Membingkai Kebenaran

Herdian Zulkarnain

Siapa yang belakangan ini bisa mengatakan hal yang benar dan tidak? Media massa, khususnya televisi, membuat orang terengah-engah mengikuti arus informasi yang berputar cepat. Hal yang kemarin dianggap kebenaran absolut, sekarang berubah. Yang belum terlihat sebagai master mind kejahatan, ternyata tidak sebesar itu. Sekarang, semakin kabur kebenaran, dan kian tidak jelasnya cerita yang membingkainya, semakin suka pula lah media.

Kebenaran punya dua sisi, absolut dan nisbi. Sisi absolut kebenaran tidak menarik untuk dibahas, karena cepat atau lambat ia akan tampil dengan wajahnya sendiri. Tuhan itu ada dan melakukan penciptaan-penciptaan agung, itu kebenaran absolut. Orang atheis boleh membantah, boleh berteori lain, tetapi pada akhirnya konsep mereka hilang ditelan waktu. Di luar itu, semua kebenaran lainnya bersifat nisbi. Sekalipun kita bicara soal ilmu pasti alam. Artinya, benar menurut yang satu belum tentu benar menurut orang lain. Benar untuk sebuah kondisi, belum tentu untuk kondisi yang lain. Argumen untuk itu sudah berlangsung dari masa ke masa. Apa sebabnya? Karena kita – manusia ini – hanya dianugerahi kemampuan berpikir yang terbatas.

Untuk meyakinkan orang lain pada kebenaran nisbi yang dianut, orang harus membuat bingkai yang bagus. Dengan bingkai yang bagus, akan muncul asumsi tentang bagusnya nilai kebenaran yang dibingkai. Orang Islam meyakini keharaman minuman keras, karena mabuknya seseorang membuat dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya, dan tidak bisa mempertanggung jawabkan apapun yang dilakukannya. Banyak mudharat bagi orang yang mabuk. Tapi, bagaimana bila hanya minum sedikit? Kan tidak sampai mabuk. Bagaimana bila minuman kerasnya (misal wine) tidak diminum tetapi jadi salah satu bahan masakan? Kan alkoholnya menguap karena panas api. Bagaimana minum alkohol di negara 4 musim dan sedang ada badai salju? Kan untuk mempertahankan kehidupan.

Kita lihat, sebuah kebenaran yang diyakini seperti ini pun masih punya variabel yang membuatnya bisa diragukan. Apalagi kebenaran-kebenaran yang bersifat duniawi, hubungan sosial antar manusia, dan tidak menyentuh nilai-nilai agama.

Kasus Century adalah kasus keuangan yang terkait dengan masalah pidana. Dengan berbagai dalih, DPR mengangkatnya ke dalam koridor politik, sehingga mereka meyakini bahwa selain jalur hukum juga perlu diambil penyelesaian melalui jalur politik. Tarik ulur kepentingan terjadi, ada yang melunak, ada yang mengeras, dan ada yang secara konsisten keras dalam sikap ini. Perkembangan terakhir, DPR menghendaki diluncurkannya hak mengeluarkan pendapat kepada pemerintah.

Pemerintah tidak menanggapi dinamika di DPR secara frontal, tetapi kemudian malah membentuk sekretariat bersama antar partai pendukung pemerintah, dengan primadona terbaru Golkar sebagai kartu as. Dengan dukungan Golkar, komposisi aliansi pendukung pemerintah di DPR menjadi sangat dominan. Bisa diduga, mosi sebagian anggota DPR untuk munculnya hal mengeluarkan pendapat membentur dinding batu. Belakangan, muncul kabar bahwa DPR menyerahkan kasus Bank Century hanya melalui jalur hukum.

DPR memiliki kebenaran yang diyakini tentang kasus Century (yaitu kasus ini bermuatan hukum dan politik), dan dibingkai dengan berbagai pembenaran versi DPR. Di pihak lain, pemerintah juga punya kebenaran yang diyakini (bahwa kasus ini adalah kasus hukum), yang berarti tidak sejalan dengan keyakinan DPR. Pemerintah berhasil membungkus kebenaran ini dengan bingkai yang taktis, dan dengan lihai berhasil mengotakkan kasus ini untuk diselesaikan di ranah hukum saja. Persoalan mungkin tidak akan selesai dengan mudah, karena masing-masing pihak akan saling mempertahankan apa yang mereka yakini kebenarannya.

Dalam lingkup yang lebih kecil, seorang rekan kerja dikenal punya relasi yang luas. Usahanya banyak, dan gampang sekali memperoleh rekanan kerja baru. Anehnya, dia tidak pernah bisa lama mengelola suatu bisnis. Selalu pada akhirnya selesai tanpa jelas arahnya. Baru ketahuan, orang ini telah membungkus inkompetensinya dengan bingkai kemampuan persuasi yang luar biasa. Sepandai-pandainya bingkai ini dibuat, pada akhirnya nilai kebenaran yang dibingkai akan berbicara.

Di sisi yang lain, membingkai kebenaran dibutuhkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Misalnya, bila hendak menyampaikan sebuah kebenaran – menegur orang tua kita sendiri agar mau bersedekah dan berzakat – tentunya tidak bisa seperti kita menegur anak kita. Ada cara yang lebih santun dan tidak menyakiti hatinya. Demikian pula menegur kolega kerja, teman sepermainan, pendek kata siapapun, termasuk istri atau suami kita. Menyampaikan kebenaran adalah sebuah hal penting, sementara membingkai kebenaran yang akan disampaikan tersebut bukanlah hal yang bisa diremehkan.

membingkai kebenaran dengan kehalusan kataAda kalanya, seseorang yang tidak pernah merasakan sakitnya ditegur atau dikritik melontarkan koreksi (yang merupakan bagian dari kebenaran) tanpa membungkusnya dengan layak, akibatnya bukan esensi kebenaran itu yang diterima orang lain – justru perasaan terhina yang timbul. Apakah orang yang melontarkan koreksi salah? Tentu saja tidak, karena memang sudah selayaknya ia mengoreksi karena itu bagian dari tugasnya. Apakah orang yang merasa terhina tadi keliru? Tidak bisa juga disebut demikian, karena hal itu bersifat manusiawi.

Komentar yang terucapkan dari orang yang dikoreksi adalah: “Apakah dia tidak pernah berorganisasi sebelumnya, sehingga arogan dengan ilmunya? Sekalipun ia punya kemampuan mengatakannya, janganlah seperti itu!”

Ya, kebenaran memang pahit bila ditelan begitu saja. Itulah sebabnya manusia diberikan akal untuk mengemasnya dengan cara yang manusiawi, agar manusia lain merasa dimanusiakan. Membingkai kebenaran adalah budaya, agar silaturahmi tidak cedera, agar proses lain bisa berjalan lebih mulus, agar sebuah idea lebih mudah diterima, dan seribu agar yang lain. Keberhasilan dakwah juga karena sang Da’i berhasil membingkai kebenaran agama dalam konteks yang dipahami massa, sebagaimana Sunan Kalijaga mengemas ajaran Islam dengan wayang kulit.

Semoga kita selalu menjadi orang yang sabar dan takwa, menempatkan kebenaran di level tertinggi namun bisa mengemasnya demi konteks hablum minannas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: