DENSUS 88 – Detasemen Yin-Yang

Majalah TIME edisi 7 Juni 2010 menurunkan feature lengkap tentang kesatuan anti teror milik Indonesia ini. Kalau sekedar menjadi berita, mungkin tidak mengherankan karena prestasi kesatuan ini terbilang spektakuler, karena berhasil mengikis perkembangan terorisme di Indonesia.

Akar penting kelahiran Densus adalah reformasi yang bergulir di tahun 1998, yang menggulingkan rezim Suharto dan menjadikan Indonesia negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Parlemen yang khawatir pada kekuatan militer yang bisa dipergunakan oleh eksekutif untuk melindungi kepentingannya, memutuskan untuk menugasi kepolisian sebagai unit anti teror nasional. Undang-undang subversi sudah dihapuskan, karena dianggap menyokong potensi kediktatoran, sehingga pemerintah tidak bisa menerapkan undang-undang seperti ISA (internal security act) di Malaysia, dan harus membawa tersangka terorisme melalui jalur pengadilan biasa. Di dalam sistem ini, orang tidak bisa sembarangan ditangkap tanpa tuduhan.

Kelahiran Detasemen 88 lahir setahun setelah kasus bom bali. Kengerian dan keganasan kejadian itu menyadarkan semua elemen bangsa bahwa ekstrimisme telah lahir dan berkembang di Indonesia. Kelahiran kesauan ini tidak lepas pula dari kepentingan pemerintah Amerika dan Australia, dan keduanya memberikan sokongan. Bahkan majalah Time berani menyebutkan Densus 88 sebagai American-trained police unit.

Indonesia memiliki keunikan geografi dan demografi, berpenduduk ke-4 terbesar di dunia, negara kepulauan dengan lebih dari 13,000 pulau yang menyebar sepanjang lebih dari 5,000 km garis bujur, mayoritas muslim tetapi bukan negara Islam, dan hukum yang diberlakukan adalah hukum sekuler. Bisa dibayangkan sulitnya pengawasan terhadap pergerakan potensi terorisme di sini, sehingga Polri harus menemukan format penanganan terorisme yang tepat melalui Densus 88 ini. Rupanya, Polri berhasil menemukan format yang paling tepat. Sekarang, Densus 88 telah menjelma menjadi salah satu kesatuan polisi anti teror terbaik di dunia, dan itu diakui oleh seorang mantan pelatihnya:”I’ve trained guys all over the world, and this unit is one of the best I’ve ever seen.” KITA PANTAS BANGGA!

Dari liputan TIME: Latihan Kadet Densus 88 di Semarang

Apa kunci kesuksesan Densus 88 tersebut?

Densus 88 bukan sekedar mesin penembak. Di tengah-tengah kaum muslim yang menjadi mayoritas di Indonesiacracking down on terrorism isn’t just about cracking heads (kiasan: memecahkan masalah terorisme bukan sekedar memecahkan kepala teroris). Mungkin yang sering kita lihat dan dengar melalui media televisi adalah Densus 88 yang sedang unjuk kekuatan saat menyerbu sarang ekstrimis dan teroris, tetapi itu pada kenyataannya hanyalah bagian kecil dari banyak tugas Densus. Kalau Densus 88 hanya difungsikan sebagai mesin tembak, bisa dibayangkan kerepotannya mengatasi bibit-bibit baru terorisme di Indonesia, karena luasnya wilayah cakupan dan teramat sedikitnya personil Densus.

Kebanyakan dari kita tidak tahu, bahwa tugas lain dari Densus 88 adalah program de-radikalisasi. Di antara personil Densus, ada yang bertugas menjadi konselor atau penasihat spiritual, dengan pekerjaan meyakinkan para militan kesesatan cara berpikir mereka. Program ini berhasil, sehingga beberapa orang tersangka teroris sekarang bekerja sama dengan polisi dalam program-program yang menjangkau masyarakat di pelosok.

Prof. Sarlito Wirawan Sarwono yang menjadi instruktur personil Densus dalam hal taktik interogasi berkata kepada TIME: “Anda ingin tahu kenapa Indonesia mencapai keberhasilan dalam memerangi terorisme? Karena kami tidak punya penjara Guantanamo. Polisi kami memahami aspek kejiwaan teroris. Negara lain dapat belajar dari apa yang telah kami perbuat.”

Sidney Jones, pakar dari International Crisis Group yang mendalami teror di Indonesia mengatakan:”Kebijakan Densus 88 adalah menganggap tersangka teroris sebagai orang baik yang sedang tersesat. Ketika sepenuhnya berada dalam tahanan kepolisian, mereka diperlakukan dengan sangat baik untuk mendapatkan informasi tentang jaringan teror.” Pemerintah memang mengambil kebijakan yang sangat kontroversial untuk menekan meningkatnya pergerakan politis Islam militan, yaitu: tidak menganggap teroris sebagai kriminal kambuhan, melainkan orang yang sedang kebingungan dalam menetapkan ideologinya.

Selama sesi interogasi, personil Densus yang mayoritas muslim mengijinkan tahanan untuk sholat, bahkan seringkali berjamaah dengan mereka. Personil Densus juga selalu menegur sapa para tahanan dalam bahasa Arab bukan bahasa Indonesia. Bukan itu saja, para alim ulama didatangkan oleh Densus untuk berdiskusi tentang ajaran Al-Qur’an dengan para tahanan. Prof. Muchlis Hanafi, seorang pakar lulusan Al-Azhar Kairo mengatakan:”Banyak dari para teroris ini telah diajari kutipan ayat Qur’an yang berfokus pada jihad, tanpa memahami konteks surat-surat tersebut.

Jerih payah dan kesabaran Densus 88 dalam menangani tersangka dengan cara khusus sudah membuah hasil sekarang ini. Dari 400 lebih tersangka teroris, Polri memperkirakan sekitar setengahnya bekerja sama dengan pihak berwenang atau menjauhi kekerasan. Kompensasi untuk kerjasama atau menjauhi kekerasan itu terkadang sederhana (saat mereka berada dalam penjara): Ada yang menginginkan negara membiayai sekolah anaknya, pekerjaan bagi istri mereka, atau bahkan pernikahan di penjara yang dibiayai pemerintah.

Pekerjaan Densus memang tidak selalu berhasil, misalnya dua orang militan yang terkait dengan bom Ritz-Carlton – JW Marriot ternyata pernah mengikuti program deradikalisasi Densus 88. Pendiri dan aktivis Institute of International Peace Building Noor Huda Ismail berkata:” Kita harus memberikan pengharagaan kepada Densus 88 untuk sukses mereka menangkal jaringan teror Indonesia. Tapi satu unit tidak akan bisa melakukan semuanya, meskipun mereka mencoba melakukan segalanya: mencegah menangkal teroris, menangkap teroris, deradikalisasi teroris.”

Perjalanan memang belum selesai, tapi setidaknya kita tahu Indonesia telah memiliki andalan dalam penumpasan terorisme: Densus 88. Kesatuan yin – yang, yang bisa sekeras palu saat menghantam, tetapi selunak air saat melumpuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: