Lingkaran Bingung KPK, POLRI, Kejagung

Catatan akhir November 2009

 

Gara-gara celetukan sang perwira Polri (yang sekarang sudah dilengser) … “Cicak kok mau melawan buaya …” istilah cicak dan buaya untuk menyebut KPK dan Polri menjadi jargon khas perseteruan kedua lembaga penegakan hukum tersebut.

plesetan yang "kena"...

Awalnya, sang perwira kebakaran jenggot (walaupun dia tidak berjenggot) ketika tahu KPK telah menyadap teleponnya berkenaan dengan dugaan keterkaitan dengan kasus Bank Century. Dari sana kemudian bergulir dugaan kriminalisasi petinggi KPK (saya tidak akan menyebut kriminalisasi KPK – karena sebenarnya yang dicoba untuk dikriminalkan adalah ketua-ketuanya), yang berawal dari testimoni Antasahari Azhar.

Setelah permainan bergulir, dengan melibatkan pula banyak advokat “selebritis” yang kondang dan sering muncul di layar televisi, kasus pun semakin membingungkan orang yang mengikutinya. Masing-masing pihak mengemukakan versi kebenarannya sendiri, dan menyudutkan pihak lain. Lebih ramai lagi, media massa memihak ke salah satu kubu, bundaran HI tak lelah menjadi saksi demo saling dukung, dan televisi menggelontorkan berbagai ragam berita, wawancara, dan opini tentang perseteruan “sang cicak” melawan “sang buaya”.

Karena kedua kubu berada di bawah koordinasi RI-1, rakyat meminta Presiden menengahi. Presiden kita yang selalu berhati-hati dalam setiap tindakan membuat beberapa petinggi partai tidak sabaran. Menurut mereka, sebenarnya Presiden bisa saja dengan mudah menengahi dan membuat ketetapan, karena toh keduanya di bawah sayapnya.

Apakah semudah itu?

Jawabannya YA, kalau negara ini mau bergerak dari alam republik yang demokratis ke republik yang totaliter. Jawabannya TIDAK, kalau kita masih menginginkan trias politika dijalankan dengan konsekuen: fungsi eksekutif, legislatif, dan yudikatif bermain di arenanya masing-masing.

Untunglah SBY terbiasa menangani kondisi krisis, sehingga ia menemukan cara untuk mengulur waktu sambil menenangkan massa, di saat banyak hal harus dipikiran dan diendapkan. Dibentuklah Tim 8 dari Dewan Pertimbangan Presiden yang bertugas mencari data dan fakta tentang kasus “cicak” vs “buaya” tersebut. Sederet nama besar menerima amanat Presiden untuk bekerja sebagai perpanjangan tangannya, yaitu: Adnan Buyung Nasution (ketua), Koeparmono Irsan (wakil), Denny Indrayana (sekretaris), Anies Baswedan, Todung Mulya Lubis, Amir Syamsudin, Hikmahanto Juwana, dan Komaruddin Hidayat.

Pasti ada alasan yang signifikan sehingga Presiden melibatkan beberapa elemen di dalam tim 8 tersebut, bukan hanya para praktisi hukum, seperti teknokrat, politisi, dan mantan polisi. Dalam forum perbincangan dengan The Jakarta Lawyers Club yang diselenggarakan oleh TV-One, seorang lawyer rupanya tidak puas dengan pelibatan unsur non-praktisi hukum. Jauh sebelumnya, saat baru pertama dibentuk, banyak sekali skeptisme terhadap tim ini. Bahkan sebelum tim ini bekerja, dan belum jelas cara kerjanya. Begitu seseorang bersuara di layar kaca, budaya latah muncul lagi … semua orang merasa benar dan berani mengomentari kinerja tim 8 ini.

Setelah tim 8 bekerja, respek pun datang, dan banyak pihak yang berharap temuan dan rekomendasinya akan dilaksanakan oleh Presiden. Saya sudah menduga, Presiden tidak akan mempergunakan semua rekomendasi tim 8, karena beberapa indikasi sudah terlontar. Misalnya, wacana bahwa rekomendasi bukan keharusan untuk dilaksanakan, Presiden akan mengoleh rekomendasi tersebut, dsb. Apalagi, dalam rekomendasi tersebut, sadar atau tidak, telah meminta Presiden selaku eksekutif menyeberang ke ranah lain (yudikatif) – yang selama ini berusaha dihindarinya.

Justru bunyi pidato SBY yang cenderung netral sudah saya duga sebelumnya. Selama ini SBY dikenal moderat dan tidak suka pada pemikiran ekstrim, sehingga wajar bila Presiden tidak memihak pada salah satu lembaga, dan mencoba adil pada semua lembaga di bawahnya: Kepolisan, KPK, dan Kejaksaan Agung. Presiden dengan tegas tidak akan mencampuri proses hukum yang berlaku. Di sisi lain, sekalipun Presiden hanya menghimbau agar proses kedua Ketua KPK (Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah) tidak sampai ke pengadilan, tetap saja ujungnya adalah intervensi.

Seorang pengamat politik dalam sebuah perbincangan dengan Metro TV mengatakan, sekalipun Presiden mengatakan dengan eksplisit tidak akan intervensi, bagaimana mungkin himbauannya pada akhirnya tidak mempengaruhi keputusan Kapolri dan Jaksa Agung? Faktanya, Polri dan Kejagung yang sebelumnya yakin kasus Bibit-Chandra layak maju ke pengadilan, akhirnya membuat keputusan sebagaimana yang diamanatkan oleh Presiden – membebaskan Bibit-Chandra.

Bukan hanya itu, kembali sebagaimana amanat Presiden, Polri langsung melakukan mutasi perwira. Kejaksaan Agung lebih lambat dalam melakukan aksi, dan kiprah KPK belum diketahui. Menkominfo yang baru – Tifatul Sembiring – menegaskan akan membuat aturan untuk penertiban sadap menyadap yang selama ini membuat KPK seperti sebuah super body.

Episode Bibit-Chandra telah memasuki tahap akhir, dan lepas dari puas atau tidaknya semua pihak dengan intervensi Presiden, semoga lembaga-lembaga penegakan hukum segera bisa kembali berkolaborasi dan bersama-sama kembali mengikis korupsi di muka bumi Indonesia. Episode Antasahari belum juga kelar, sekalipun menurut saya kasusnya jadi semakin aneh. Banyak yang dipaksa-paksakan sebagaimana kasus Bibit-Chandra.

Rakyat Indonesia sudah menunggu, bagaimana kelanjutan kasus-kasus panas yang sekarang sedang bergulir – terutama kasus Bank Century yang diduga melibatkan banyak pejabat. Perlahan-lahan gunung es korupsi mulai menampakkan bagian yang selama ini tersembunyi. Kita harus akui bahwa negeri ini masih pekat dengan korupsi, namun saya yakin kebenaran akan menampakkan diri, dan dengan perlindungan dari Tuhan semua keburukan akan terkalahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: