Menyerang Pemimpin … Itukah Akhlak Indonesia?

by Herdian Zulkarnain

Apapun yang dikatakan Presiden …KELIRU!

Kalimat-kalimat Presiden harus diwaspadai sebagai agenda tersembunyi.

Presiden membawa kepentingannya sendiri dan kelompoknya, dan itu diharamkan serta dicegah.

Nuansa seperti itu kental menggantung di angkasa pemberitaan beragam televisi swasta di Indonesia. Sudah pasti akan berlawanan dengan muatan berita yang disampaikan oleh TVRI – yang memang sejak dulu memposisikan diri sebagai corong pemerintah.

Justru karena pemerintah membuka lebar kran kebebasan berekspresi dan berpendapat, kondisi-kondisi yang justru menyerang pemerintah bisa kita saksikan dengan bebas di layar kaca. Justru karena Presiden yang sekarang tidak mempunyai basis massa yang militan (dan emosional) demo anti pemerintah bebas terlaksana.

Di masa Gus Dur, demo anti pemerintah dan anti Gus Dur harus berpikir serius – bila tidak mau berbenturan dengan massa NU dan Barisan Anshor Serba Guna (Banser). Demikian pula di masa Megawati, yang juga mempunyai massa pendukung besar dan tak kalah militannya. Jadi hambatan ekspresi mereka lebih karena takut – bukan karena tidak ada yang diekspresikan!

Presiden menyanyi salah, apalagi mengarang lagu! Presiden meresmikan PLTU persis di hari ke 100 pemerintahan jilid ke-2, dikatakan karena tidak mau menghadapi massa yang berdemo. Pemerintah beli mobil untuk menteri (sekalipun sudah disetujui DPR sebelum ini) dinilai tidak sensitif pada kemiskinan, karena dinilai terlalu mewah. Apalagi ada rencana beli pesawat ….

besar, gemuk, dan bodoh

Yang terakhir adalah komentar Presiden atas demo yang menggunakan kerbau sebagai icon – sementara ada foto Presiden ditempelkan di badan binatang itu, sehingga sepertinya pendemo hendak mengatakan bahwa Presiden adalah kerbau. Apapun dalih koordinator demo, kerbau yang diberi nama SiBuYa tak lain hendak dianalogikan dengan pemimpin kita. Presiden rupanya (dan wajar) tidak terima disamakan dengan kerbau, karena binatang tersebut berkonotasi dungu dan gampang ditarik kesana-kemari asalkan hidungnya sudah dicocok, sehingga keluarlah komentarnya (padahal selama ini beliau tidak mudah berkomentar atas demo apapun).

Saya pribadi menilai kegusaran Presiden kita itu wajar – pertama sebagai manusia, kedua karena beliau adalah pemimpin yang dipilih mayoritas rakyat Indonesia, dan ketiga sebagai orang tua. Atau mungkin memang ambang batas kesabaran Pak SBY sudah mendekati limit, setelah berhari-hari dan berbulan-bulan menjadi topik bahasan di media televisi.

Kalau ada anggota DPR dari Golkar yang menilai Presiden tidak pada tempatnya “ngedumel” di depan rakyat – menurut saya justru omongan sang anggota dewan yang tidak empatik. Tentunya kita masih ingat bagaimana DPR marah karena dinilai Gus Dur seperti taman kanak-kanak.

Seperti biasa, peluang konflik ini menjadi bahan perbincangan di televisi, menjadi pembahasan yang tak bermutu, dan akhirnya pemirsa tidak dapat apa-apa selain jengkel. Yang satu jengkel kepada Presiden karena dianggap terlalu sensitif, yang lain jengkel kepada narasumber dan televisi, karena telah menjejali otak kita dengan informasi sampah. Saya harus mengatakan, TV swasta sudah mulai tidak proporsional dalam upayanya meraih rating – karena menempatkan pemerintah sebagai objek tembak, bahkan untuk kasus-kasus yang baru bersifat praduga.

Saya khawatir, justru kita sebagai manusia dan rakyat Indonesia ini sudah mulai zalim kepada pemimpin kita justru karena sang pemimpin rapih menjalankan perundang-undangan. Ada seorang pengamat politik yang mengatakan bahwa zalim hanya berlaku pada si kuat yang melindas pihak lemah – tapi dalam Islam tidak demikian.

KH Ali Usman dalam buku “Hadits Qudsi” menyebutkan bahwa kata zalim pada dasarnya bermakna aniaya dan melampaui batas yang telah ditentukan. Sementara menurut ahli bahasa dan ulama, zalim bermakna: meletakkan sesuatu bukan pada tempat yang semestinya. Baik hal itu dimaksudkan untuk mengurangi, menambah, dan mengubah waktu, temapt, atau letak.

Perbuatan zalim terbagi atas 3 bentuk:

  • Zalimnya manusia kepada Allah Swt
  • Zalimnya manusia kepada sesama manusia, sehingga orang lain merugi karena perbuatan tersebut.
  • Zalimnya manusia kepada dirinya sendiri, seperti konsumsi narkoba, alkohol, menjadi pen-zinah, dsb.

Sekarang ini kita bicara soal zalimnya manusia kepada manusia lain.

Sebagai manusia, Presiden dan para menterinya memang layak untuk diingatkan, karena kita rakyat Indonesia ini yang memilih beliau. Akan tetapi, berbuat sesuatu yang membuat nama orang lain tercemar, dipermalukan, bahkan menjadi bahan olok-olok bukanlah sifat orang Indonesia – apalagi orang Islam.

Belum lama Polri dianggap berjasa menumpas gembong teroris Noordin M. Top, masalah Cicak vs Buaya langsung menyeret institusi tersebut – bahkan sang Kapolri – dalam posisi yang tidak menyenangkan.

Tahun 2008 dan 2009 kita lalui dengan kemajuan ekonomi yang bagus, bahkan tidak banyak negara di dunia yang menunjukkan optimisme seperti Indonesia. Jajaran menteri keuangan, Bank Indonesia, dan pihak-pihak lain yang terkait telah bekerja keras untuk mempertahankan ekonomi Indonesia tetap stabil. Apa yang terjadi sekarang? Seperti kata pepatah panas setahun dihapus dengan hujan sehari, caci maki dan segala hujatan ditumpahkan pada Menkeu, Wapres, bahkan Presiden seiring dengan penuntasan kasus Bank Century.

Kalau sekedar protes dan bicara mungkin masih wajar, tetapi demo dengan mengusung berbagai atribut yang pada akhirnya menyerang personal Sri Mulyani dan Budiono, menurut saya sudah keterlaluan. Hanya orang yang bermental kuat dan berjiwa besar bisa menerima segala macam kezaliman yang sudah mengarah pada character assassination itu. Kita ingat bagaimana George Aditjondro sampai kelepasan emosi menanggapi kritik Ramadhan Pohan dalam acara bedah bukunya … ini menunjukkan bahwa memang tidak semua orang bisa menerima kritik – sekalipun KEBANYAKAN ORANG SUKA MENGKRITIK.

Media massa memegang peran penting sebagai katalisator kezaliman ini, khususnya televisi. Distorsi kebenaran sering terjadi, karena kebenaran tidak menarik secara rating, dan hanya kontroversi kepada pemerintah lah yang laku dijual.

Apakah kita ingin Allah menegur kita dengan keras, dengan bencana alam sekali lagi, agar pemerintah bekerja tanpa kritik? Ya, kita tentu ingat, setiap kali ada bencana besar yang mengharuskan pemerintah turun tangan, semua oposan dan penentang pemerintah langsung tiarap! Pada saat seperti itu tiba-tiba demo menghilang, dan semua fokus tertuju pada daerah bencana. Hingar bingar berita politik menghilang, semua televisi juga jadi enggan menampilkan debat publik.

Saya merindukan teguran kepada pemerintah yang bermartabat dan cerdas. Bukan sekedar menohok tapi juga memberi solusi. Jangan katakan, berpikir itu adalah tugas pemerintah, karena rakyat lah yang memegang kunci perubahan – sebab perubahan akan datang bila kita mau berubah.

Saya menginginkan bangsa ini punya grand strategy yang benar. Bahkan Orde Baru pun punya strategi besar untuk membentuk bangsa ini menjadi lumbung pangan. Sekarang, Thailand sudah memposisikan diri sebagai pusat perakitan otomotif, Malaysia akan menjadi raksasa elektronik, industri berat mungkin akan bergeser ke Vietnam, lalu kita? Apa yang menjadi ciri khas perindustrian bangsa ini?

Hal-hal seperti inilah yang seharusnya dimintakan kepada pemerintah untuk direalisasikan, bukan urusan remeh dan tidak mendasar yang berpusat pada penghujatan individu. Pertanyaan, kapan IPTN menjadi pemasok pesawat utama di Asia? Kapan PINDAD mengembangkan persenjataan modern nasional? Kapan PAL membangun armada kapal selam untuk menutup celah pertahanan laut? Dan semacamnya, adalah pertanyaan yang lebih pantas untuk disampaikan kepada pemerintah … daripada sekedar menghujat Bu Sri Mulyani dan Pak Budiono.

Semoga bangsa ini tetap tegar dalam badai, tetap beriman dalam segala godaan, dan menjadi penerang bagi bangsa-bangsa lain di sekitar kita.

One Response to “Menyerang Pemimpin … Itukah Akhlak Indonesia?”

  1. Tulisan ini mencerahkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: