Industri Sepakbola Eropa, PSSI, dan Nasionalisme

Heboh dan sensasional! Itu yang dirasakan oleh pecinta sepakbola tiap tahun seiring dengan hadirnya liga para juara dari tiap negara di Eropa (UEFA Champions League). Babak 16 besar Liga Champion Eropa – yang dianggap sebagai liga para jawara terbaik dunia – telah selesai, dan akhir bulan ini babak 8 besar menjelang. Ada beberapa kejutan, namun muka lama masih berkibar.

Inggris – yang disebut mempunyai liga dalam negeri terhebat di dunia – menempatkan 2 kesebelasan: si setan merah Manchester United dan sang gudang meriam London Arsenal. Prestasi ini lebih buruk, karena selama 2 tahun terakhir Inggris bahkan bisa menempatkan 4 kesebelasan di perempat final.

Prancis secara mengejutkan menempatkan 2 wakil: Olympique Lyonnaise dan Girondins Bordeaux. Lyon secara dramatis membungkam Los Galacticos Real Madrid asal Spanyol. Tahun lalu tak staupun wakil mereka tampil di 8 besar.

Sisanya menyertakan hanya 1 wakil: Jerman menyertakan: Bayern Munich, Italia punya 1 wakil: Internazionale Milan, Spanyol diwakili: Barcelona, dan team kejutan asal Negeri Beruang Merah Russia: CSKA Moskow yang dulu dibentuk oleh militer Russia.

Dalam perempat final akhir bulan ini, undian UEFA sbb: Bayern Munich vs Manchester United, Barcelona vs Arsenal, CSKA Moscow vs Inter Milan, dan Bordeaux vs Lyon.

(Catatan: Bagi Spanyol dan Italia, prestasi tahun merosot. Liga Inggris, Spanyol, dan Italia merupakan liga utama dunia, oleh karenanya memperoleh jatah 4 kesebelasan untuk maju ke Liga Champion. Bahkan kabar terakhir, Italia hanya punya 1 wakil di semua kejuaraan Eropa.)

Liga-liga sepakbola Eropa selalu menjadi daya tarik bagi pesepak bola dari berbagai belahan dunia, karena menjanjikan kebesaran nama dan tentunya penghasilan yang bisa melimpah ruah. Seorang bintang bahkan dapat mencapai nilai transfer trilyunan rupiah. Ya, sepakbola telah menjadi sebuah industri hiburan – dan menempatkan para pemain bintang menjadi selebritis. Keberhasilan Eropa membuat sepakbola  menjadi ladang uang mengubah wajah cabang olah raga ini di seluruh dunia.

2009 world's best player ... who is 2010?

Untuk memenuhi unsur hiburan tadi, talenta terbaik dari berbagai belahan dunia pun “diperjual belikan” di bursa transfer internasional. Tentu saja, kelas pertama adalah Eropa, sehingga tidak mengherankan bila pemain sepakbola terbaik dunia selalu berasal dari salah satu kesebelasan di Eropa. Brasil adalah pengekspor pesepakbola terbesar di dunia, bahkan konon mencapai angka di atas 1000 orang – yang bermain di seluruh liga di dunia (termasuk liga Indonesia).

Tidak mengherankan, kesebelasan besar seperti Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Chelsea, Arsenal, dan kesebelasan besar lainnya dipenuhi bintang dari berbagai negara. Atas nama profesionalisme dan industri hiburan, tidak ada aturan yang jelas tentang komposisi pemain lokal dan import yang boleh dimainkan dalam sebuah pertandingan.

Setelah kemenangan dramatis Inter Milan atas Chelsea dalam laga penentuan 16 besar, dan membawa Inter Milan menjadi satu-satunya kesebelasan Italia yang maju ke perempat final, komentar pelatih team nasional Italia Marcello Lippi justru dingin dan tidak bersahabat. Menurut Lippi, sekalipun Inter Milan adalah kesebelasan Italia namun tidak ada orang Italia yang bermain di sana saat mengalahkan Chelsea. Termasuk pelatihnya.

Di Italia, kesebelasan multinasional dan multi rasial seperti Inter Milan justru sulit digoyahkan dari puncak klasemen. Tampaknya kecintaan pada klub, dan makna profesionalisme bisnis sepakbola lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan semangat nasionalisme. Padahal, Italia sebelumnya dikenal dengan fanatisme dalam penggunaan talenta lokal.

Di Inggris, pemain asing juga berkibar bahkan cukup kencang. Bahkan kibaran mereka bisa melampaui kecemerlangan pemain lokal. Dari 4 kesebelasan langganan Big 4 (MU, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool), nama pemain lokal yang diingat adalah: Wayne Roonie, Frank Lampard, Steven Gerrard, dan John Terry. Sisanya adalah pemain impor, sebut saja untuk penjaga gawang: Van Der Sar, Peter Chec, dan Pepe Reina. Pemain lainnya adalah: Drogba, Torres, Kuyt, Anelka, Fabregas, Arshavin, Ballack, Malouda, Kalou, dan sederet pemain tangguh lainnya. Sama dengan kondisi Italia, sekarang ini pelatih timnas Inggris masih sering ragu-ragu dalam menyusun start-up karena kebanyakan pemain asli Inggris cukup merata – kecuali beberapa bintang mereka saja.

Ini kebalikan dari Jerman, yang liga domestiknya tidak gegap gempita. Jerman sangat jarang mengimpor pemain bintang, dan lebih suka pada talenta fresh yang potensial untuk bersinar. Kalaupun ada kesebelasan yang dianggap selebritis adalah Bayern Munich, tapi tetap saja tidak suka bermain-main dengan dana di bursa transfer pemain Jerman selalu mengutamakan talenta lokal, sehingga tidak mengherankan bila team nasional Jerman selalu solid dan fanatik.

Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yang akan berlangsung tidak lama lagi, akan menjadi batu ujian sebenarnya dari team-team top dunia. Apakah pemilik liga terbaik dunia Inggris dan pemilik klub fenomenal Spanyol bisa memainkan pesona mereka lebih jauh? Bagaimana pula dengan Italia yang terseok-seok di level team? Jerman yang solid dan sulit diprediksi pasti akan memberikan kejutan, tapi sampai di babak mana? Tentu saja, jangan lupa juara dunia 5 kali Brasil – yang melahirkan talenta sepakbola terbaik sepanjang masa – pasti akan mengguncang Afrika Selatan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Saya mungkin termasuk orang yang pesimis dengan perkembangan sepakbola nasional kita sendiri. Khususnya bila kepengurusan PSSI masih berada di tangan segelintir orang yang lebih mementingkan kekuasaan daripada prestasi. Bayangkan, bangsa sebesar ini, dengan kesebelasan nasional dan team lokal yang pernah sanggup berbicara di pentas Asia (paling tidak), sekarang berada di titik nadir yang memilukan.

Pemain asing yang didatangkan memang meramaikan persepakbolaan nasional – sebagai industri hiburan – namun tak kunjung mengangkat potensi pemain lokal menjadi kompetensi. Buktinya, dalam segala event internasional belakangan ini, team Indonesia selalu terpuruk. Kegarangan mereka di liga tertinggi lokal yang disebut ISL (Indonesia Super League) tidak kelihatan sama sekali saat berhadapan dengan kesebelasan yang dulu dipandang sebelah mata seperti Vietnam.

Dengan mutu persepakbolaan seperti itu, ditambah pengurus PSSI yang “ngeyel” (baca: tak mau mundur walau morat-marit tanpa prestasi), sungguh menggelikan rasanya melihat niatan PSSI berambisi mengadakan piala dunia 10 tahunan lagi di Indonesia. Padahal, 10 tahun sebelum Piala Dunia diadakan di Jepang dan Korea (bahkan lebih), kedua kesebelasan itu sudah berkibar sebagai macan Asia. 10 tahun sebelum piala dunia tahun ini (bahkan lebih) Bafana-Bafana Afrika Selatan dikenal sebagai salah satu singa Afrika yang patut diperhitungkan.

Industri sepakbola Indonesia memang menggeliat, cukup hingar bingar, tapi sebatas itu saja. Tidak ada nasionalisme yang menggelora, tidak tampak profesionalisme yang menyala. Ricuh, tawuran, penerapan disiplin yang centang perenang … ya cuma ada sepenggal istilah yang cocok: carut-marut ….

fanatisme atau dorongan agresi semata?

Sungguh ironis, bangsa dengan 200 juta penduduk tidak bisa mencari 11 pemain terbaik untuk menghadapi Qatar, Australia, Singapura, Malaysia, Vietnam, bahkan Laos yang penduduknya hanya sekitar 10% atau paling banter 20%nya. Saat pasukan berkaus merah dengan logo Garuda Pancasila di dada masuk ke lapangan, rasanya … wah nasionalisme ini menyala-nyala. Tapi … begitu pertandingan mulai, dan semangat tanding para bintang domestik tadi tidak menyala-nyala … lemas juga kita yang nonton.

Pertanyaan besarnya adalah: APA YANG SALAH dengan PSSI dan persepakbolaan Indonesia? Liga domestik Indonesia dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Asia Tenggara, tapi mana output bagi team nasional?

APA YANG HILANG dari pemain sepakbola kita? Kecerdasan, motivasi, nasionalisme, atau apa? Kenapa mereka sepertinya tidak malu selalu kalah? Hingga bisa ditebak – kalau tidak ada berita di televisi berarti kalah, tapi kalau menang pasti heboh.

Atlit-atlit kita di masa lalu tidak diguyur dengan nilai gaji yang menggiurkan, tetapi dinding mereka kaya dengan medali, piagam penghargaan, dan foto kejuaraan. Bagaimana dengan atlit Indonesia sekarang? — anda tahu sendiri jawabannya

5 Responses to “Industri Sepakbola Eropa, PSSI, dan Nasionalisme”

  1. […] under Sharing with tags Mercusuar Kata. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed You can leave a response, or trackback from your own […]

  2. Tergelitik oleh hasil investigasi majalah Tempo, saya jadi berpikir perlu adanya ‘orang kuat’ pada setiap klub di Indonesia. Mengacu banyak klub di Eropa seperti siapa yang tidak mengenal Berlusconi pemilik AC Milan, Abramovich bosnya Chelsea, Florentino Pérez di Real Madrid ataupun Glazer bersaudara di Man.United dan sebagainya. Seperti halnya ISL yang diragukan, nampaknya LPI pun bisa jadi meragukan karena permodalan klub yang bersumber dari satu sumber yakni konsorsium. Mohon kiranya bisa memberikan pandangannya dan mengulasnya kalaupun sepakbola industri indonesia memerlukan ‘orang kuat’ seperti halnya di Eropa, soalnya hal ini nampaknya memang perlu untuk mengontrol kualitas laga. trims…

    • hzulkarnain Says:

      Sepak bola di Eropa merupakan industri yang sudah maju, paling maju di muka bumi, sehingga hal tsb menarik minat para pengusaha dan industriawan terkemuka masuk ke sana. Orang-orang kuat pemilik klub tsb adalah pengusaha yang sukses di bidang lain, dan tidak semata-mata menggantungkan hidupnya dari klub yang dimiliki. Di Indonesia, mungkin baru Arifin Panigoro yang seperti itu, beliau dikenal sebagai pemilik group Medco dan mendanai Piala Medco dan sekarang LPI, di samping saham di kesebelasan lokal.

      Semoga dengan revolusi PSSI, PSSI menjadi bersih, tidak lagi didanai APBN / APBD, kompetisi nasional bisa menjadi bisnis yang menggiurkan dan mengudang pengusaha lokal, regional, maupun internasional masuk ke dalam bursa kepemilikan.
      Semoga ….

  3. terlalu banyak klub yang memakai dana APBD sehingga kalau APBD ditarik maka akan gulung tikar contohnya PERSIJA, SRIWIJAYA, AREMA, PERSELA, DLL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: