Perempuan-Perempuan di Layar Kaca

Nonton TV? Sudah pasti itu adalah hobi kebanyakan masyarakat kita belakangan ini. bukan Cuma di sini, tetapi juga di belahan bumi lain. Bahkan di Amerika, sebuah survey menunjukkan bahwa anak dan remaja di sana menghabiskan waktu 270 menit perhari di depan televisi – sehingga majalah TIME punya istilah Couch-Potato Generation (karena orang yang tidak punya kerjaan lain selain nonton tv disebut couch-potato). Tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini.

ada tak menggenapi, tak ada tak mengapa

Pertanyaan lain yang secara iseng mungkin menarik untuk dijawab adalah, apa yang membuat televisi menjadi tontonan yang menarik dan sedap dipandang? Jawabannya mungkin beragam, bisa jenis acaranya, lucu komedinya, gosipnya, dsb. Akan tetapi, pernah kita berpikir dan menilai, bagaimana sih kalau di televsi kita ini pengisinya laki-laki melulu …?

Lepas dari masalah kesetaraan gender, perempuan merupakan pemanis bisnis pertelevisian, dan membuat situasi maskulin dunia televisi menjadi lebih feminin dan cair. Mungkin sama dengan balapan F1 atau MotoGP yang maskulin, tetapi dalam tiap start selalu menghadirkan kaum hawa sebagai pembawa payung para racer.

Benarkah televisi adalah dunia maskulin? Sudah barang tentu. Gedung studio televisi dirancang untuk dioperasikan dengan efisiensi, penuh dengan benda teknis, aktivitas yang tidak mengenal waktu dan basa-basi, dan tujuan bisnis yang kompetitif. Muatan yang paling disukai di pagi hari adalah dunia maskulin juga: hard news dan olah raga. Pada prime-time beragam acara bertarung, tetapi semuanya dikendalikan oleh kaum maskulin. Perhatikan para nama crew yang berada di belakang sebuah acara yang sukses.

Akan tetapi, uniknya, acara-acara yang sukses selalu menyertakan perempuan sebagai pengisi acara. Kalau menyebutkan pembaca berita laki-laki di Metro TV, sebagai saluran berita yag mirip CNN di Amerika, mungkin orang butuh waktu untuk berpikir. Tetapi kalau diminta menyebutkan seorang presenter atau pembaca berita perempuan, justru di Metro TV banyak didapatkan dan dikenal. Salah satu favorit saya adalah Kania Sutisnawinata. Dan, kompetensi mereka sangat handal. Penyuka acara dialog di TVOne pasti tidak asing dengan Tina Talisa yang garang dalam bertanya. Dulu, SCTV punya Ira Koesno dan RCTI punya Desi Anwar.

Bukan hanya itu, sinetron, talk-show, acara gosip, semuanya bertaburan wajah-wajah cantik pengisi acara dan berita. Belum lagi bermacam-macam iklan yang beterbangan di layar kaca. Segera saja rumah-rumah produksi dibangun dan aktif mencari talent-talent baru yang fresh dan cantik.

inspiratif ...

Sebelumnya, saya menilai kaum perempuan yang beredar di layar kaca secara umum terbagi atas 2 kategori, yakni: petarung dan pemanis. Perempuan petarung adalah subjek dalam acara, sementara yang pemanis adalah objek semata.

Perempuan petarung adalah kaum hawa yang mendedikasikan dirinya untuk sesuatu yang diyakininya, memiliki kompetensi luar biasa di bidangnya, dan berjuang melalui segala rintangan untuk survive, sehingga siapapun yang melihatnya di layar kaca akan menatap dengan hormat. Oprah Winfrey yang tak perlu saya sebutkan lagi peretasinya, Desi Anwar yang saya anggap perempuan hebat pertama di pertelevisian kita di era 90-an, Kania Sutisnawinata yang membawa image perempuan hebat sebagai presenter, Meutia Hafid yang survive dalam penyanderaan di Irak, Riani Jangkaru melalui acara Jejak Petualangnya menginspirasi perempuan ke pedalaman, dan Medina Kamil yang hampir hilang saat berpetualang di Papua, adalah sedikit dari sekian banyak contoh perempuan petarung yang hebat di pertelevisian. Untuk kalangan pejabat yang menghiasi berita di media televisi, saya sangat respek pada 2 nama: DR Sri Mulyani (Menkeu kita), dan DR Siti Fadilah Supari (mantan Menkes kita).

Perempuan pemanis dihadirkan di layar kaca sebagai pelengkap, menambah cita rasa (taste) acara sehingga lebih meriah dan menarik. Mungkin bisa dianalogikan dengan hadirnya umbrella girl di lintasan, atau round girl di rng tinju. Tanpa mereka, acara itu tidak kekurangan maknanya, namun kalau ada mereka hadirin jadi sumringah. Sekalipun host cukup seorang, master of ceremony pria saja, tetapi kemudian perlu dihadirkan seorang co-host perempuan – agar acara menjadi lebih manis.

Tidak berhenti sampai di situ, pemanis ini juga bisa ditemui dalam berbagai sinetron yang menarik minat pemirsa. Lihat saja judul-judulnya yang kebanyakan nama perempuan. Nama mereka memang dipampang sebagai pemeran utama, tetapi kenyataannya? Cerita yang disajikan tidak akan jauh dari model kisah Cinderella (si Upik Abu yang baik hati bertemu dengan dan menikah dengan sang Pangeran yang tampan dan kaya).

Belakangan ini, tampaknya saya harus membuat definisi baru tentang kehadiran perempuan di layar kaca, seiring dengan munculnya acara Take Me Out dan Take Him Out Indonesia. Sampai sekarang saya belum tahu benar, kaum perempuan di sini yang mencapai jumlah puluhan, berstatus sebagai subjek atau objek? Sebagai petarung atau pemanis? Atau tidak kedua-duanya?

Saya tidak bisa menyebut mereka sebagai pemanis, karena mereka aktif dan bisa membuat keputusan sendiri. Bukan sosok dungu yang diproyeksikan mempermanis ruangan. Akan tetapi, saya juga tidak bisa menyebut mereka petarung, karena kehadiran mereka di acara ini saja seolah-olah hendak menunjukkan bahwa adalah orang-orang yang desperate dalam mencari jodoh. Padahal, seorang petarung adalah figur asertif, dan meyakini bahwa mereka memiliki potensi serta kompetensi untuk bertarung di dunia.

Saya menilai, acara ini bagai ajang pembenaran sindroma Cinderella Complex – untuk menemukan sang pangeran dengan cara cepat. Inilah yang menyebabkan saya tidak bisa menyebut mereka sebagai petarung.

Di luar sana, kaum perempuan petarung tidak dinilai berdasarkan penampilan fisik mereka, dan kecantikan adalah inner beauty yang tidak tersamar kecantikan fisik. Perempuan cantik yang juga petarung adalah bonus indah semata.

Well, saya tidak hendak men-judge-ment apapun, hanya sekedar menginginkan lebih banyak perempuan yang hadir di layar kaca sebagai petarung – tidak sekedar pemanis. Perempuan petarung akan membuat acara manis, tetapi perempuan pemanis tidak akan membuat dirinya kompeten di acara itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: