Berjuang tanpa Minder

Catatan Piala Dunia 2010

Jepang dan Asia kalah di 16 besar, dan Asia lagi-lagi tanpa wakil di lanjutan putaran final Piala Dunia. Perempat final akan diisi mayoritas wajah lama dalam persepak bolaan dunia: Brasil, Jerman, Argentina, Belanda, Spanyol, Uruguay, dan 2 muka baru: Paraguay dan Ghana. TAPI … Jepang boleh pulang dengan kepala tegak.

Permainan Jepang di babak 16 besar sungguh setaraf dengan Paraguay, seimbang, dan tidak kenal menyerah. Lini per lini Paraguay unggul, tetapi semangat Jepang membuat permainan Paraguay tidak berkembang. Sekalipun rata-rata ukuran fisik kalah, pemain Jepang berani berjibaku untuk memenangkan bola. Sehingga, permainan harus diakhiri dengan tendangan penalti. Kekalahan melalui penalti memang menyakitkan, namun itulah cara untuk pulang dengan kepala tegak. Kalah beruntung, kalah tenang, dan esok masih terbuka lebar.

Taeguk warriors Korea Selatan juga harus pulang, tetapi Park Ji Sung dan kawan-kawan mendapatkan pelajaran berharga. Di fase group, Korsel sempat bertekuk lutut di tangan Argentina dengan telak, tidak sekedar selisih 1 atau 2 gol. Memang kalah! Penguasaan bola buruk, tidak punya rasa percaya diri, sehingga selalu kalah dalam perebutan bola. Berapa keras pun mereka berusaha, mereka seperti membentur dinding, karena Argentina sedemikian percaya diri dan menguasai permainan.

Beberapa hari kemudian, giliran Jepang yang bertemu dengan Belanda, dan kondisinya sangat berbeda. Jepang bermain taktis dan penuh percaya diri, tidak menganggap team Belanda yang bertabur bintang-bintang Piala Champions Eropa sebagai raksasa yang perlu ditakuti. Saya jadi ingat salah satu filosofi Karate bahwa, pertahanan yang baik adalah serangan yang kuat. Belanda adalah negara dengan kultur sepak bola yang kental, dan telah menelurkan banyak sekali ksatria lapangan hijau yang baik. Dan, memang itulah yang akhirnya menjadi pembeda. Belanda menang 1 – 0 saja karena tendangan keras gelandang serangnya Wesley Sneijder.

Semangat Jepang inilah yang saya kira menginspirasi Korsel, sehingga mereka main luar biasa di pertandingan-pertandingan selanjutnya. Dengan semangat itu, pada akhirnya tidak mudah membuat prediksi akhir pertandingan, karena ternyata team-team yang tidak diunggulkan bisa menjungkalkan raksasa sepak bola. Itu terbukti dengan gagalnya Itali dan Prancis – di luar kenyataan bahwa mereka punya masalah internal dalam team nasional.

Kalah menang memang hal biasa dalam permainan sepakbola, tetapi bermain dengan trengginas dan percaya diri akan memberikan semangat bagi yang menonton juga. Semangat Jepang tidak hanya menginspirasi team besutan pelatih lokal itu, bahkan menambah rasa percaya diri team underdog lainnya.

Setelah semua team asal benua hitam tersingkir, tinggal Ghana yang bertahan dan mendampingi Jerman lolos ke babak 16 besar. Melawan team yang sama-sama belum lama muncul di piala dunia – Amerika Serikat, Ghana bermain dengan sangat baik, sehingga masuk ke babak 8 besar.

Selandia Baru adalah anak bawang dalam kancah Piala Dunia, dan tahun ini tidak lolos fase group. Akan tetapi, rakyat Selandia Baru akan menyambut kesebelasan kebanggaan negeri Kiwi itu bak pahlawan karena mereka berada di atas Italia dengan nilai 3, dari 3 kali pertandingan tanpa pernah kalah. Sementara Italia kalah di pertandingan terakhir.

Negara-negara besar di dunia sepakbola secara bergantian selalu mengulangi prestasi di turnamen terbesar ini, sementara team-team debutan akan menjadi kuda hitam bila lolos ke babak knock-out, seperti Ghana, Jepang, dan Korsel. Mereka menjadi kuda hitam karena tidak berasal dari negara dengan kultur sepakbola yang mengakar.

Bagaimana dengan sepakbola Indonesia?

Bahkan di Asia Tenggara, Indonesia sudah kewalahan. Belakangan ini PSSI tidak lagi punya taring di Asia Tenggara, karena dengan Vietnam pun sudah hampir pasti kalah. Apalagi dengan Thailand. Lalu, mau di bawa kemana persepak bolaan Indonesia? Menjadi penonton abadi event internasional? (karena tidak pernah lolos penyisihan wilayah). Bahkan lebih sadis lagi, sebagian pengamat sepakbola menyebut sepakbola kita sedang berada di titik nadir prestasi.

Kompetisi sepakbola di Indonesia berjalan, bahkan dengan bangga merekrut pemain asing (yang tidak jelas juga prestasi di negaranya sendiri). Akan tetapi, hal itu tidak menjadi jaminan prestasi PSSI ke depan, karena yang menonjol dari ajang kompetisi itu adalah perkelahiannya. Baik perkelahian antar supporter maupun antar pemain. Wasit yang tidak tegas, pendisiplinan yang terasa janggal, dan banyak kontroversi lainnya.

Pengurus PSSI seperti sibuk dengan dirinya sendiri. Kursi pejabat teras PSSI tampak sangat nyaman, sehingga ada yang duduk di jabatan penting selama bertahun-tahun (dan tidak pernah bosan). Kalau bukan lantaran duit besar, rasanya tidak mungkin ada yang bercokol selama itu. Bahkan dengan kegagalan demi kegagalan yang terus menerus menimpa, masih tersisa sesumbar: Kalau PSSI tidak jadi juara SEA Games tahun depan, dia akan mundur.

Well … kita tunggu saja komitmen beliau.

Sementara itu, mungkin … kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah memang sulit menemukan 11 orang terbaik dalam sepak bola di antara 200 juta lebih penduduk negeri ini? Yang siap berlaga di Olimpiade atau Piala Dunia? Di antara negara berpenduduk terbesar di dunia, India dan Indonesia yang belum pernah masuk putaran final. Mengapa ya?

Kita sudah pernah punya program khusus pembibitan seperti Primavera dan Baretti, yakni dengan mengirimkan bibit-bibit muda pilihan ke negara sepak bola. Dari sana kita kenal nama-nama Kurniawan Dwi Yulianto dan kiper Kurnia Sandy. Terakhir sekali ke Uruguay. Semua proyek tersebut tidak berakhir dengan manis.

Proyek terakhir yang akan digulirkan mulai Juli nanti adalah IFA (Indonesia Football Academy) yang bermarkas di Sawangan, dengan cara melatih bibit-bibit muda di usia 14 – 16 tahun secara intensif selama 3 tahun. Pelatihnya pun tidak main-main, yakni seorang pelatih dari Manchester United Academy. 25 anak disaring dan dilatih selama 3 tahun, dengan pembiayaan negara, meliputi sekolah, biaya hidup, dan transportasi. Proyek yang ambisius namun positif … menurut saya.

Kata Ketum PSSI, orang Indonesia fisik orang Indonesia secara umum kurang ideal untuk persepak bolaan internasional. Itulah sebabnya, rintisan pertama akademi sepakbola tersebut akan berintikan anak-anak remaja bertinggi minimal 170 cam, dan selama bersekolah di akademi akan memperoleh gizi terbaik. Saya membayangkan, anak-anak Indonesia akan setinggi bintang Eropa. Rooney yang kelihatan pendek saja tingginya sekitar 185 cm. Rio Ferdinand sekitar 195 cm. Jadi … berapa tinggi Van Der Sar ya? Bila pasukan merah putih rata-rata setinggi 185 saja, mantap sekali.

Sebuah langkah yang baik, dan mudah-mudahan tidak sia-sia. Mari kita optimis!

Di sisi lain, bintang sepak bola tidak selalu tinggi, khususnya dari Amerika Latin: Pele, Maradona, Robinho … adalah contohnya. Dua diktator dunia yang terkenal juga pendek: Napoleon Bonaparte dan Adolf Hitler. Mungkin bukan hanya fisik yang dgembleng, mentalitas juga perlu diasah, karena minder bukan soal fisik tapi mental.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: