Tahun yang Dramatis

Renungan akhir tahun 2009

Fase 5 tahunan membuat tahun 2009 akan sangat dikenang. Duka, gembira, dan drama silih berganti menghiasi tahun ini.

Secara kenegaraan dan kebangsaan, tahun ini adalah tonggak demokrasi yang terpancang dengan benar. Sebuah fase kepresidenan 2004 – 2009 selesai dengan baik, diikuti Pemilu legislatif dan Pemilihan Presiden yang aman, hingga terpilihnya kembali SBY secara mutlak untuk periode kepresidenan yang kedua. Elit politik boleh berkoar, dan oknum tertentu atau bahkan LSM boleh saling menggunakan kekuatan massa untuk black campaign, tapi rakyat Indonesia sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap politik.

Sekali lagi Indonesia berhasil mengukirkan namanya sejajar dengan negara demokrasi besar dunia, karena pluralitas etnis, suku, agama, pekerjaan, tidak pernah menjadi dasar untuk bersengketa apapun perbedaan tersebut. Dengan peringkat jumlah penduduk ke-4 terpadat di dunia, bentuk negara yang bekepulauan, kesenjangan ekonomi dan kondisi sosial budaya, cukup normal bila bangsa ini sulit diatur. Tapi tidak demikian kenyataannya. Bahkan para kampiun demokrasi di Amerika Serikat memuji kondusif-nya keamanan Indonesia sepanjang masa kampanye, hingga selesainya Pilpres 2009.

Tahun 2009 adalah tahunnya Partai Demokrat, karena berhasil mendongkrak suara legislatif secara fenomenal hingga di atas 20%. Kesolidannya mengimbangi bahkan akhirnya mengalahkan partai lama yang sudah mapan seperti Golkar dan PDI Perjuangan. Koalisi Demokrat dan beberapa partai kecil yang tidak mau berada di bawah sayap Golkar maupun PDI Perjuangan bahkan membuat dominasi lebih dari 50% kursi legislatif – sebuah fenomena langka di masa demokrasi terbuka seperti sekarang ini. Tidak berenti sampai di situ, sosok Jenderal (purn) Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung koalisi Demokrat untuk kursi kepresidenan ternyata menang mutlak atas 2 rivalnya – hanya dalam 1 putaran pilpres. Suara rakyat adalah suara Tuhan … bila rakyat telah menentukan itulah yang dikehendaki Allah atas bumi Indonesia ini.

Ekonomi Indonesia ternyata bisa bertahan dari segala bentuk krisis yang telah mendatangkan kesulitan di negeri Paman Sam. Orang boleh menghujat Sri Mulyani dan Budiono yang dianggap sebagai pendukung neolib, tetapi tanpa peran keduanya sebagai menteri dan otoritas Bank Indonesia, belum tentu Indonesia mempunyai skema yang bagus untuk menahan laju inflasi. Hingga akhir tahun 2009, laju inflasi Indonesia bahkan terhitung paling rendah dalam dekade terakhir.

Deru dan gemuruh demokrasi silih berganti menghiasi layar kaca, berkaitan dengan beberapa kasus yang sebenarnya tidak baru sama sekali. Sebelum Pemilu dan Pilpres kasus-kasus tersebut sudah ada, tetapi tidak mencuat. Kita ingat soal ketua-ketua KPK yang entah disengaja atau tidak dikait-kaitkan dengan kasus kriminal lain, yang tidak ada hubungannya dengan penyalahgunaan kekuasaan mereka. Bila Antasari Azhar terlanjur masuk bui dan diproses, sekalipun masalahnya sampai sekarang masih belum jelas benar, ketua yang lain sempat “diselamatkan” oleh Presiden melalui pidato himbauannya. Ketetapan pemerintah akhirnya mengembalikan Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah kembali ke posisi semula.

Yang temasuk paling heboh di tahun ini adalah penerapan undang-undang baru tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang nyaris menjerat Prita Mulyasari ke dalam bui (sekalipun sebelumnya dia sudah mencicipi dinginnya ruangan sel sebagai tahanan kejaksaan). Begitu naifnya cara pandang dan kerja aparat kejaksaan sehingga bunyi sebuah undang-undang yang netral menjadi jerat hukum yang ganas bagi kita orang awam yang kurang paham hukum.

Ketika kasus tersebut maju ke pengadilan tinggi Banten, dan prita terancam denda sebesar 204 milyar, rakyat Indonesia seperti diguncang. Sekelompok simpatisan menggerakkan sisi kemanusiaan anak bangsa, dengan mengumpulkan recehan (uang koin) untuk disumbangkan pada sang ibu muda tersebut. Efek domino menyeruak dengan cepat, hingga ke pelosok negeri. Dalam waktu yang relatif singkat, nilai nominal mendekati 1 milyar berhasil dikumpulkan – entah berapa sebenarnya nilai riil yang berhasil dikumpulkan, karena ada beberapa sumbangan yang tertutup dari pejabat atau tokoh masyarakat.

Bencana, itu pula yang terjadi di tahun ini. Bila 5 tahun lalu gempa dasar laut menyebabkan tsunami di Aceh, kini gempa tektonik juga yang menggoyang kota Padang hingga nyaris rata dengan tanah. Beberapa daerah di Sumatra Barat bahkan seperti terhapus dari peta karena lenyap di telan longsor. Mudah-mudahan hanya kebetulan saja bencana besar ini terjadi berselang lima tahun – dan tidak terjadi lagi seperti itu.

Beberapa tokoh berpulang ke rahmatullah tahun ini. Orang mungkin masih ingat meninggalnya Sophan Sophiaan yang cukup tragis, di kala ia hendak mengkampanyekan kesatuan Indonesia agar tidak terbelah menjelang Pemilu. Mbah Surip yang berlalu seperti komet juga pasti akan dikenang orang – tua, bersinar, melintas, lalu hilang. Tak lama berselang, pujangga fenomenal yang dikenal dengan sebutan sang burung merak WS Rendra juga wafat.

Kunci dari semua kisah di tahun ini adalah meninggalnya Gus Dur, seorang ulama yang negarawan, dan yang dihormati oleh banyak orang, namun masih menuai kritik dari sebagian orang yang justru adalah Islam. Sebagian orang mengatakan, kehadiran Gus Dur terlalu cepat bagi Indonesia – karena sungguh tidak banyak orang yang bisa memahami jalan pikiran beliau. Mungkin bangsa ini tidak akan sama lagi tanpa Gus Dur yang fenomenal – dengan semua kecerdasannya, kondisi fisiknya, dan kontroversi pemikirannya, justru dialah pilihan DPR-MPR pertama untuk menduduki kursi kepresidenan.

Satu dekade hampir usai di millennium ke-3, dan di majalah Time tampaknya belum ada kesepakatan tentang nama yang pantas diberikan untuk menyebut 2000. Apapun itu, yang nyata adalah tantangan di depan.

SELAMAT TAHUN BARU 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: