Menjadikan Keluarga sebagai Permata

Hari Sabtu minggu lalu, batita mungil penderita atresia bilier (saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal) Bilqis Anindya Passa harus berpulang, setelah sekitar 19 bulan berjuang untuk sembuh. Dalam tidur panjangnya itu, Bilqis yang benar-benar seperti tidur, kelihatan sangat kuning kehitaman. Bila nenek dan tantenya shock, beda dengan ibunya yang kelihatan pasrah.

Ada sebuah kata Dewi Farida (ibunda Bilqis) yang cukup mengesankan bagi saya, yaitu: mungkin ini yang terbaik bagi keluarga. Sekalipun buah hatinya yang telah diperjuangkan selama hampir seumur hidup anaknya itu toh akhirnya meninggal juga, Dewi Farida tidak menyesal dan tidak meratap. Katanya, ia telah berusaha dan memberikan semua pengobatan terbaik untuk almarhumah anaknya itu. Katanya, “Tanpa semua obat-obatan tersebut, mungkin usia Bilqis tidak sepanjang ini.”

Kecintaan orang tua pada anaknya seperti itu, yang secara medis telah divonis dokter sebagai penyakit terminal, kecuali memperoleh donor, atau cinta kepada anak yang menderita cacat mental (seperti cerebral palsy atau down syndrome) merupakan bentuk cinta tanpa bersyarat (unconditional love) yang sebenarnya. Tanpa logika dan penalaran, sebuah unconditional love bahkan berupa penyerahan jiwa untuk menyelamatkan jiwa orang yang disayanginya.

Daniel Goleman dalam bukun Emotional Intelligence mengilustrasikan kekuatan emosi berupa unconditional love. Dikisahkan terjadi kecelakaan kereta dan gerbong masuk ke dalam sungai. Di dalam kereta itu ada sepasang suami istri dan anak mereka yang menderita cerebral palsy. Kalau mau berusaha sendiri, keduanya bisa selamat seperti kebanyakan penumpang lain, tetapi mereka memilih untuk mencari anak mereka yang cacat mental yang tenggelam. Pada akhirnya anak pasangan itu selamat, namun pasangan ini meninggal.

Seharusnya demikianlah orang Islam memperlakukan anak-anak mereka, karena anak adalah titipan Yang Maha Kuasa, sekaligus aset yang sangat berharga. Anak adalah perhiasan, yang bisa memberikan kebahagiaan tak terperi namun sebaliknya bisa mendatangkan rasa was-was yang mendalam.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Rasulullah mencium cucunya Hasan. Di lain kisah, Rasulullah SAW membiarkan cucunya bermain kuda-kudaan dengannya padahal saat itu beliau sedang sujud. Ketika seseorang bertanya, Rasulullah hanya menjawab: orang yang tidak menyayangi tidak akan memperoleh kasih sayang.

AA Gym pernah berkata bahwa, bermain dengan anak adalah bagian dari pekerjaan yang penting. Itu untuk menepis anggapan bahwa sang ulama ini suka bermain dengan anaknya yang masih kecil hingga lupa waktu. Beliau memang meluangkan waktu untuk anak-anak, karena membesarkan mereka adalah tugas yang sangat penting.

Ini sangat ironis dengan berbagai pemberitaan kriminal yang menceritakan pengabaian orang tua pada anak-anaknya, pemukulan, bahkan yang paling keji adalah perkosaan dan pembunuhan. Seorang ibu yang membunuh anak-anaknya dengan alasan takut miskin, seorang ayah memperkosa anak gadisnya selama bertahun-tahun hingga punya anak, dan banyak kasus pemukulan yang dilaporkan maupun tidak. Anak tidak lagi dianggap sebagai aset dan titipan Allah, melainkan hak milik yang bisa diperlakukan seenaknya sendiri, dan kalau sudah begitu kesengsaraan saja yang akan dialami anak.

Terkadang orang tua lupa bahwa masa depan mereka tergantung pada cara mereka mendidik anak-anak mereka itu. Betapa banyak kita saksikan orang-orang lanjut usia yang menggelandang, mengemis di sepanjang jalan, atau hanya duduk menadahkan tangan menanti lemparan kepingan koin atau lembaran seribu rupiah. Sebagian lagi tinggal di panti-panti wredha (panti jompo), sekalipun anaknya adalah pengusaha yang tidak akan berat menanggung hidup seorang tua saja

Lebih banyak lagi adalah orang tua yang kesepian di usia senja mereka, merasa kosong ketika anak-anak mereka yang sukses keluar dari rumah untuk membentuk keluarga baru, sementara di rumah besar yang dulu ramai sekarang hanya ada pembantu. Atau anak-anak jadi tak akur dengan orang tua, anak-anak menjauh, dan hanya berkumpul (itupun tidak semua) saat lebaran atau bila orang tua sakit. . Di mana anak-anak mereka?

Anak-anak kita menjadi seperti apa kelak, tergantung bagaimana kita memperlakukan mereka sejak kecil. Tidak ada yang tiba-tiba terjadi. Anak yang dibesarkan tanpa respek, akan menjadi manusia tanpa respek – kepada sesama, orang tua, apalagi anak-anaknya. Anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, akan merasakan indahnya kasih sayang pada orang lain. Anak yang sejak kecil dianiaya, mungkin tumbuh menjadi individu yang lemah dan penakut, mungkin pendendam, atau bahkan beringas.

Kalau kita sudah terlanjur dibesarkan tidak dalam kondisi yang ideal, tidak layak pula kita mengeluh, karena mungkin orang tua kita memang bukan ahli agama atau paham urusan psikologi anak. Apapun yang terjadi pada diri kita adalah ujian, dan karenanya wajib bagi kita untuk berupaya sekuat tenaga agar lulus dari ujian tersebut. Kita tidak harus menjadi pendendam hanya karena sering dipukuli Ayah, tidak harus meniru cara penyelesaian orang tua yang bercerai daripada berkomunikasi, atau memukuli istri sebagaimana Ayah memukuli Ibu. Kita adalah kita, tidak ada kaitan dengan orang tua.

Suatu saat, Abdullah bis Mas’ud bertanya kepada Rasulullah SAW, hal apa saja yang disukai Allah. Rasulullah menyebutkan sekurang 3 hal utama: shalat pada waktunya, menghormati kedua orang tua, dan berjihad di jalan Allah. Orang tua kita mungkin dulu keliru, tetapi kita tidak layak mendendam, bahkan kita diperintahkan untuk menghormati mereka.

Keluarga yang kita bangun akan kembali pada diri kita sendiri. Anak-anak sholeh yang kita bina dan didik – sekalipun bukan darah daging kita sendiri, bisa memberikan penerang bagi kita di alam kubur. Generasi baru yang islami dan sholeh akan mengeluarkan kita – dan bangsa ini – dari keruwetan soal akhlak, sebagaimana yang sedang terjadi saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: