Bangsa Ini … Besar Dan Mulia

Kapan Kaum Ilmuwan Kita di Manca Negara Beroleh Tempat Di sini?

Karena penasaran, saya nonton Kick Andy sekali lagi sore hari Minggu ini, karena Jumat kemarin sembari terkantuk-kantuk dan tidak tuntas karena ketiduran. Apalagi seorang teman menulis di status facebook-nya mengomentari tayangan tersebut … yang intinya memaklumi mengapa banyak orang pintar anak bangsa yang justru “terpakai” di negeri orang.

Episode yang ditayangkan perdana hari Jumat tanggal 4 Desember tersebut berjudul: BERPRESTASI DI NEGERI ORANG. Mengetengahkan beberapa orang pintar anak bangsa yang “kebetulan” sekarang ini dipercaya sebagai orang penting di luar Indonesia. Dari 7 orang yang seharusnya diundang, hanya 6 yang tidak berhalangan, yakni: Suhendra, Andreas Raharso, Yow Pin Lim, Ken Sutanto, Muhammad Reza, dan Etin Anwar. Nelson Tansu tidak bisa hadir karena kesibukannya.

Mereka adalah orang-orang hebat! Suhendra dan Muhammad Reza di usia pertengahan 30-an telah menjelma menjadi orang penting di Jerman dan Sedia. Ken Sutanto adalah pemegang 4 gelar Doktor dan mencatatkan serangkaian paten di dunia kedokteran di Jepang dan Amerika Serikat. Nelson Tansu adalah profesor termuda di pantai Timur Amerika Serikat, dan pengajar S2 dan S3 di almamaternya Lehigh University.

Yang paling menarik, menurut saya, adalah kisah hidup Prof. DR. Ken Sutanto (kelahiran Surabaya tahun 1951) dan pemikirannya. Sebenarnya ia tidak sempat lulus SMA karena sekolah Tionghoa ditutup, dan ia harus membantu kakaknya berdagang elektronika selama beberapa tahunan. Setelah merasa punya modal, ia menempuh jalan akademis di luar negeri, sekalipun kakaknya tidak setuju. Katanya: Orang sekolah untuk jadi cukong, kalau sudah jadi cukong seperti sekarang kenapa harus sekolah lagi?

Ken Sutanto yang memperoleh gelar PhD dari empat perguruan tinggi yang berbeda, dan sempat bekerja di Amerika Serikat, akhirnya dipanggil kembali ke Jepang dan sekarang menjadi dekan di sekolah almamaternya, Universitas Waseda Tokyo. Sebuah jabatan yang prestisius, karena selama berdiri selama 125 tahun, baru kali ini dipimpin oleh seorang asing – dan orang itu berkebangsaan Indonesia.

Kalau ditanya mau pulang ke Indonesia atau tidak: Ken Sutanto tampaknya tidak akan pulang. Dia berkilah, PhD yang lebih senior daripada dirinya dan harus pulang karena dibiayai perguruan tinggi di Indonesia, ternyata pada akhirnya tidak bisa mengembangkan diri setelah pulang. Tidak ada pekerjaan, istilahnya. No future! Itu di sampaikan padanya oleh rekan-rekannya dalam sebuah kesempatan di Jakarta. Akan tetapi, dengan tegas Ken Sutanto menyatakan tidak akan mengganti kewarganegaraan sekalipun banyak negara yang menawarinya.

Saya pernah membaca, Prof. Nelson Tansu yang berasal dari Medan juga berpikiran serupa. Bahkan sebenarnya tidak ada sebelumnya percaya ia adalah orang Indonesia. Bahkan ada yang mengira ia berasal dari Turki, karena saat itu Perdana Menteri Turki bernama Tansu Chiller.

Seorang teman pernah bercerita, ada seorang warga Indonesia yang dikenalnya sekarang ini menjadi teknisi pesawat terbang paling prestisius di dunia: Air Force One. Tentu saja, dia tinggal di Washington DC dan bekerja dekat dengan bandara yang menjadi landasan pesawat kepresidenan tersebut. Melihat Presiden atau Wapres Amerika lewat yang menjadi sensasi luar biasa bagi orang lain, tidak baginya. Memang kehidupannya tidak bisa di-ekspos karena kerahasiaan yang menjadi bagian dari pekerjaannya.

Penggagas terkumpulnya para ilmuwan tersebut adalah anak-anak muda yang membentuk I4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional). Ketuanya sekarang, Achmad Aditya sekarang sedang menempuh pendidikan pasca sarjana di Belanda, mengatakan bahwa impian anak-anak muda tersebut adalah mengumpulkan pemikiran bagi perkembangan bangsa. Karena paham bahwa mengumpulkan nama-nama orang pintar tidak mudah, target awal mereka adalah 50 orang saja. Pada kenyataannya, sekitar 400-an orang yang akhirnya tercatat.

Pada akhirnya, kita menjadi paham bahwa bangsa ini bukan kumpulan orang-orang yang terpuruk. Kita ternyata memiliki ilmuwan dan pemikir yang diakui di manca negara – sekalipun ternyata belum punya tempat di antara kaum cerdik pandai di negeri ini. Mungkin keahlian mereka masih belum membumi di bumi kita ini, sehingga masih lebih bermakna bagi bumi bangsa lain.

Mengutip kata DR Etin Anwar yang menjadi pengajar studi Islam di Pensylvania, dirinya tidak keberatan kembali ke Indonesia. Akan tetapi, seberapa bermakna ia bagi bangsa ini dibandingkan bila tetap berada di Amerika Serikat dan mengajarkan tentang Islam dan perempuan dalam Islam bagi warga Amerika Serikat.

Saya jadi teringat ucapan DR M. Syafii Antonio dalam tausiah di TVOne siang tadi, bahwa negeri ini tidak bisa makmur walaupun kecukupan sumber daya alam dan manusia, karena selama ini salah urus. Hal ini berbeda dengan kondisi beberapa negara di Afrika yang memang kekurangan sumber daya alam dan lemah dalam sumber daya manusianya.

Bangsa kita baru atau telah berusia 60 tahunan, masih cukup muda sebagai bangsa. Tidak fair membandingkan kondisi bangsa ini dengan negara-negara lain yang berumur lebih tua, atau seumur tapi dengan jumlah penduduk yang lebih sedikit. Indonesia memang dirahmati Allah dengan demografi yang unik: penduduk yang tersebar di 13,000-an pulau dengan bahasa yang beragam, jumlahnya terbesr ke-4 di dunia, letaknya persis di persilangan dua benua dan dua samudera, bahasa persatuan justru bukan dari suku terbesar tetapi mampu mempersatukan keragaman bangsa.

Mungkin banyak orang yang menonton tayangan televisi belakangan ini bingung dan pesimis dengan masa depan bangsa. Peranan media yang dibebaskan oleh pemerintah untuk mengekspresikan apapun yang benar dalam koridor perundangan yang berlaku – sedikit banyak – turut membentuk kebingungan tersebut. Belum selesai mengupas sebuah masalah, sudah berpindah ke kasus lain. Kemudian terjadi penumpukan perhatian pada sebuah kasus, sementara kasus yang lain jadi sedikit terlupakan.

Coba kita ingat, ketika semua orang membahas kasus Prita, semua ikut. Ketika pemilu Presiden, kasus Prita terlupakan. Belum genap mengawal agenda 100 kerja kabinet, semua media bicara soal kriminalisasi KPK. Setelah Presiden angkat bicara, dan kasus KPK reda, semuanya berpindah ke Bank Century. Kelatahan ini menjemukan, karena akhirnya kemanapun memindah saluran televisi hal yang dibahas sama dan berulang-ulang. Narasumber yang sama diundang ke sana kemari untuk berbicara hal yang sama.

Kita ini mudah lupa, atau mudah kehilangan interes. Ketika sudah membahas kasus baru, kasus lama kehilangan daya tarik. Kita mungkin sudah lupa bagaimana Polri berhasil menghapus gembong teroris Norrdin M Top. Episode baru Prita mencuat lagi, saat ibu muda itu harus berjuang menghadapi tuntutan 200 juta-an. KPK belum tuntas. Agenda 100 hari masih perlu dikawal. Pembersihan di tubuh Polri, Kejagung, dan KPK harus tetap diawasi.

Pada tanggal 9 Desember nanti, rencananya akan digelar demo anti korupsi besar-besaran yang menurut saya bagus sekali. Sayangnya, seperti biasa, akanbanyak kaum oportunis yang siap naik panggung lagi … meneriakkan anti korupsi ketika sebenarnya mereka telah kenyang dengan duit korupsi.

Dalam tausiah bersama Syofii Antonio, mantan Menpora Adhyaksa Dault menggaris bawahi kondisi riil bahwa korupsi di negeri tercinta ini 20% dikarenakan kebutuhan sementara yang 8-% disebabkan keserakahan. Mindset yang salah telah berkembang bertahun-tahun, bahwa sah bila pejabat punya rumah dan tanah yang luas. Sudah umum bila eks menteri selalu bertambah kaya. Bagaimana mungkin bertambah kaya bila pensiun seorang menteri hanya berbilang 2 – 3 juta rupiah per bulan.

Bangsa ini memang sedang belum sepenuh bangkit dari keterpurukan setelah berpuluh tahun terbenam dalam keasyik masyukan korupsi. Justru semakin sering kita mendengar kasus korupsi di media massa, kita harus bersyukur sebab arahnya sudah benar: KORUPSI HARUS DITRANSPARANKAN.

Saya masih sangat meyakini, Allah Swt telah memilihkan orang-orang terpilih untuk memimpin bangsa ini, lepas dari kelebihan dan kekurangan mereka. Saya tetap yakin bahwa Presiden sekarang, Susilo Bambang Yudhoyono, merupakan penjelmaan aspirasi rakyat yang sah. Kalaupun ada yang tidak menyukai beliau, itu hak mereka, karena rakyat telah memutuskan sesuai nurani mereka. Buktinya, beliau mutlak memenangkan Pemilu yang legitimate. Suara rakyat adalah cerminan ijin Tuhan.

Ya Allah ya Rob, semoga bangsa ini segera memberikan tempat bagi kaum cerdik pandai yang sedang menyumbangkan pikiran di negeri orang. Kalau mereka yang pandai tersebut mengamalkan ilmu mereka bagi bangsa … semoga bangsa ini kian menjadi teladan bagi bangsa lain di dunia.

5 Responses to “Bangsa Ini … Besar Dan Mulia”

  1. Assalamu alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Wahai Saudaraku di seluruh penjuru dunia maya,

    Akhirnya tahun baru telah tiba…
    Tahun penentuan, apakah kita akan tetap jatuh terpuruk semakin jauh ke dalam kubangan kehinaan,
    Ataukah kita akan bangkit berhijrah menuju ke arah datangnya cahaya kemenangan di depan.

    Baca selengkapnya di

    http://dir88gun0w.blogspot.com/2009/12/happy-new-year.html

    —————————————————–
    INDONESIA GO KHILAFAH 2010
    “Begin the Revolution with Basmallah”

  2. yah itulah keseimbangan semesta, keadilan tuhan

    negara ini orangnya pintar2, rajin2 cantik-ganteng, sumber dayanya dahsyat, yah biar adil, kasih pemerintah yang gubrakz minta ampun.. kan jadi adil

  3. peduli pendidikan Says:

    ya karena pendidikan di indoensia lebih mudah dan mahal. Perguruan tinggi emper toko sudah banyak. Sarjana mdah didapat dengan skripsi jadi-jadian tapi biaya cukup mahal. wah mudah jadi sarjana hanya 40 hari. contohnya para guru semua di Indoensia sekarang lagi wabah sarjana dadakan. makanya tidak mau kalau ada orang pandai di luar masuk ke Indoensia sebab akan banyak yang membatalkan gelar. s1 – s3 banyak yang palsu. anehnya lagi para politis dan pemimpin politik bahkan bupati dan banyak lagi mau contoh gampang saya punya bukti.

  4. peduli pendidikan Says:

    banyak para kaum ulama lebih berpikir kepentingan agamanya sendiri ketimbang kepentingan bersama. dibidang lapangan kerja dimanapun masih terjadi rasisme di Indonesia. syarat masuk harus bisa ngaji dan sholat harus tidak berjilbab harus bergama ini agama lain tidak bisa masuk. harus suku ini bukan yang lain. para ulama lebih cenderung menyerang agama lain bukan untuk membantu saling mendukung untuk Indonesiaku yang kucintai. Para politisi tidak mendukung bahkan memiskinkan rakyat bikin gedung mahal-mahal padahl masih bagus. masih lagi para preman berseragam masih saja berkeliaran baju ijo dan coklat serta baju biru sering mintain uang ke setiap pengusaha dan toko-toko dengan alasan uang kemanan ha….ha…. kenapa Indonesiaku banyak penjahat berdasi dan berjubah pendeta dan kyai. tidak suka dengan saya tidak apa tapi ini nyata. saya merasakannya walau saya bukan pengusha saya adalah korban semua itu

  5. saia sungguh terkesan dengan para ilmuwan Indonesia yang berkiprah di luar negeri.. Menurut saia.. selama mereka mengembangkan Ilmu pengetahuan dan tetap merupakan seorang WNI.. itu sudah cukup…

    Bukankah bumi Allah ini luas.. kita tidak perlu membatasi diri dengan hanya berada di negara kita..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: