Pastor Impor

Pastor bule di Indonesia, Korea, Vietnam, atau India, atau di belahan dunia lain yang tidak besar dalam budaya Katholik mungkin biasa. Tetapi bagi pikiran kita, sungguh aneh bila pastor ber-ras non kaukasia memimpin paroki di negara yang besar dengan budaya Katholik. Tetapi, itu memang terjadi.

Pastor Ruhatijuli di Dijon

Liputan majalah TIME edisi 19 Juli 2010 mengetengahkan kondisi yang runyam di Prancis. Di kota Dijon, pastor gereja Saint Jean Bosco adalah orang Afrika asal Rwanda bernama Etienne Ruhatijuli, dan sudah hampir 4 tahun ia berada di sana. Prancis berpenduduk mayoritas Katholik, dan di negara ini para pastornya tidak termasuk yang belakangan ini heboh terkena skandal pelecehan seksual. Posisi pastor masih sangat dihormati di sini, namun pada kenyataannya tahun lalu hanya 90 orang saja orang Prancis yang dikukuhkan sebagai pendeta. Ini sudah jauh menurun dibandingkan dengan jumlah pada dekade sebelumnya yang sekitar 112 orang.

Seorang pastor lain asal Republik Kongo, Joseph Kuka, mengatakan bahwa, ia sekarang menjadi pastor di 19 paroki – yang berada di sekitar desa Brazeyen-Plane dekat kota Dijon. Saking banyaknya gereja yang dibawahinya, ia baru bisa kembali ke gereja yang sama tiap 2 atau 3 bulan sekali.

Di Prancis, pastor imigran mencapai 1,316 orang dan 650 orang di antaranya berasal dari Afrika. Bila seabad silam Prancis memberangkatkan misionaris ke berbagai negara Afrika, sekarang ini arahnya berkebalikan – terjadi migrasi yang konstan para pendeta kulit hitam ke Prancis. Mayoritas pendeta dari Afrika ini berasal dari negara-negara miskin seperti Togo, Madagascar, Burkina Faso, Rwanda, dsb yang jumlah pastor-nya telah lebih dari cukup atau gereja memang tidak mampu membayar mereka. Negara-negara lain yang menyumbang banyak pastor imigran ke Prancis adalah Asia: Korea, Vietnam, dan India.

Kondisi yang lebih menyedihkan adalah daerah pedesaan di Prancis. Karena banyak keluarga yang pindah ke kota besar seperti Paris, akibatnya populasi kota kecil menurun. Gereja-gereja gotik nan indah yang berada di sana kebanyakan berakhir menjadi objek wisata, karena sulitnya mencari pastor, dan sedemikian sedikitnya orang yang hadir di gereja. Kalau pun ada, kebanyakan adalah kaum tua. Dari sekitar 42 juta-an kaum Katholik di Prancis, mungkin hanya 2 jutaan yang reguler ke gereja.

Bukan musim dingin yang buruk di Prancis yang membuat Ruhatijuli kangen tanah air, tetapi kegairahan di gereja. Di Rwanda gereja selalu penuh dan bersemangat, sementara di Dijon dan kota-kota lain di Prancis hanya segelintir orang yang datang menghadiri misa. Itupun kebanyakan orang yang sudah beruban.

Kalangan gereja Prancis tak kurang-kurang membuat sosialisasi kebutuhan akan pastor muda, namun sambutan kaum muda Prancis tidak hangat. Seorang eksekutif periklanan yang bertugas membuat sosialisasi ini menyatakan:”Orang berpikir bahwa para pendeta itu berada di luar kehidupan masyarakat. Tantangan terbesarku adalah menyampaikan bahwa gereja itu modern dan untuk siapa saja.” Bahkan kalaupun promosi ini berhasil, butuh waktu sekurangnya 7 tahun untuk bisa menjadi seorang pastor penuh. Artinya, Prancis akan mengalami kritis kekurangan pendeta di tahun-tahun mendatang.

Ruhatijuli dari Dijon punya versi yang berbeda, menyikapi lemahnya animo kaum muda Prancis untuk menjadi pendeta. Menurut Pastor Ruhatijuli, persoalan selibat (ketentuan tidak menikah) sangat membebani perekrutan kaum muda ini.”Kaum muda menginginkan kemerdekaan, kebebasan penuh. Mereka tidak mau tahu hal-hal yang dilarang.”

Sinyalemen Pastor Ruhatijuli ini bersifat universal, bukan semata domain orang Katholik. Orang muda memang seperti itu, suka menurutkan hawa nafsu dan tidak berpikir panjang dalam membuat keputusan. Tidak mengherankan bila kondisi lemahnya keimanan orang muda justru terjadi di wilayah yang dianggap maju. Pragmatisme, apriori, hingga ketidak yakinan pada dogma mewarnai sikap kaum muda yang menganggap dirinya modern.

Rasulullah pernah bersabda, bahwa pada suatu masa jumlah kaumnya akan banyak sekali, tetapi tidak lebih seperti busa ombak di laut. Mudah pecah, mudah hilang, dan tidak membekas. Bila sudah seperti itu, jangan heran bila kondisi di Prancis akan juga terjadi di belahan bumi yang mayoritas beragama Islam seperti Indonesia.

Tulang punggung kebangkitan agama adalah para pemudanya. Pemuda yang sehat jasmani dan rohani akan membuat agama menjadi kokoh. Rasulullah SAW menekankan pentingnya pengolahan fisik di samping bimbingan mental bagi kaum muda. Bila pemuda sudah tidak tertarik mendalami agama, hanya bergelut pada masalah-masalah dunia, maka agama yang memayungi bangsa itu ibarat atap tanpa sokoguru yang kokoh. Cepat atau lambat akan tumbang sekalipun tidak ada badai.

Untuk mendeteksi kekuatan sokoguru tersebut, cara paling mudah adalah menghitung anak muda yang sholat subuh secara reguler di masjid. Semakin banyak anak muda yang berjamaah subuh, kekuatan Islam di negara itu semakin mengagumkan. Bila yang selalu berjamaah subuh hanya orang-orang tua, bisa diprediksi betapa rapuh sokoguru itu.

Konon, pasukan militan semacam HAMAS di wilayah Palestina selalu dipilih dari anak-anak muda yang reguler berjamaan subuh di masjid. Para pencari bakat ini disebar ke berbagai masjid untuk memantau kehadiran anak-anak muda yang cinta pada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya pada diri sendiri. Tak mengherankan, bila kemudian HAMAS menjadi kekuatan politik dan perlawanan yang menakutkan bagi Israel dan Amerika Serikat. Jihad menjadi bagian dari penghayatan pada agama dan kemaslahatan bangsa, sehingga mati di ujung peluru musuh bukan hal yang besar bagi mereka – karena mereka meyakini sekali life after death yang dijanjikan Allah.

pendidikan dan pembinaan sejak dini

Memupuk semangat ke-Islaman di kalangan muda tidak pernah menjadi issue yang mudah.   Pola pendidikan sekuler, konsumsi acara teve yang kronis, kegiatan antar pemuda yang tidak jelas, saling mendukung pelemahan generasi muda Islam. Contoh paling konkret adalah, betapa susahnya membangunkan anak, adik, atau bahkan mungkin diri kita untuk menjalankan sholat subuh. Kalaupun bisa bangun, betapa susahnya melangkah kaki ke masjid – sementara cuaca masih basah dan dingin. Kalau pun bisa berjamaah, betapa sulitnya duduk sebentar di majelis taklim ba’da Subuh.

Sebaliknya, bila keliru menerapkan bimbingan, yang terjadi justru militansi. Mereka bisa menjadi armada fanatik yang sangar dan tidak mencerminkan nilai Islam yang santun dan rahmatan lil alamin. Alih-alih berjihad dengan benar, mereka justru menjadi alat empuk teroris yang mengatas namakan Islam, menjadi bom bunuh diri tanpa alasan jelas.

Kita masih di persimpangan. Akan tetapi, bila kita meyakini arah perjuangan penegakan agama ini di bumi Pancasila, insyaallah kita tidak akan tersesat. Apalagi, Rasulullah dengan tegas mewasiatkan dua hal yakni Qur’an dan hadist sebagai pegangan, dan itulah yang harus kita pakai untuk mendidik generasi muda Islam.

Semoga Allah memberikan pencerahan bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: