Gus Dur yang Kukenang-2

Satu dekade sebelum reformasi bergulir, nama Gus Dur mulai dikenal sebagai sosok muda NU yang fenomenal – membalikkan kesan uzur dan kolot organisasi massa di Indonesia ini. Sejalan dengan kembalinya NU ke khittah 1926, yang berarti NU tidak lagi berkiprah di dunia politik, langkah kuda Gus Dur di level akar rumput tidak terbelenggu lagi.

Di antara teman dan orang yang mengenalnya, Gus Dur adalah humoris. Bahkan Jaya Suprana menyebutnya jenius dalam humor dan joke. Menciptakan sebuah guyonan saja sudah sulit, apalagi bila banyak sekali dan kontekstual dengan jaman. Jaya Suprana mengibaratkan dengan seniman musik yang pandai menciptakan lagu atau melodi yang indah, pematung menciptakan patung dengan mudah, Gus Dur adalah seniman yang khusus menciptakan kesegaran humor dengan joke-joke yang cerdas.

Dalam sebuah guyonannya, Gus Dur pernah berceloteh:

“Kalau ada orang yang ngurusi NU sampai jam 6 sore, namanya suka NU. Kalau sampai jam 12 malam masih ngurusi NU, namanya gila NU. Lha, kalau setelah jam 12 malam masih ngurusi NU juga … namanya NU gila!”

Mungkin Gus Dur memang NU gila, karena darah ajaran NU berurat akar dan mengalir di pembuluh darahnya. Dengan berpijak pula pada segala kitab ulama yang diajarkan di seputaran Timur Tengah selama berabad-abad dan pemikiran cendekiawan non-Islam yang dibacanya di perpustakaan Kairo dan Baghdad, pola pemikiran Gus Dur sangat pluralis.

Kaum Islam konservatif seringkali tidak suka dengan cara bicara dan logika Gus Dur yang plural, dan seolah-olah meremehkan Al-Qur’an. Dalam sebuah milis yang pernah saya ikuti, dan akhirnya harus saya tinggalkan, pluralitas pemikiran Gus Dur dan tokoh-tokoh intelektual seperti Nurcholish Madjid, tidak mendapatkan tempat untuk berkembang karena kelompok ini sangat mementingkan bentuk daripada esensi.

Ketika Gus Dur mengatakan … Tuhan tidak perlu dibela! Ada orang yang marah. Padahal memang sebenarnya siapa sih kita yang menganggap layak untuk membela Tuhan – yang sama dengan hendak mengatakan bahwa Tuhan tidak maha perkasa dan berkuasa. Sebenarnya, Gus Dur hendak mengatakan bahwa ada urusan yang memang harus diurusi manusia, dan ada urusan yang merupakan hak prerogatif Allah yang selayaknya tidak diurusi manusia.

Dalam sebuah wawancara, Dorce yang belum lama berganti kelamin menanyakan perihalnya kepada Gus Dur – karena memang banyak kontroversi di sekitar perubahan jenis kelamin ini. Dorce bercerita, Gus Dur hanya bertanya:

Apa sampeyan nyaman dengan kondisi sekarang?(Dorce meng-iyakan), dan Gus Dur melanjutkan, jalankan saja kehidupan dengan baik. Biarlah yang lain terserah penilaian Allah.

Dengan bertindak dan berpikir sebagai manusia, kemudian memanusiakan manusia lainnya, serta tidak bertindak sendiri atas nama Tuhan, manusia telah menjadi dirinya sendiri. Nasihat utamanya kepada Yenny Wahid saat pernikahan pun serupa, yaitu pesan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan, dengan cara memanusiakan manusia lain. Hak asasi manusia, kemanusiaan, dan persamaan derajat adalah ciri khas Gus Dur, yang ditinggikan oleh sementara kalangan, dihormati oleh banyak tokoh, namun justru mendudukkan dirinya setara dengan orang biasa.

Egaliter, perasaan dan kedudukan yang setara dan sederajat, itulah kesan orang pada Gus Dur. Siapapun dia, tidak perduli pangkat dan jabatannya, dianggapnya sama dan setara. Penghormatan yang perlu dilakukan hanya karena seseorang lebih tua atau lebih berilmu saja. Oleh karena itu, Gus Dur tidak pernah rikuh duduk bersama dengan rakyat biasa, bahkan konon sering menginap di rumah teman lamanya yang jauh dari kemewahan. Tidak mengherankan, rakyat biasa mengidolakan dirinya, karena menganggapnya sosok biasa yang bersinar di kalangan elite.

Ketika terjadi ketidak adilan, kemudian ada proses marginalisasi seseorang atau sekelompok orang, Gus Dur akan berdiri di depan. Kasus Inul yang dihadang pedangdut senior lainnya, Dorce yang berseberangan dengan sementara ulama, Konghucu yang tidak dianggap agama, masalah orang Papua yang tidak pernah selesai, semua menjadi agenda aktivitas Gus Dur.

Tak mengherankan, saat menjabat Presiden, ada 2 agenda yang langsung diselesaikannya: mencabut aturan yang membatasi aktivitas sosial budaya dan keagamaan kaum Tionghoa, dan memulai langkah rekonsiliasi dengan rakyat Papua. Irian Jaya dihapus, diubah menjadi Papua. Papua juga memperoleh status otonomi khusus, sekalipun banyak tantangan dalam mewujudkannya.

Sebenarnya, tidaklah berlebihan bila ada yang beranggapan bahwa Gus Dur adalah sosok langka yang sulit digantikan. Bahkan di antara saudara dan kerabatnya tidak ada yang cukup pantas sebagai penggantinya. Tak berlebihan pula orang menasbihkannya sebagai guru bangsa, karena pluralitas berpikirnya sejalan dengan nuansa merah-putih bangsa ini. Bangsa ini besar dan kaya ragam, sehingga membutuhkan ulama Islam yang pluralis, dan mampu mendudukan manusia yang beragam tersebut setara.

Semoga kepergian Gus Dur untuk selama-lamanya ini memberi tanda bahwa semua masalah tentang hak asasi manusia akan selesai, semua ketidak setaraan menemukan solusinya, kemudian orang Islam sudah mau menerima merah-putih di halamannya, serta menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Semoga….semoga …..

One Response to “Gus Dur yang Kukenang-2”

  1. AnakGunung Says:

    very nice posting..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: