Untung Ada Ariel dan Piala Dunia

Catatan Akhir Juni

TDL Naik nggak akan byar pet?

Tanggal 1 Juli ini TDL naik, khususnya bagi yang memasang listrik dengan daya 1300 watt ke atas. Tampaknya cukup lancar, dengan sedikit saja demo sporadis di sana-sini, komentar beberapa pengamat di televisi (itupun kadang kala). Ada yang mencoba demo di dekat simbol pemerintahan – yakni istana negara – tetapi tidak signifikan. Secara umum, nyaris tanpa hambatan.

Rasanya pemerintah sudah hafal dengan gejolak massa sesaat setiap kali ada kenaikan tarif yang akan ditetapkan, sehingga rasanya tidak aneh bila awal Juli menjadi tanggal yang dipilih. Siapapun tahu, Juni – Juli adalah bulannya piala dunia. Penyisihan sudah dilakukan jauh hari, dan euforia di kota-kota besar terasa. Setidaknya, ini cukup menyibukkan pikiran mereka menjelang detik kenaikan TDL.

Seperti berkah terselubung, tiba-tiba kasus video porno mirip Ariel-Luna-Cut Tari meledak (atau dibuat meledak). Popularitasnya mengalahkan kasus Gayus yang diduga punya kekayaan di atas 100M. Bahkan orang tidak lagi tertarik pada temuan baru keterlibatan atasan Gayus di instansinya. Orang tidak lagi meributkan Bank Century, dan yang digambari taring vampir bukan lagi Pak Budiono dan Bu Sri Mulyani, melainkan Ariel.

Mereka penggemar bola asyik dengan semua prediksi dan progres team kesayangan di piala dunia, penggemar gosip dimanjakan dengan informasi simpang siur dan spekulasi tentang Ariel.

Apa sebenarnya esensi kasus video mesum “pelaku yang mirip” Ariel-Luna-Cut Tari? Bahkan sekalipun benar-benar mereka yang yang menjadi pelakunya, so what? Tidak penting amat. Kalau dibiarkan saja, sebenarnya kasus ini lewat saja, tetapi karena blow up media dan penyebaran via HP yang intens, seolah-olah hal ini adalah kasus penting. Di mana pentingnya? Tidak ada. Tidak berpengaruh pada inflasi, tidak berpengaruh pada angka pengangguran, pada demokrasi, dan semacamnya.

Berpengaruh pada aspek moral? Mungkin ada, tetapi tidak signifikan, kecuali mungkin pada penggemar mereka saja. Yang meresahkan bukan bagaimana mereka mempermalukan diri sendiri, tetapi kelakuan penyebar rekaman ini ke khalayak via internet dan penjualan bebas di lapak kaki lima. Tanpa kasus ini, di internet dan lapak kaki lima video porno sudah banyak, media massa lah yang semakin melariskan mereka saja.

Kalau melihat liputan kasus video mesum mirip artis ini, sebenarnya rasanya sudah eneg. Tidak ada perkembangan yang signifikan, namun infotainment berusaha keras agar tidak kehilangan mata rantai kasus, sehingga apapun gerak di tempat penahanan Ariel selalu ada beritanya.

Dengan semua kesibukan media tersebut, tanpa terasa bulan Juni telah berlalu. Saat piala dunia sudah tidak seseru babak-babak awal, saat orang mulai menganggap kasus Ariel tidak lagi panas, mendadak sebuah edisi majalah TEMPO menghilang. Kebetulan issue utamanya adalah mengenai rekening gendut jendral POLRI, dan mendadak ada pihak yang berusaha menghilangkan edisi ini dari pasaran.

Tentu saja hanya orang bodoh yang berusaha menghilangkan edisi majalah dari surat kabar. Dan, rasanya kecil kemungkinan tindakan tersebut dilakukan oleh POLRI. Kalau dibiarkan saja, mungkin orang tidak tertarik. Tetapi, setelah ada upaya pemborongan majalah tersebut, justru orang jadi sangat tertarik. Sekarang, mata massa berpindah pada rekening gendut jendral POLRI ini — lagi-lagu teralihdari kenaikan TDL.

Brilian!

2 Responses to “Untung Ada Ariel dan Piala Dunia”

  1. hahaha,,,jadi nyambung ke masalah TDL ya…salam hangat,,,

  2. Hi Guy, this good blogs, thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: