Gus Dur yang Kukenang

Menjelang akhir tahun 2009, sekitar pukul 18.45 WIB, Gus Dur panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid wafat di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, di bawah pengawasan dan perawatan team dokter ahli yang menjadi bagian team dokter kepresidenan. Setelah dirawat sekitar 5 hari, sosok fenomenal itu harus tutup usia.

Sebenarnya, sejak beliau memaksa untuk berziarah ke makam kakek dan ayahnya di Jombang, saat berada di rumah sakit Graha Amerta Surabaya, ada pikiran yang terlintas – apakah Gus Dur merasa sesuatu sehingga ziarah kubur ini tidak bisa ditunda lagi.

Seperti diketahui bersama, Gus Dur jatuh sakit saat sedang dalam perjalanan safari ke Jombang untuk berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim. Setelah dirawat sebentar di Jombang, beliau langsung dirujuk ke RS Graha Amerta yang merupakan fasilitas VIP RSUD Dr. Soetomo. Entah mengapa, Gus Dur mendesak untuk berangkat lagi ke Jombang, hingga kesehatan beliau kembali memburuk dan harus dirujuk ke RSCM sekembali ke Jakarta.

Indonesia berduka dalam arti yang sebenarnya, dan pengaruh meninggalnya beliau sangat terasa di kala orang sedang bersiap memeriahkan dan harus dirujuk ke RSCM sekembali ke Jakarta.

Indonesia berduka dalam arti yang sebenarnya, dan pengaruh meninggalnya beliau sangat terasa di kala orang sedang bersiap memeriahkan pergantian tahun baru 2010. Kepala negara menghimbau pengibaran bendera setengah tiang, yang dilaksanakan oleh segenap BUMN, instansi pemerintah, bahkan perkantoran swasta yang biasa mengibarkan bendera di halaman. Beberapa toko milik Tionghoa terlihat juga memasang bendera setengah tiang. Tentunya hal tersebut tak lepas dari simpati kaum Tionghoa pada almarhum yang memang telah mengembalikan makna budaya dan harga diri kaum Tionghoa yang dimarginalkan selama orde baru. Beberapa pesta tahun baru outdoor di Jakarta sedikit disesuaikan dengan rasa berkabung tersebut.

negarawan, pemikir, ulama, budayawan, jenius...

Gus Dur bukan orang biasa, dan tidak pernah menjadi orang biasa. Dari berbagai sumber, seperti yang ditayangkandi televisi maupun di tulis di surat kabar, Abdurrahman Addhakhil muda selalu berbeda dengan orang lain pada umumnya. Ketika santri lain sibuk dengan kitab-kitab agama, dia justru baca koran. Bila yang lain suka musik religius, justru musik barat seperti klasik dan rock yang digemarinya. Bahkan pemikiran non-Islam pun dilalapnya – karena memang kecerdasannya mampu menampungnya.

Konon, karena tidak puas dengan studi di Al-Azhar, Gus Dur yang berumur 27-an meneruskan studi ke Universitas Baghdad dengan beasiswa. Di perpustakaan Abdul Qadir Jailany di perguruan tinggi itulah dia mencerna berbagai model dan bentuk pemikiran Islam dan non-Islam. Semuanya membuatnya mampu berpikir lateral, yang bagi orang lain seperti meloncat-loncat tidak lumrah.

Sejak menjabat sebagai ketua umum PB NU, Gus Dur yang sebelumnya hanya dikenal oleh sebagian kalangan – kalangan pesantren NU, melalui tulisannya di media massa, dan budayawan – merambah ke jagat politik, dan mulai dikenal oleh berbagai kalangan. Konon perluasan bidang ini lebih banyak didorong oleh kerabatnya, seperti kakek dari pihak ibu KH Bisri Syamsuri. Dengan kendaraan yang disegani, Gus Dur menjadi figur yang sangat diperhitungkan. Orang tentunya masih ingat, Gus Dur lah orangnya yang menjadi motor kembalinya NU ke khittah awal saat didirikan – dan mencabut diri dari perpolitikan praktis. Pertengahan tahun 80-an, NU keluar dari PPP karena harus memposisikan diri sebagai lembaga sosial kemasyarakatan.

Di awal 90-an hingga akhir masa orde baru, nama Gus Dur sangat difavoritkan oleh sementara kalangan, karena dialah figur alternatif yang menjadi simbol Islam moderat. Sebagian orang sudah eneg dengan orde baru dan kekuasaannya yang menakutkan, tetapi untuk berpindah ke Megawati juga belum sreg – karena sebagian orang tahu bahwa banyak juga kepentingan yang bermain di sekelilingnya. Lagi pula, nama PDI tidak pernah lepas dari keberingasan massa-nya.

Di luar panggung politik, Gus Dur adalah icon demokrasi dan pelindung kaum marginal. Ketika kaum Tionghoa dianak tirikan di berbagai sendi kehidupan sosial kemasyarakatan (kecuali berdagang), Gus Dur membela mereka. Seperti saat dia membela pasangan Konghucu yang tidak boleh menikah sesuai dengan agamanya, karena agama tersebut tidak masuk dalam agama-agama yang diakui di Indonesia. Dorce yang berganti kelamin, Inul yang dikecam pedangdut lainnya, dan entah siapa lagi, merasa nyaman dengan perlindungan Gus Dur.

Orang mengatakan, kalau dalam catur Gus Dur adalah kuda – yang selalu melangkah tidak terprediksikan dengan baik. Sebagian lain menilai, Gus Dur adalah negarawan dan bapak bangsa namun tidak pernah menjadi politisi. Kata jaya Suprana, negarawan selalu memikirkan bangsa, politisi memikirkan kekuasaan. Seorang negarawan mungkin bisa bertindak sebagai politisi, tetapi politisi akan sulit menjadi negarawan – dan Gus Dur ternyata memang terlalu agung untuk melumuri diri dengan kekotoran politik.

Gus Dur – menurut saya – memang lebih cocok sebagai guru bangsa yang memberikan petuah dan pemikiran yang brilian – tidak berpolitik praktis. Tetapi Allah Swt memang mengharuskan beliau sebagai Presiden untuk sementara waktu, agar semua borok dan kepentingan yang bersembunyi di belakang kata reformasi terkuak lebar.

Saat menjadi Presiden, sejarah diukirnya dengan tegas. Gelora Senayan dinamai Gelora Bung Karno, Irian Jaya dikembalikan ke nama yang disukai oleh penduduk setempat: Papua, dan penghapusan aturan yang memberangus Tionghoa serta menjadikan Konghucu sebagai agama. Yang lebih signifikan lagi, Gus Dur telah menghapuskan dwi fungsi ABRI – yang berarti mengembalikan tentara ke barak. Polisi dilepas dari kemiliteran, agar bisa menjadi lembaga penegakan hukum sipil seperti di berbagai negara demokrasi lainnya. Semua itu tercipta dalam kurun waktu 2 tahunan masa kepemerintahannya.

Yang paling saya pelajari dari sosok Gus Dur, adalah konsistensi dan ketaatan pada sebuah azas yang diyakini. Sebagai orang Islam, Gus Dur selalu berpegang pada Qur’an dan Hadits, dan berbagai kitab ulama besar sebagai acuan. Sebagai negarawan, beliau berpegang pada konstitusi dan perundang-undangan yang berlaku. Pancasila adalah simbol dari NKRI yang harus dipertahankan. Asyiknya, Gus Dur mampu memainkan semua hal yang diyakini tersebut dengan indah, humanis, dan tidak menakutkan. Sebagai orang Islam dia moderat, sebagai negarawan semua kepentingan dicoba untuk dipahaminya, dan sebagai seorang pemimpin dia menyelami nurani orang biasa sebagai manusia yang membutuhkan bimbingan.

Seorang teman pernah berkata, yang dikaguminya dari sosok Gus Dur adalah caranya untuk menanamkan merah-putih di halaman orang Islam, dan berusaha menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin di bumi merah-putih ini.

Banyak prasangka yang berputaran di sekitar figur jenius ini, dan kecacatannya karena berbagai komplikasi penyakit membuat orang mengira dirinya sudah pikun dan tidak bisa berpikir dengan benar – ternyata semuanya keliru. Bahkan hingga September kemarin, saat diwawancara oleh Metri TV, ingatannya masih tajam. Semua kesan tentang orang yang dikenangnya tidak lekang oleh gangguan penyakit yang dideritanya. Bahkan Ibu Sinta Nuriyah menegaskan – Gus Dur adalah orang yang keras hati dan sulit diubah pendiriannya. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin ada orang yang bisa membisik-bisik pada beliau?

Dengan segala bintang mahaputra yang dimilikinya, dan sederet penghargaan dari manca negara, Gus Dur sudah sangat layak disebut sebagai pahlawan. Kalaupun negara tak kunjung juga memberimu gelar pahlawan Gus, yakinlah banyak di antara kami yang selalu menganggapmu pahlawan. Gitu aja kok repot ….

Gus Dur, warisanmu adalah pemikiran moderat yang humanis. Islam yang bersahabat, mengayomi minoritas, memahami perbedaan, dan kemanusiaan di atas segala tata peribadatan agama. Itu tidak akan pernah dipahami kaum Islam yang lebih mengedepankan cara daripada esensi, yang mengatakan membela Islam seolah-olah Allah bukan lah Sang Maha Kuat, Maha Pandai, dan Maha Mengasihi.

Selamat jalan Gus, semoga Allah Swt memberikanmu tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: