Fesbuk Lagi … Lagi-Lagi Facebook

Herdian Zulkarnain

Seorang tetangga curhat tentang anaknya yang sekarang berumur 12 tahunan, kelas 6 SD ….

fesbuk lagi ....

Hari-hari belakangan ini berlalu seperti biasa, meskipun anak perempuan tetangga tersebut sudah mendekati UAS. Hingga suatu hari, ketika tetangga tersebut dan anaknya sedang nonton pertandingan volley warga, mereka bertemu dengan sesama orang tua murid. Dan terjadilah perbincangan di bawah …

“Hei Nana, bagaimana try out-nya hari Senin kemarin? Kata Linda susah ya?”

“Baik Tante. Memang susah sih …”

Setelah sedikit basa-basi mereka pun berpisah. Sekarang giliran si Ibu – tetangga saya itu – menginterogasi anaknya.

“Kamu memang try-out hari Senin kemarin?” Si Ibu ini cemas.

“Bener Ma,” jawab Nana santai.

“Try out apa?”

”Matematika….”

“Kayaknya kamu nggak belajar deh waktu itu …. Salah berapa kamu?” Si Ibu tambah cemas.

“Cuma ….. salah 42 kok Ma?” kilah Nana masih dengan kepolosannya.

“Haaa …. salah 42 kok cuma! Hayo kenapa kamu nggak bilang kalau mau try out?”

“Habis … kalau Nana bilang ada try out, entar nggak boleh fesbuk-an ….”

ABG à peer group à sosialisasi yang lebih luas à fesbuk … sepertinya rentetan alur logika yang masuk akal, dan cukup menjawab pertanyaan besar kecanduan remaja pada fesbuk.

Secara hormonal, anak yang beranjak remaja mulai menginginkan ruang komunikasi yang lebih luas. Begitu mereka masuk ke dalam sebuah kelompok pertemanan, dan menjadikannya referensi, pemikiran kelompok itu menjadi bagian penting dari cara berpikirnya juga.

Kekeliruan umum yang dilakukan oleh orang tua adalah kecenderungan melihat tingkat sekolah anak, bukan tataran usianya. Kalau masih SD belum pantas ini-itu, kalau masih SMP belum boleh pacaran, nggak boleh fesbuk-an nanti ngganggu belajar … dan seterusnya. Padahal, level sekolah manusia juga yang menetapkan, sementara masuk masa akhil balig tiba karena proses alami. Usia 10 tahunan, sudah banyak anak perempuan yang mengalami menstruasi pertamanya – sekalipun masih kelas 4 SD.

Orang tua juga harus mulai memperlakukan anak secara berbeda dengan sebelumnya, saat tanda-tanda seks sekunder muncul. Bagi anak perempuan, berarti tubuh yang mulai terbentuk dan payudara yang membesar. Bagi anak laki-laki, tanda paling jelas adalah suara yang pecah dan atau tumbuh kumis. Menganggap anak yang berangkat remaja masih seperti anak-anak adalah kekeliruan kedua.

Anak-anak patuh pada orang tua, karena referensi utama mereka adalah orang tua. Komunikasi searah pun tidak masalah dilakukan, sebab anak akan menerima apapun pesan yang disampaikan. Di lain pihak, remaja yang mulai mengembangkan akal pikiran mereka punya referensi lain, yaitu teman-teman sebaya. Akibatnya, tidak semua ucapan orang tua bisa diterima anak dengan senang hati.

Fesbuk (facebook) adalah program komputer yang memungkinkan seseorang terkoneksi secara virtual dengan orang lain, bahkan hingga ke belahan dunia yang lain. Sebelumnya ada program yang bernama Friendster, yang lebih kurang juga menjalin pertemanan via internet, tetapi tidak booming seperti fesbuk yang telah menggaet jutaan warga dunia.

Kelebihan fesbuk adalah keragaman pilihan komunikasi dan sifatnya real-time. Kalau saya menuliskan sebuah status di wall saya, saat itu juga teman saya yang sedang online bisa langsung tahu kabar saya. Dia bisa menanggapi status terbaru saya di sana, atau masuk ke inbox untuk pesan yang lebih personal dan rahasia, atau bahkan bisa mengajak saya chatting.  Popularitas chatting fesbuk mungkin sekarang mulai menggoyahkan Yahoo Messenger yang sudah jauh lebih dahulu dikenal orang.

Pengin tahu kabar dan komentar teman, itulah yang membuat fesbuk didatangi. Hanya dengan melihat-lihat kabar teman, berkomentar, upload foto (biasa …. remaja sekarang hobi-nya difoto dan memfoto), waktu 3 – 4 jam bisa berlalu dengan cepat. Tidak mengherankan waktu untuk belajar jadi tersita.

Belum lagi fesbuk juga menyediakan aplikasi game yang cukup menarik – sekalipun sebenarnya sangat – sangat – sangat sederhana. Game berbasis teks seperti Mafia Wars dan Yakuza Lords, atau game 2 D dengan avatar yang merepresentasikan kita seperti Farmville dan Cafe World, adalah contoh game fesbuk yang digemari.

Friendster tidak lagi in, dan twitter tampaknya tidak akan sanggup menggeser fesbuk. Fesbuk membuat remaja gandrung bahkan mencandu, sehingga tak dapat disangkal lagi sekarang  telah menjadi bagian dari gaya hidup remaja yang melek internet. Pegang HP-pun mereka buka aplikasi fesbuk lewat Mini-Opera.

Semua teknologi pasti menimbulkan pro dan kontra, termasuk fesbuk dan HP. Guru dan orang tua, bahkan sekarang media ramai-ramai mencela fesbuk. … sementara si remaja jalan terus ber-fesbuk ria. Apa bisa melarang remaja tidak ber-fesbuk ria?

disconnected ...

Fesbuk itu nikmat, itu konsep di pikiran remaja. Apapun yang nikmat lalu dilarang, akan menimbulkan dampak samping. Mengunci akses fesbuk remaja tidak akan menyelesaikan masalah, karena naluri survival mereka akan mencari cara untuk kembali fesbuk-an. Sama dengan dulu waktu demam PS, dan banyak rental PS bertebaran di mana-mana. Sekarang, demam itu sudah reda. Begitu juga nantinya dengan fesbuk, demamnya akan reda dan fesbuk tinggal menjadi salah satu program internet biasa.

Masalahnya adalah, saat masih demam seperti ini bagaimana membatasi remaja ber-fesbuk ria? Tidak menghabiskan waktu di sana dan menomor duakan pelajaran di sekolah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Orang tua harus kenal fesbuk. Seperti biasa, remaja akan mengemukakan semua argumen bila dilarang ini dan itu. Cara paling ampuh adalah memahami hal yang menjadi kesukaan remaja. Buka pikiran, dan pelajari apa dan bagaimana fesbuk itu.
  2. Jadi teman anak dalam fesbuk. Dengan menjadi teman dalam fesbuk, orang tua bisa melihat siapa saja teman anak, termasuk “mengintip” komunikasi wall di antara mereka.
  3. Jadikan fesbuk sebagai reward. Jadi, reward diberikan kalau anak sudah menyelesaikan perintah orang tua. Bahkan kalau bisa meyakinkan orang tua dengan nilai-nilai pelajaran yang baik.
  4. Kendalikan waktu belajar anak. Jangan ada perbedaan sikap antara ayah dan ibu soal waktu belajar. Selama waktu belajar, pastikan anak belajar, dan tidak ada kompromi.
  5. Koordinasi dengan sekolah untuk mengetahui skedul tryout dan ujian. Ini seringkali diabaikan orang tua. Jangan percaya anak begitu saja, dan dengan menjalin komunikasi dengan guru / wali kelas, akan banyak manfaat lain yang bisa diambil.
  6. Berkomunikasi dengan remaja dengan cara yang berbeda. Dalam analisis-transaksional, dikenal komunikasi parent – to – child, dan ini biasa dilakukan orang tua sejak anak masih kecil. Menghadapi remaja, orang tua harus menurunkan levelnya menjadi adult, karena remaja menaikkan levelnya dari child ke adult. Jadi, komunikasi yang terjadi adalah adult – to – adult (orang dewasa ke orang dewasa). Jadi, orang tua menganggap si anak figur dewasa, agar komunikasi menjadi terbuka sebab anak ingin dianggap dewasa dan level pembicaraan setara.

Pada akhirnya, yang ingin kita tumbuhkan dari seorang remaja adalah sikap dan perilaku yang bertanggung jawab. Fesbuk-an tak kenal waktu adalah indikasi bahwa remaja masih belum bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Yang dilarang jangan fesbuk-nya, tapi tumbuhkan sikap dan perilaku bertanggung jawab … maka fesbuk tidak lagi menjadi momok. Tumbuhnya tanggung jawab ini secara otomatis akan menurunkan demam fesbuk.

One Response to “Fesbuk Lagi … Lagi-Lagi Facebook”

  1. ceritanya bagus ,..makasi udah berbagi ya,..di tunggu yang lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: