Makna Piala Dunia Bagi Sebuah Bangsa

Herdian Zulkarnain

Perhelatan Piala Dunia 2010 telah usai dengan juara baru SPANYOL. Inilah generasi emas Spanyol. Negara satu ini memang unik, karena dalam sejarah sepak bolanya yang panjang, dan dikenal luas sebagai salah satu negara bola terbaik di dunia, baru pertama kali ini bisa menembus final dan juara. Dengan 2 kesebelasan utama Spanyol yakni Barcelona dan Real Madrid sebagai tulang punggung kesebelasan nasional, sejak pertama kali digulirkan di era 1930-an semua talenta pemain-pemain muda Spanyol yang eksplosif seperti tidak bisa banyak bicara di kancah piala dunia … hingga tahun ini.

Spain - 2010 World Cup Champion

Bukan hanya sebuah sejarah, bahkan sekurangnya 3 sejarah diukir oleh Spanyol saat memenangkan piala dunia 2010 ini:

  1. Juara baru – kali pertama dalam sejarah mereka menjadi juara. Uniknya, kedua finalis (Spanyol dan Belanda) berebut menjadi juara baru untuk kali pertama. Eropa yang agak diremehkan di awal kompetisi, dan terkurung kekuatan Amerika Latin, justru akhirnya menghadirkan all Europe final.
  2. Negara Eropa pertama yang bisa menjadi juara di benua lain. Ini mengejar rekor Brasil yang dua kali menjadi juara di benua lain (1958 di Swedia dan 2002 di Jepang).
  3. Mengawinkan Piala Eropa dan Piala Dunia dalam satu periode, menyusul Jerman (yang saat itu Jerman Barat di tahun 1972 dan 1974) dan Prancis (1998 dan 2000).

Serta sebuah mitos dipatahkan, yakni juara piala dunia tidak pernah kalah di fase penyisihan group. Spanyol pernah kalah di fase group dari Swiss, tetapi mereka bangkit dan bermain lugas hingga ke final.

Carlos Puyol - semi final hero

Lebih besar daripada itu, Piala Dunia 2010 yang merupakan pertaruhan terbesar

pelatih Vincente Del Bosque telah mempersatukan jiwa Catalunia ke dalam Spanyol. Komposisi timnas Spanyol tahun ini didominasi punggawa El Barca kebanggaan masyarakat Catalunia yang selama ini selalu ingin memerdekakan diri dari Spanyol. Selama ini, masyarakat Spanyol selalu mengkambing hitamkan orang-orang Catalan dalam timnas bila Spanyol gagal. Menurut mereka, orang-orang Catalan tidak pernah serius dalam membela timnas, sehingga selalu gagal. Padahal kurang apik apa Spanyol selama ini?

Dua pertandingan terakhir Spanyol di ajang piala dunia yakni semi final dan final

Andres Iniesta - final hero

menempatkan orang Catalunia sebagai pahlawan. Dalam semi final, bek timnas Spanyol yang juga punggawa Barcelona Carlos Puyol menceploskan gol penentu ke gawang Jerman, 10 menit sebelum bubaran. Dalam final, lagi-lagi punggawa El Barca – kali ini Andres Iniesta – yang mencetak gol penentu ke gawan Belanda. Dua punggawa Catalunia, dua gol penentu, sebuah sejarah baru negara berbudaya sepak bola.

Kendati pun Jerman tidak masuk final, bangsa yang juga disegani dalam persepak bolaan itu menganugerahkan bintang jasa pada pelatih Timnas Joachim Lowe karena telah meletakkan fondasi bagi masa depan persepak bolaan Jerman. Bukan hanya sang pelatih, seluruh anggota timnas juga dianugerahi medali kebangsaan karena telah menjadi duta olah raga bagi bangsa Jerman. Memang, Jerman kalah di perempat final dari sang juara, namun siapapun akan membicarakan tim muda bangsa ini dengan kekaguman.

Bagaimana tidak? Dengan berbekal pemain-pemain di awal dan pertengah usia 20-an (kecuali 2 pilar inti dan 3 cadangan), serta rata-rata hanya bermain di Bundes Liga, pasukan Joachim Lowe ini menggulung tim favorit Inggris 4 – 1 dan Argentina 4 – 0. Gaya permainan mereka yang bisa bertahan dengan ketat namun menyerang balik dengan cepat membuat lawan mereka harus menemukan formula penangkal dengan cermat.

Jerman sudah berbenah sejak Piala Dunia 2006 (saat itu dilatih Jurgen Klinsmann, dan selesai di peringkat ke-3 juga), dengan menemukan dan memanfaatkan talenta-talenta muda yang berbakat, baik asli bangsa Jerman maupun hasil asimilasi. Podolski, Klose, Cacau, Ozil, Boateng dan Khedira adalah sedikit contoh dari pemain Jerman yang lahir dari orang tua imigran atau merupakan hasil naturalisasi. Prancis sudah lebih dulu menerapkan hal ini dan mereka telah menikmati hasilnya dengan memenangkan Piala Dunia 98 serta Euro 2000. Sejak dulu, Prancis memang terbiasa dengan asimilasi dan naturalisasi karena terletak di persimpangan Eropa Barat, Semenanjung Iberia, Mediterania, dan Afrika Utara. Terakhir Prancis masih bisa menjadi runner up di Piala Dunia 2006 – di penghujung karier generasi emasnya – sebelum terjebak dalam kekacauan di bawah pelatih Raymond Domenech sejak Euro 2008.

Khedira (Tunisia) - Ozil (Turki) - Boateng (Ghana)

Negara-negara besar seperti Inggris dan Italia pasti juga punya, namun sejauh ini hampir tidak ada pemain yang bukan asli Inggris atau Italia dimainkan oleh kedua negara tersebut. Selain Spanyol, kedua negara ini memiliki kompetisi liga nasional yang sangat disegani, karena hampir selalu menelurkan tim juara Champions League. Berbeda dengan Spanyol yang kuat dalam pengkaderan pemain muda melalui tim junior Barcelona maupun Real Madrid, regenerasi di Inggris dan Italia terbilang sangat lamban. Masih untung Italia bisa merengkuh juara dunia untuk ke-4 kalinya tahun 2006, tapi tahun ini Italia gagal total. Sementara itu, Inggris yang dihuni banyak pemain tua masih tetap berharap football coming home… karena mereka meyakini sepak bola diciptakan di Inggris dan sudah seharusnya pulang ke Inggris dalam bentuk trofi Piala Dunia. Masalahnya, bagaimana mereka bisa jadi juara kalau tidak punya pemain pelapis yang handal?

Ada perbedaan mendasar antara kompetisi liga utama di Spanyol, Italia, Inggris, dan Jerman. Di Spanyol, memang banyak pemain asing bahkan pemain-pemain termahal di dunia, namun di tiap kesebelasan selalu ada pemain muda Spanyol yang bersinar dan diperhitungkan. Di Jerman, hanya Bayern Munchen yang berani mengontrak pemain mahal, selebihnya adalah pemain Jerman atau pemain asing yang “masih” belum diperhitungkan – dan sekarang mencorong di ajang piala dunia. Di Inggris dan Italia, tidak ada aturan jelas tentang penggunaan pemain asing, sehingga Arsenal (Inggris) dan Inter Milan (Italia) bisa memasang hampir semua pemain asing di tiap pertandingan. Aura pemain asing ini menutup potensi pemain lokal.

Semua negara yang menginginkan sepak bola mengangkat derajat bangsa mereka telah berbenah, atau akan ketinggalan semakin jauh. Asia sudah menggeliat dan diperhitungkan. Bagaimana dengan Indonesia?

Tampaknya, hingga sekarang PSSI belum punya konsep yang jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: