Memberi Makna pada Kehidupan

Seekor monyet (sebut saja monyet kita) yang bersemangat berhasil mencapai sebuah puncak pohon yang tidak terlalu besar tapi cukup tinggi. Ia gembira karena sekarang bisa melihat alam sekelilingnya dengan bebas, ia merasa menjadi momyet yang paling berbahagia. Di pohon itu, ia bisa tidur dan makan dengan tenang, dan lebih gembira lagi karena ia berteman dengan binatang lain yang juga menginginkan kehidupan yang tenang. Monyet-monyet lain yang lebih muda tidak berani naik ke puncak tanpa ijinnya, karena sekarang ia adalah penguasa pohon itu.

Tiba-tiba dilihatnya seekor monyet lain di sebuah pohon lain yang lebih besar dan lebih tinggi. Jaauuhh lebih besar dan jauuuh lebih tinggi.Pohon itu adalah salah satu yang terbesar dan tertinggi di hutan. Monyet kita membayangkan betapa enaknya duduk di puncak pohon tertinggi itu, betapa lebih luas pemandangan dari sana, betapa enaknya.

Monyet kita akhirnya mengenali monyet lain itu sebagai teman masa kecilnya duluuu… sekali. Monyet kita menjadi iri, kenapa dia tidak bisa mendapatkan pohon itu, padahal ia juga mampu jadi seperti monyet temannya itu. Dari iri, ia menjadi marah … marah pada dirinya sendiri, marah pada temannya yang berhasil itu.

Oh no ... I made a mistake

Tanpa pikir panjang, monyet kita meninggalkan pohonnya yang nyaman, dan pindah ke pohon tempat temannya berkuasa. Tanpa diduga, sejak di cabang bawah, sudah banyak monyet lain yang berusaha naik, tetapi kebanyakan gagal sebab persaingan ke puncak sangat ketat. Dengan kekuatannya, monyet kita itu terus mencoba mengatasi masalah menuju puncak pohon.

Monyet kita mulai mengalami luka-luka dari beberapa perkelahian ke puncak. Semakin mencoba ke atas, lebih banyak luka yang dideritanya karena lawannya juga semakin berat. Monyet kita yakin, kalau temannya bisa ia juga pasti bisa! Hingga akhirnya, di sebuah tempat tidak jauh dari puncak, monyet kita tak tahan lagi dengan lukanya – ia terlempar dari pohon itu meluncur ke bawah.

Ketika sadar dari pingsannya, ternyata ia ada di bawah pohon. Untuk naik lagi, ia sudah mulai ngeri, membayangkan perkelahian yang akan dialaminya. Maka, monyet kita kembali ke pohonnya.

Apa yang ditemuinya di sana? Seekor monyet besar muda sudah berada di puncak. Monyet-monyet lain menjadi lebih beringas – tidak lagi takut padanya seperti kemarin…. Monyet kita menyesal bukan main. Tadinya ia ingin meraih gunung, tapi terlalu terburu-buru ia melepaskan pisang di tangan. Kehilangan di sini, tak tercapai di sana, membuatnya tidak tahu lagi apa yang sedang dikejarnya ….

Kisah di atas mungkin hanya fabel, namun dorongan untuk bergerak, berubah, bertambah baik dan menemukan impian adalah sifat hakiki manusia, sekaligus membedakan manusia dengan berbagai mahluk lain ciptaan Tuhan. Untuk itu, manusia dibekali sifat berjuang dan bertahan hidup (survive), untuk menentukan kapan harus bertarung dan tahu saat harus mundur. Kalah sebenarnya adalah hal yang alami, lumrah bagi manusia yang memang tidak sempurna, namun bagi orang yang selalu berhasil sebuah kekalahan merupakan cela yang membuatnya stress.

Stress adalah semacam mekanisme pertahanan ego, yang berfungsi saat kita merasa ada ancaman dan perlu waspada. Saat ujian jadi stress, hendak “nembak” cewek juga stress, dipanggil boss jadi stress … bahkan diam di rumah saja bisa stress. Ya, stress seperti sebuah meter pengukur untuk melihat seberapa baik kondisi mental kita.

Seorang teman belakangan ini cenderung stress yang mengarah depresi terselubung (masked depression). Tanpa ada pemicu, ia bisa cemas sendiri, yang kemudian memunculkan tanda-tanda psikosomatis berupa gastritis dan insomnia. Akhirnya ia berkisah, bahwa memang ia terbiasa sukses sejak muda – seperti masuk SMA tanpa tes, masuk perguruan tinggi PMDK, pindah ke sekolah teknik terkemuka di Bandung dengan sukses, bahkan sebagai manajer safety ia adalah orang yang dipercaya penuh oleh boss. Belakangan, ia bertemu dengan teman-teman kuliah yang dianggapnya jauh lebih sukses: Presdir di perusahaan group terkemuka, komandan batalion, dan jabatan prestisius lainnya. Sementara dirinya tidak bisa kemana-mana lagi … dan dengan umurnya sekarang sudah semakin sulit untuk mengejar karier di tempat lain. Meter pengukur dalam dirinya sudah membunyikan alarm, yang mengindikasikan bahwa mentalnya tidak sedang dalam kondisi prima. Ada suatu hal yang perlu diselesaikannya agar kembali ke level equilibrium.

Apakah stress bisa dimanipulasi? Mungkin bukan stress-nya, tetapi ukuran ambang keberhasilan dan kegagalannya yang bisa dimanipulasi. Coba perhatikan, mengapa kita stress? Waktu belanja di mall tidak stress, malah relax, tetapi kondisi bisa berubah setelah sadar dompet uang dan kartu kredit ketinggalan di mobil. Kalau mata ujian kita kuasai, jadinya relax, tetapi bisa berubah seketika waktu diberitahu bab yang diujikan berbeda. Stress selalu muncul ketika ada kondisi yang mengancam – tepatnya secara subjektif mengancam pada individu tersebut.

Ancaman itu sifatnya subjektif. Bagi seseorang mengancam, belum tentu bagi individu lain. Dua murid sekolah yang sama, menghadapi ujian yang sama, belum tentu mengalami stress yang sama – sekalipun keduanya sama-sama kurang siap. Yang seorang takut tidak lulus sehingga stress, yang seorang lagi tidak perduli pada nilai ujian sehingga tidak kecemasan dan stress.

Konsep tawakkal dalam Islam merupakan langkah yang menarik untuk dikaji dalam Psikologi, yakni berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa setelah semua upaya dilakukan. Karena tidak ada yang tahu masa depan, maka konsep ini penting sekali dalam menghadapi ketidak pastian. Dengan tawakkal, manusia meningkatkan ambang penerimaan pada kegagalan, dengan dalih bahwa ada kekuatan di luar kita yang paling menentukan dan bisa membuat perbedaan dengan rencana sebelumnya.

Dalam tawakkal juga termuat prasangka baik kepada Tuhan, karena hanya Dia yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita – sekalipun kita manusia ini tak jarang mencibir pilihan Allah kepada kita.

Saya katakan kepada teman saya tersebut – mungkin dengan keberadaannya di jabatan yang sekarang (harap dicatat: jabatan itu selevel manajer dan berada di sebuah perusahaan asing) dia lebih punya banyak waktu dengan hobi fotografinya. Mungkin justru dengan fotografinya ia lebih sukses di masa depan.

Akhirnya ia bercerita juga bahwa, di perusahaan sebelumnya stress kerja benar-benar menghimpit, karena tiap persoalan harus dipresentasikan hingga ke induk di Inggris. Kesibukannya sungguh menyita waktu, hingga bawahan, teman, bahkan keluarga mulai protes. Ia merasa sudah di ambang batas kemampuannya. Di tempat kerja yang sekarang, dengan gaji yang juga tidak kecil, load kerja jauh menurun sehingga banyak waktu luang untuk hobby dan keluarga. Yang hilang adalah peluang menapaki karier yang lebih prestisius.

Sukses juga subjektif, karena tidak ada norma atau batasan yang jelas tentang hal tersebut. Apakah yang kaya dan pensiun muda seperti Robert Kiyosaki atau sejumlah motivator itu yang sukses? Apakah Steve Jobs dan Bill Gates yang berinovasi terus di usia mereka yang lanjut bukan orang yang sukses? Apakah Pak Fulan petani biasa yang mencetak 4 anaknya menjadi pengusaha itu yang sukses? Atau Pak Fulan yang konglomerat tapi seorang anaknya mati karena overdosis? Apakah SBY sukses? Apakah Gus Dur sukses? Apakah Christine Hakim sukses? Apakah Utut Adianto sukses? Apakah Ayah kita sukses?

Saya katakan, ada orang biasa yang berkaliber Gandhi, Columbus, Diponegoro, atau Sukarno. Mereka dianggap sukses dan menjadi pahlawan bagi bangsanya. Ada yang sekaliber KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Bill Gates, Steve Jobs, Linus Thorvald, yang menjadi pahlawan bagi kelompoknya. Ada yang menjadi pahlawan bagi lingkungannya, membangun sistem irigasi, listrik desa, kota yang bersih dan nyaman, dsb. Lebih banyak lagi yang menjadi pahlawan bagi keluarga. Lalu ada yang cukup jadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Akan tetapi, ada juga orang yang tidak sanggup apa-apa, bahkan tidak mampu memberikan sukses pada dirinya sendiri. Jangankan memberi arti, bahkan tak sedikit yang menjerumuskan dirinya sendiri ke lembah kenistaan – dengan berbuat kriminal, melacurkan diri (termasuk koruptor), dan meracuni diri dengan alkohol atau narkoba.

Kenapa bisa berbeda-beda? Ya, karena Tuhan mempunya grand design bagi seluruh manusia, agar mesin besar yang bernama dunia ini berjalan dengan lancar. Bayangkan, dalam mesin itu sudah pasti banyak komponen yang terlibat, semuanya punya fungsi dan peranan masing-masing. Kegunaan sebuah alat atau komponen adalah ketika dia berada di tempat yang tepat. Begitulah juga kita manusia ini. Masa kecil, sekolah, pengalaman menjadi dewasa, bahkan jodoh kita pada akhirnya membentuk sebuah kesatuan karakter kepribadian sebagaimana kita sekarang ini. Karakter kepribadian ini menentukan sejauh mana kita bisa meraih impian kita.

kontemplasi ... jalan untuk temukan diri

Di dorong seperti apapun, saya tidak bisa menjadi tokoh politik karena sejak kecil tidak pernah bersentuhan dengan dunia itu. Di beri peluang seperti apapun, sahabat saya yang dibesarkan dalam keluarga berada tidak akan mampu menjadi militer karena memang dunia kemiliteran identik dengan kerja keras fisik. Masa lalu kita membentuk kita secara tipikal. Bukan hanya pendidikan dan pengalaman, pasangan hidup (istri atau suami) juga berperan penting dalam pengembangan karakter – sebab memang kepribadian terus berubah sekalipun semakin lambat.

Berubahnya kepribadian ini sebenarnya pertanda baik, karena memberikan harapan untuk “pulang” bagi mereka yang sudah terlanjur menyia-nyiakan kehidupannya. Bukankah sering kita melihat orang yang bertobat bahkan menjadi penggiat agama yang handal?

Kembali pada timbangan sukses dan ancaman,. dengan demikian semakin lentur timbangan pengukur sukses kian lunak pula ancaman yang disodorkan kehidupan ini. Mungkin masalahnya bukan seperti apa orang yang sukses itu, tetapi bagaimana orang bisa merasakan sukses dalam hidupnya. Merasa sukses ini juga subjektif, tetapi bisa terlihat dan terasa dari reaksi orang di sekitar kita. Kesyukuran mereka pada diri kita pertanda adanya sebuah prestasi yang kita raih.

Bila orang telah memahami keterbatasannya, tahu benar seberapa jauh ia bisa melangkah, yang selanjutnya patut dipikirkan adalah cara memberinya makna. Hidup kita yang hanya satu ini akan berlalu begitu saja – dengan atau tanpa diberi makna. Persis seperti air sungai yang mengalir – dimanfaatkan atau tidak. Orang yang memberinya makna, menjadikan air sungai menjadi pembangkit listrik kecil yang cukup menghidupi desa. Kita yang memberikkan makna bagi kehidupan, mungkin akan terkejut melihat kemanfaatannya bagi orang lain.

Pada akhirnya, pepatah yang menyebutkan gajah mati meninggalkan gading sementara manusia mati meninggalkan nama, bersumber dari makna yang kita buat dalam kehidupan. Gus Dur disanjung dan dihormati bahkan setelah tiada, tentulah dari cara beliau memberikan makna pada kehidupan ini. Besarnya makna inilah yang akan menentukan kita menjadi orang yang terlupakan, menjadi pahlawan bagi keluarga, pahlawan bagi lingkungan kita, atau pahlawan bagi masyarakat luas. Semuanya kembali pada Anda. It’s really your call!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: