Demi Kehormatan?

Herdian Zulkarnain

Foto ilustrasi tulisan saya kali ini mungkin memberikan perasaan tidak nyaman bagi kebanyakan pembaca yang singgah di blog ini. Saya mohon maaf. Saat melihat dan membaca liputan majalah TIME edisi tanggal 9 Agustus ini, saya merasa tergerak untuk membahasnya.

Cover TIME 9 Agustus 2010

Aisha adalah seorang wanita muda Afghanistan berumur 18 tahun dan menikah. Ia sebelumnya adalah perempuan yang cantik, berambut indah, bermata cemerlang, namun sekarang orang akan ngeri melihat wajahnya. Hidungnya habis, memperlihatkan rongga hidung, demikian pula telinganya. Apa yang terjadi?

Dalam pengakuannya, setelah menikah ia diperlakukan secara sewenang-wenang oleh para iparnya seperti budak, mereka memukulinya, dan ia merasa akan mati bila tidak menyelamatkan diri. melarikan diri dari rumah keluarga suaminya adalah pilihan yang diambilnya.

Aisha tinggal di wilayah Selatan Afghanistan, tempat kelompok pejuang Taliban berkuasa. Sekalipun Taliban tidak lagi berkuasa sebagai pemerintahan, kelompok itu punya akar yang kuat dan cukup menguasai sendi kehidupan di wilayahnya. Keluarga suami Aisha meminta Aisha dihukum, dan dengan pengawalan prajurit Taliban Aisha dijemput di suatu malam untuk menghadapi “pengadilan” di sebuah tempat di pinggir desa. Aisha sudah menjelaskan alasannya minggat dari rumah, namun hakim “pengadilan” itu – yakni komandan lokal Taliban – tidak goyah.

Keputusan diambil, Aisha harus dihukum, dan yang melakukannya adalah suaminya sendiri. Menurut sang hakim kepada Paman Aisha yang hadir, hal itu dilakukan sebagai pelajaran bagi perempuan-perempuan lain di desa itu agar tidak melakukan perbuatan serupa. Sementara ipar-iparnya memegangi, suami Aisha menghunus pisau dan mengiris kedua daun telinga perempuan itu, lalu hidungnya. Aisha pingsan karena penderitaannya, dan ia ditinggalkan begitu saja untuk mati.

Aisha - 18 tahun

Tapi entah bagaimana ceritanya, Aisha ternyata tidak mati. Yang Kuasa belum mengijinkannya mati. Ia terbangun karena tersedak darahnya sendiri, saat semua laki-laki yang menyaksikan eksekusi itu sudah pergi.

Aisha akhirnya ditampung dan dilindungi oleh semacam lembaga perlindungan perempuan di Kabul, setelah sebelumnya memperoleh perawatan di camp tentara Amerika. Perempuan muda itu akan menjalani rehabilitasi bedah kosmetik. Ayahnya pernah ke penampungan tersebut dan meminta Aisha kembali ke rumah, namun perempuan muda itu menolaknya. Ia bisa membayangkan apa yang terjadi bila ia pulang, sementara keluarganya menanggung rasa malu. Untuk menghilangkan rasa malu itu, mungkin saja ia akan mati dibunuh keluarganya sendiri demi pulihnya kehormatan keluarga, atau sekali lagi dikembalikan kepada keluarga suaminya – yang ujungnya sama saja: mati demi kehormatan keluarga.

Kejadian ini bukan 10 tahun lalu, saat Taliban berkuasa penuh, tetapi baru tahun 2009 kemarin. Di Afghanistan memang sedang terjadi konflik kepentingan antara pemeritah berkuasa yang didukung Amerika dengan kekuatan pasukan Taliban yang bergerilya di kantong-kantong perjuangan mereka. Setelah Taliban lepas dari kekuasaan dan iklim demokrasi membaik, perempuan-perempuan Afghanistan (terutama di Ibukota Kabul) mulai menggeliat dan menunjukkan kapasitas mereka. Sekarang ini, anggota parlemen perempuan mencapai sekitar 25%, tetapi secara de facto mereka belum dianggap signifikan. Aisha adalah contoh perempuan di area rural yang jauh dari modernisasi, dan masih hidup dalam kungkungan adat yang mengatas namakan agama. Perempuan-perempuan ini hidup dalam budaya patriarki yang kuat, dan tidak memberikan mereka kebebasan untuk berpikir dan bertindak. Mereka harus siap menerima kematian bila dianggap mempermalukan nama keluarga.

Perempuan Afghan di Kabul, terpelajar dan emansipasi

Honor killing – sebutan untuk pembunuhan atau kematian yang dilakukan demi nama dan kehormatan keluarga. Istilah ini pertama kali disebutkan oleh Ane Nauta, ilmuwan Belanda di masyarakat Turki. Human Rights Watch mendefinisikan honor killing sebagai: tindak kekerasan, biasanya pembunuhan, yang dilakukan oleh kaum pria sebuah keluarga terhadap kaum wanitanya yang dianggap membuat malu keluarga.

Perbuatan yang dianggap memalukan dan patut dihukum dengan kematian antara lain: menolak dinikahkan, menjadi korban kekerasan seksual, meminta cerai (sekalipun dari suami yang penganiaya), atau melakukan perzinahan.

Ada yang mengasumiskan bahwa honor killing terkait dengan dunia Islam. Dalam laporan National Geographic di tahun 2002, Hillary Mayell menyebutkan bahwa honor killing ditemukan oleh PBB dilakukan di negara-negara: Bangladesh, Britania Raya, Brazil, Ecuador, Mesir, India, Israel, Italy, Jordan, Pakistan, Maroko, Swedia, Turki, dan Uganda. Yang tidak secara resmi dilaporkan adalah Afghanistan, Iran, dan Iraq.

Menurut Marsha Freeman (2002 – direktur International Women’s Right Action Watch), kebanyakan honor killing terjadi di negara-negara yang punya konsep perempuan sebagai alat untuk mengangkat reputasi keluarga.

Widney Brown, direktur advocacy Human Rights Watch, menyatakan,”di negara-negara yang bernafaskan Islam, mereka menyebutnya honor killing (pembunuhan demi kehormatan), tetapi kematian karena uang mahar (dowry – uang yang dibawa mempelai perempuan pada keluarga pengantin laki-laki – red) dan kejahatan karena hal-hal semacam itu memiliki dinamika serupa – yang pada pokonya perempuan dibunuh oleh anggota keluarga yang laki-laki, dan kejahatan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang bisa dipahami dan dimaafkan.”

Di India, lebih dari 5000 mempelai perempuan mati tiap tahun karena uang mahar yang tidak mencukupi. Di Amerika Latin, praktik seperti ini juga terjadi.

Tahira Shahid Khan (1999) dalam tulisannya menyebutkan bahwa, di dalam Al-Qur’an tidak ada pengajaran yang mengijinkan pembunuhan demi kehormatan. Akan tetapi, pandangan bahwa perempuan adalah properti (hak milik) tanpa hak pribadi sangat berakar pada kultur masyarakat Islam.

Katanya,”Perempuan dianggap sebagai properti dalam keluarga tanpa memandang kelas, etnik, dan agamanya. Pemilik properti berhak menetapkan nasibnya. Konsep ini telah mengubah perempuan menjadi komoditi yang dapat dipertukarkan, dibeli, dan dijual.”

Honor killing tidak selalu dengan cara yang mengerikan sebagaimana yang dialami Aisha, tetapi bisa juga dengan tembakan langsung. Tidak selalu di tempat khusus, bisa juga di tengah keramaian. Samia Imran di tahun 1999 hendak menggugat cerai suaminya di Peshawar Pakistan, setelah 10 tahun perkawinan yang menyengsarakannya. Dia bukan dari keluarga sembarangan, karena ayahnya saat itu adalah Ketua Kamar Dagang di Peshawar. Keluarganya menentang, karena hal itu akan mempermalukan keluarga. Perempuan berumur 28 tahun ditembak mati oleh seorang laki-laki yang masih kerabatnya di depan kantor pengacara. Pembunuhnya tidak pernah dihukum.

Zahida Parveen. inset: sebelum rusak dan setelah rusak

Di tahun 2002, dokumenter National Geographic menyelidiki honor killing di Pakistan, dan memperkirakan 3 orang perempuan menjadi korban praktik ini tiap harinya. Kasus mirip yang dialami Aisha terjadi juga tahun-tahun itu, dialami oleh Zahida Parveen (29) seorang ibu beranak 3 yang secara brutal dibutakan kedua matanya dan dirusak wajahnya … lagi-lagi oleh suaminya sendiri.

Dengan mengatas namakan agama dan kehormatan keluarga, honor killing dilakukan. Akan tetapi, sebenarnya hal ini adalah legitimasi atas kekerasan pada perempuan, karena perempuan dianggap tidak punya tempat pada budaya patrilinial. Tidak ada urusan dengan agama.

Semoga kita bisa sedikit mengambil hikmah dari kisah ini. Islam meninggikan derajat kaum perempuan, menjadikan mereka ahli dalam urusan mengatur rumah tangga dan menyeimbangkan harmonisasi keluarga dengan emosinya. Akan tetapi, dengan sedikit mis-interpretasi, memang akhirnya bisa saja perempuan dianggap sebagai properti.

Semoga Allah Swt senantiasa memberikan rahmat dan petunjukNya untuk bangsa ini.

SELAMAT MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN … semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan rahmat-Nya pada kita semua, dan keikhlasan kita menyambut bulan suci ini membawa kebaikan bagi semuanya. Amin.

One Response to “Demi Kehormatan?”

  1. Parah amat gan,masih muda lagi.Otaknya blatungan kali yah? gara2 budaya patrilineal tuuh!Ingat sauadara seiman dimanapun anda,KEHORMATAN GAK DIBAWA MATI!YANG DIBAWA MATI ADALAH PAHALA BRO! JANGAN ABAIKAN PESAN INI FREND!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: