Seeing is (not always) Believing

Herdian Zulkarnain

Konon di negeri Tiongkok kuno, seorang tabib genius memiliki 3 orang anak yang dididiknya sebagai tabib sejak kecil. Dalam perkembangannya ketiga anak tersebut ternyata memiliki bakat yang berlainan, sekalipun mereka tetap mewarisi kemampuan pengobatan sang ayah. Setelah dewasa, ketiganya berpisah dan tinggal di desa dan wilayah yang berlainan.

Anak yang sulung memiliki bakat yang luar biasa dalam mengenali tanda datangnya penyakit. Ia bisa melihat partikel-partikel jahat yang beterbangan sebagai tanda datangnya suatu wabah penyakit. Karena ia tidak ingin ada orang yang jatuh sakit, ia menciptakan berbagai alat dan cara untuk menangkap partikel jahat tersebut sebelum sampai ke desa tempat tinggalnya. Hanya istri dan anaknya yang tahu bagaimana bakat itu telah menyelamatkan warga desa dari berbagai wabah yang akan datang, berulang kali. Tabib itu tinggal dengan damai di sana dengan kondisi seperti kebanyakan petani miskin.

Anak kedua bisa mengenali pertanda wabah dari berbagai sumber penyakit, misalnya sumber air atau air sungai yang mulai mengandung wabah,  kandang hewan yang mengandung wabah, gundukan sampah, sisa panen yang gagal dan ditumpuk begitu saja hingga menjadi makanan tikus, dan sebagainya. Ia berhasil menggerakkan warga desa untuk membersihkan lingkungan hidup, sehingga tidak banyak lagi orang sakit di sana. Tabib itu tinggal di tengah desa sebagai warga terhormat dan disegani.

Anak ketiga tidak mempunyai bakat seperti kakak-kakaknya, sekalipun mengerti semua ilmu pengobatan sebagaimana kedua kakaknya. Ia membuka praktik pengobatan, dan karena kemanjuran obatnya, ia dikenal luas hingga ke kota raja. Sang raja tertarik, dan ia meminta sang tabib menjadi tabib istana. Sekarang, sang tabib hidup mewah di istana raja sebagai tabib kerajaan .

Pepatah Barat mengatakan: don’t judge a book by its cover … karena memang sampul yang keren menunjukkan bukunya bermutu, atau sebaliknya buku bermutu belum tentu sampulnya bagus. Tapi anehnya, kita selalu terjebak dalam penilaian berdasarkan kemasan. Mugkin ini sudah jadi sabda alam … sunatullah, bahwa manusia senang menilai apapun dari penampilan luarnya.

Oleh karena itu, tidak berlebihan bila ada pepatah lain yang mengatakan: makanlah menurut kehendak hatimu, tetapi berpakaianlah sesuai kehendak orang lain. Kalau suka kupang lontong, rujak cingur, sate bekicot, rujak soto … dan segala macam makanan yang tidak secara universal disukai, silakan dimakan karena itu hak asasi kok. Tapi, jangan coba makan pakai tangan tanpa sendok garpu di jamuan resmi bergaya fine dining. Kalau tidak mau dianggap aneh, jangan makan steak pakai sendok garpu. Jangan datang ke kondangan pake celana pendek, t-shirt, dan sepatu kets … dan banyak jangan-jangan lainnya.

Kemasan adalah nilai jual, sehingga dalam dunia marketing pengemasan dan pelabelan adalah hal penting. Barang yang sama bila dikemas dengan cara yang berbeda, akan punya nilai jual yang berbeda. Petis udang biasa, yang dikemas dalam wadah plastik kedap sehingga awet, dan dipajang di jaringan swalayan, harganya bisa beberapa kali lipat barang yang sama di pasar tradisional. Emas kuning lantakan, harganya pasti. Emas yang sama, bila sudah diubah menjadi perhiasan akan berharga jauh lebih tinggi … karena ada biaya perajin kemasan. Semakin rumit motifnya, semakin mahal pula harganya. Akan tetapi, bila benda tersebut dijual ke toko emas, baliknya ke emas dasar (ongkos kerja tidak dihitung). Jadi, emas tetaplah emas dan loyang tetaplah loyang – bagaimanapun aksesorisnya.

Munculnya sekolah kepribadian juga untuk kepentingan labeling dan bungkus seperti ini. sekolah ini tidak mengubah seorang apatis menjadi pesimis, seorang psikopat menjadi ulama, bukan itu semua. Mungkin yang lebih tepat adalah kursus memakai topeng agar bisa bergaul dan berkomunikasi dengan masyaralat kelas atas. Cara berpakaian untuk menghadiri acara resmi, cara makan gala dinner, cara bicara atau presentasi di depan publik, dsb. Ini semakin menunjukkan bahwa manusia lebih suka memandang sampul daripada isi.

Dalam masyarakat, ada dua kelompok manusia yang berlawanan dalam membicarakan penampilan eksternal (maksudnya etika dalam berpakaian).

Kelompok pertama tentunya adalah mereka yang memang harus berada di ruang publik dan di depan publik, sehingga harus terus menerus memelihara sikap dan etika perilaku. Inilah kaum selebritis dan tokoh masyarakat yang perlu dikenal tidak hanya baik di dalam tetapi juga keren di luar. Kalaupun dalamnya kurang baik, akan sedikit termaafkan dengan penampilan yang keren tadi. Bung Karno, Presiden SBY, sebagian aktor, penyanyi, pejabat negara, dan sebagian pengusaha adalah contohnya.

Gus Dur yang tampil nyantai...

Kelompok lain adalah yang sedemikian yakinnya dengan diri mereka sendiri, sehingga hampir tidak pernah memperdulikan penampilan luar mereka. Anehnya, publik seolah memaafkan mereka, karena memang potensi diri merekalah yang dilihat. Almarhum Gus Dur, Bob Sadino, Dahlan Iskan, Arswendo, adalah sedikit dari contoh individu seperti ini. Bahkan kesederhanaan penampilan mereka menginspirasi sementara orang untuk tidak menggantungkan diri pada aksesoris luar – kalau memang ingin dikenal dan dikenang sebagai “seseorang”.

Orang tidak berusaha tampil mewah mungkin adalah orang yang tidak membutuhkannya, atau memang tidak punya … (entah tidak punya sesuatu yang dibanggakan, atau tidak punya kemewahan). Orang hebat adalah yang tidak membutuhkan bungkus mewah, sekalipun dia bisa membelinya. Sayangnya, bagi masyarakat umumnya hal itu dianggap keanehan. Kita hidup dalam populasi yang masih memegang tata krama yang kental, kepantasan diukur dari pakaian, dan norma sosial yang berpatokan di luar diri kita.

Orang Jawa bilang, ajining diri dumunung ing lathi, ajining raga dumunung ing busana. Nilai kehormatan kita adalah apa yang kita ucapkan, dan penghormatan orang pada kita terletak pada busana (pakaian) kita.

Jadi, memang kita tidak bisa memilih … pepatah untuk tidak menilai buku dari sampulnya tetap menjadi masalah besar, sebab setiap penerbit selalu mencoba memberi sampul terbaiknya. Kita jadi sulit menilai orang apa adanya, karena orang terbiasa mengemas dirinya dengan balutan pakaian yang menyamarkan jati dirinya.

Kembali pada kisah 3 bersaudara di atas, apakah ada yang rugi dan untung? Kalau dipandang secara materi, mungkin ya. Tapi untuk kepuasan hakiki, tidak ada istilah rugi dan untung. Si sulung yang membuat desanya damai tanpa penyakit, mungkin puas dengan kesederhanaan hidupnya. Begitu pula yang kedua. Yang bungsu, mungkin paling sibuk tapi paling kaya harta. Mungkin dia juga bahagia dengan kesibukannya (dan hartanya).

Masalah selalu timbul bila kebahagiaan itu lantas diukur dari parameter orang lain, misalnya soal banyaknya harta atau popularitas. Padahal, ukuran S,M,L,XL tidak selalu universal. Kemarin saya beli baju XL tidak cukup, ternyata hari ini menemukan ukuran L yang gede sekali. Amerika selalu mencoba mendiktekan demokrasi ke berbagai negara lain di dunia (lepas dari siap atau tidaknya negara itu). Akibatnya, negara yang menelan demokrasi kepagian berakhir dengan rentetan kerusuhan yang mengatas namakan demokasi.

Mungkin saatnya kita kembali pada diri sendiri, dan mengukur kebahagiaan dan kesuksesan dari kacamata kita sendiri. Biarlah kaca mata orang lain melihat kita dengan rasa kasihan, padahal kita sudah bahagia dengan hidup kita. Biarlah orang lain begitu tinggi menilai kita (tak perlu jumawa), tanpa tahu bagaimana kita mencapai dan mempertahankan posisi yang membuat kita bahagia itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: