuh dan bisa berjalan seperti biasa.

Apakah sembuh begitu saja? Tidak.

Sekarang, kemana-mana teman saya itu membawa semacam jimat penangkal, yang katanya bisa melindunginya. Sebuah bungkusan putih dengan tulisan arab gundul. Dia sepakat bahwa apa yang dilakukan itu adalah menangkal jin dengan jin lain. Dia juga tahu dampak buruk yang bakal terjadi bila dia terus merawat jimat itu. Sekarang pun sudah terasa,  dia jadi lebih sulit mengaji dengan normal karena selalu mengantuk dan akhirnya tertidur. Kalaupun terbangun, minatnya mengaji sudah hilang.

Takut akan hal gaib, itu adalah hal yang lumrah karena normalnya kita tidak tahu apa yang ada di balik tabir gaib tersebut. Sama dengan orang yang takut pada kegelapan, karena dia tidak tahu apa yang bersembunyi di dalam kegelapan itu. Dalam situasi seperti itu, kita dipaksa untuk berpegang pada sesuatu agar tidak takut lagi. Mau berpegang pada apa, itu adalah pilihan kita.

Meyakini sebuah supreme being – dzat yang maha tinggi – adalah hakikat manusia. Itulah sebabnya manusia mengembara dalam pikiran dan keyakinan untuk mencari bentuk sesembahan sebagai wujud takluk dan takutnya. Muncullah keyakinan-keyakinan kuno seperti animisme, dinamisme, hingga paganisme yang memunculkan dewa-dewa seperti era Yunani dan Eropa kuno. Bila di Yunani ada Zeus, orang-orang Viking menyembah Odin – yang sama-sama penguasa langit bersenjatakan petir. Orang Arab kuno lebih takut pada dewa air, karena kondisi dataran yang bergurun. Orang Persia menyembah dewa api, yakni kaum Majusi yang masih ada hingga sekarang. Masyarakat kuno di Amerika Selatan dan kebanyakan suku-suku yang terlah hilang takut pada matahari, dan api sebagai sebuah bentuk dari kekuatan matahari.

Agama-agama yang masih ada dan berkembang sekarang ini meyakini adanya sebuah dzat yang maha tinggi, namum hanya Islam yang secara lugas menegaskan bahwa tidak perlu perantara untuk berhubungan dengan Sang Khalik tersebut. Tidak perlu dewa, pendeta, idol (bentuk patung untuk fokus), atau bahkan tempat khusus untuk menyembahNya, karena dia bisa lebih dekat daripada urat nadi manusia sendiri.

Manusia secara nas sudah ditunjuk menjadi khalifah di muka bumi, spesies yang memang diperintahkan menyebar dan mengembara di atas dunia untuk mengagungkan namaNya. Manusia boleh memanfaatkan apapun yang ada di atas dan di dalam bumi untuk kepentingannya. Kurang apa lagi. Akan tetapi, tidak semua manusia cukup pede meyakini bahwa dia adalah seorang khalifah, sehingga memerlukan “jasa” mahluk lain untuk bisa menegakkan dada menunjukkan jati diri sebagai manusia.

Padahal, Allah telah juga mengingatkan bahwa menjadi khalifah di muka bumi itu tidak lah mudah (QS At-Tiin): “…sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya , kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Bila kembali pada akar keyakinan, yakni Allah, semuanya jauh lebih sederhana. Kebutuhan yang teramat sangat pada figur dokter, bank, hingga mahluk lain sebenarnya ketakutan akan derita, sengsara, bahkan mati. Padahal, tanpa ijin Allah, sengsara dan derita tidak akan menghampiri. Kecuali memang Allah menurunkan cobaan, teguran, atau azab pada kita manusia. Bila sudah kehendak Allah, tidak akan ada yang bisa menundanya apalagi membatalkannya.

merendah di hadapan Allah

Jadi, mengapa tidak sekarang saja dengan sepenuh hati mengucapkan hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal mawla wa ni’man nashir …. seperti saat Nabi Ibrahim a.s dilemparkan ke api, saat Rasulullah SAW menghadapi ancaman serangan kafir Quraisy, dan Aisyah r.a menghadapi fitnah keji.

Semoga Allah merahmati kita semua. Amin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: