Ulama yang Alim Umara yang Amanah

Herdian Zulkarnain

Pada sebuah Jumat beberapa minggu lalu, saya mendapatkan sebuah bulletin Jumat yang menarik, mengupas tentang posisi ulama dalam interaksinya dengan umara’.

Dikisahkan, Imam Malik (179 H) diminta oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk berkunjung dan mengajarkan Hadits kepadanya. Imam Malik menolaknya dengan dalih, “Wahai Amirul Mukmini, ilmu itu didatangi, tidak mendatangi.” Di mata Imam Malik, sang Khalifah tidak bedanya dengan pencari ilmu lainnya, dan karena Harun Ar-Rasyid adalah penguasa yang adil ia pun bisa mengerti. Sang Khalifah bersedia untuk datang dan belajar kepada sang guru.

HAMKA ulama bernama harum

Hal lain yang menyebabkan Imam Malik menjaga jarak dengan penguasa adalah kemungkinan timbulnya fitnah. Sebagai sabda Rasulullah SAW: ”Barang siapa tinggal di padang pasir, ia kekeringan. Barang siapa mengikuti buruan, ia lalai. Dan barang siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia terkena fitnah.”(riwayat Ahmad).

Seorang guru dari kedua putra Harun Al-Rasyid yang bernama Isa bin Yunus, menolak pemberian uang 10 ribu dirham setelah sang guru tersebut mengajari mereka Hadits. Katanya: ”Hadits Rasulullah SAW tidak untuk mendapatkan apa-apa, walau hanya segelas air minum.”

Sebenarnya, para ulama tersebut bukan orang yang kaya materi, namun mereka sangat meyakini bahwa Dzat yang menciptakan mereka, yakni Allah SWT, akan memelihara mereka. Seorang Khalifah yang bernama Al Mustadhi’ memberikan uang 500 dinar kepada Al Anbari melalui seorang utusan. Al Anbari menolaknya. Karena tidak mungkin membawa uang tersebut pulang begitu saja, sang utusan kemudian mengatakan;

“Kalau engkau tidak mau, berikanlah harta ini kepada anakmu.”

Al Anbari justru berkata: ”Jika akau yang menciptakannya, maka akulah yang memberinya rizki.”

Maksudnya, Allah SWT sebagai pencipta alam dan seisinya ini telah mengatur rizki bagi anaknya, sehingga tidak perlu ia menerima uang itu dan menyerahkan pada anaknya.

Mengapa ulama sekeras itu pada penguasa, tak lain dikarenakan ketakutan akan dampak yang mungkin terjadi di masa mendatang. Bila bahaya fitnah sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW, hal lain yang mengancam adalah hilangnya wibawa ulama di mata penguasa. Akibatnya, ulama jadi segan bahkan tidak berani ber-amar ma’ruf nahi munkar bila sang umara melakukan kekeliruan.

Ada seorang ulama besar yang lahir di Damaskus tetapi menghabiskan masa tua hingga meninggal di Mesir, dan dikenal sebagai seorang ulama yang ditakuti penguasa negeri sekalipun. Namanya adalah Abdul Aziz bin Adissalam, tapi digelari Izzuddin (kemuliaan agama, sehingga beliau dikenal dengan nama Izzuddin Bin Abdissalam. Dia adalah seorang ulama yang punya pemikiran tajam dan luas, lurus hati, pemberani, dan hanya mendasarkan segala sesuatu pada Allah semata. Usahanya sedemikian keras untuk menjaga reputasi ulama pada masanya dan mengomandani para ulama untuk tidak takut ber’aar ma’rud nahi munkar, sehingga murid beliau Ibu Daqiq Al-Id menjuluki gurunya sultan semua ulama. Selama di Mesir beliau menjabat sebagai khatib masjid jami’ Amr bin Al Ash dan qadi kota Kairo.

Pada suatu hari raya, Syaikh Izzudin bin Abdissalam datang ke istana sekalipun tidak diundang. Beliau menyaksikan kemegahan, pasukan berbaris mengawal sultan, Najmuddin Ayyub, yang sedang berkunjung menemui para penghuni istana dengan pakaian mewahnya khas penguasa.

Dalam suasana khidmat seperti itu, Syaikh Izzudin Bin Abdissalam  mendatangi sang sultan dan berkata: “Wahai Ayyub, apa jawabanmu kelak ketika Allah mengatyakan kepadamu,’bukankah kau telah kuberi kekuasaan di Mesir, akan tetapi kau lantas menghalalkan khamr?”

Sang sultan berjawab dengan sang ulama, yang pada intinya khamr sudah ada di Kairo sejak masa ayah-ayah mereka, sehingga tidak mengherankan bila banyak kedai yang menjual minuman keras tersebut. Namun dengan ketegasan dan keteguhannya, sang ulama berhasil memaksa sang umara untuk menutup semua kedai penjual khamr di kota tersebut.

Kepada muridnya, Syaikh Abu Abdullah Muhammda An Nu’man, Syaikh Izzudin bin Abdissalam menjelaskan bagaimana dia bisa sedemikian asertif dan berani kepada penguasa: “Aku melihat pada dirinya telah ada perasaan bahwa dirinya terhormat, maka aku harus merendahkannya, agar kesombongannya tidak mencelakai dirinya sendiri,”

Syaikh Izzudin dihormati orang, mulai rakyat jelata hingga penguasa. Ada anggapan, bila sang Syaikh mengatakan untuk mengganti penguasa, maka tidak ada yang bisa menghentikan rakyat untuk mengangkat penguasa baru. Itulah sebabnya penguasa negeri sedemikian takut kepadanya.

Beberapa bulan menjelang wafatnya, sang Syaikh berselisih paham dengan penguasa negeri Sultan Dhahir Bebres akan suatu hal. Penguasa negeri mengambil sikap dan keputusan, tetapi ternyata menurut Syaikh Izzuddin hal tersebut tidak benar. Sang Syaikh telah berusaha mengingatkan, tetapi Sultan tidak bersedia mendengarkan sarannya. Syaikh Izzudin tidak berkata apa-apa lagi, tetapi ia menyuruh semua keluarganya untuk berkemas-kemas, karena mereka akan keluar Mesir kembali ke Syam.

Iman Khomeini, fatwanya meruntuhkan Shah Iran

Seorang pejabat menasihati Sang Sultan,”Bila Syaikh Izzuddin pergi meninggalkan Mesir, kekuasaan penguasa negeri sudah pasti akan selesai.” Dan Sultan pun berangkat sendiri untuk mencegak Syaikh Izzudin pergi. Syaikh Izzuddin bertahan di Mesir hingga akhirnya wafat di negeri itu.

Ketika ulama besar madzhab Syafi’i ini wafat, sang Sultan berkata,”Hari ini aku memegang tampuk kekuasaan, karena Syaikh ini. Jika beliau mengatakan kepada manusia,’jangan mentaati dia’ niscaya kekuasaan benar-benar lepas dariku.”

Ulama yang berpegang teguh pada tuntunan agama selalu memiliki kharisma yang tak akan lekang oleh apapun. Kharisma ini mendatangkan pengikut, dan pengikut yang besar serta militan bisa mengguncang kursi kekuasaan. Di dunia sekarang ini, rasanya hanya Republik Islam Iran yang masih menempatkan jajaran ulama lebih tinggi daripada umara. Sejak kerajaan Iran di bawah Shah Iran tumbang oleh gerakan Imam Khomeini, republik baru yang berdiri menempatkan ulama sebagai panutan utama, dan presiden yang direstui oleh dewan ulama ini.

Namun demikian, untuk menjadi ulama yang menjadi panutan apalagi mercusuar bangsa tidaklah mudah. Ulama yang berakar dari kata alim, bermakna orang yang berilmu, pandai, dan tempat bertanya. Namun demikian, seorang ulama tidak boleh sembarang berbicara, khususnya mengenai hal-hal yang terkait dengan agama.

Dalam mukadimah bukunya, Quraish Shihab menyebutkan bahwa bila tidak menguasai sesuatu hal, ada 3 kemungkinan yang akan dilakukan oleh orang tersebut: pertama berbohong (yang menjadi dosa besar – apalagi terkait dengan agama); kedua menduga-duga atau mengira-ngira (dan ini sangat tidak terpuji karena menyimpang dari firman Allah); atau langsung pada jawaban: saya tidak tahu.

Bahkan Rasulullah SAW selalu menunggu wahyu Allah bila menemui masalah yang belum pernah terjadi. Bahkan tidak jarang beliau mengatakan “saya tidak tahu”. Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah menyampaikan: “Yang paling berani berfatwa di antara kamu adalah yang paling berani terhadap neraka.”

Imam Malik berkata,”Ilmu agama itu hanya tiga, (1) ayat yang jelas, (2) sunah yang shahih, dan (3) ucapan “aku tidak tahu”.

Seorang ulama yang lurus hati, tanpa pamrih, dan bersandar pada kebenaran, tanpa takut pada manusia dan hanya tunduk kepada Allah, adalah orang yang bisa menjadi panutan. Semua kata-kata dari mulutnya bermuatan kebenaran – sekalipun sang ulama tidak menyebutnya sebagai fatwa. Wallahu a’lam bishawab.

Semoga Allah SWT senantiasa menerangi bumi pertiwi ini dengan para ulama yang menjunjung kebenaran dan umara yang amanah terhadap jabatannya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: