Harga Sebuah Kehidupan dan Sebuah Kematian

Di antara perbincangan tentang kasus POLRI vs KPK, menyeruak sebuah berita kecil tentang kematian seorang perempuan di kamar apartemennya. Perempuan yang konon berprofesi sebagai model tersebut ditemukan tewas dalam keadaan hampir telanjang di kamar mandi, dengan luka fatal di bagian belakang kepala. Pada saat ditemukan, jenazah tersebut sudah mulai mengalami pembengkakan karena sudah tewas lebih dari dua hari.

Berita lanjutan yang saya temukan adalah fakta bahwa: Perempuan yang bernama Setianti Dwi Retno tersebut juga berstatus mahasiswi STAN Purnawarman, berusia 24 tahun. Tempat tinggalnya yang berada di apartemen Mediterania Garden (bernilai kontrak sekitar 39 juta pertahun) berbeda dengan tempat tinggal orang tuanya di Jagakarsa (yang untuk sampai ke sana harus melewati jalan tanah merah).

Polisi sedang mengusut kasus ini, karena banyak informasi yang harus dipastikan karena tidak sembarangan orang bisa masuk ke apartemen berlantai 25 dengan penjagaan satu pintu di lobby. Salah satunya adalah kemungkinan keterlibatan orang dalam, atau yang sudah dikenal korban, sehingga pelaku bisa melenggang melewati security. Hilangnya barang dan uang dari dalam apartemen bisa jadi hanya kamuflase, untuk menutupi sebuah skenario yang lebih dalam.

tanpa iman... bagai topeng hampa

tanpa iman...bagai topeng hampa

Yang menarik perhatian saya justru sosok almarhumah sendiri, yang menurut penilaian saya cukup kontroversial. Sekalipun profesinya adalah model, dia bukan bintang apalagi supermodel. Selain masih kuliah – yang mengindikasikan bahwa profesinya belum full time – ia juga masih punya orang tua yang ditanggungnya (sesuai bunyi berita). Namun demikian, ia bisa mengontrak sebuah apartemen dengan harga yang tidak murah – dan tinggal hanya dengan pembantunya.

Siapapun yang bisa berpikir akan mudah berprasangka pada sosok Tia ini, karena banyak kejanggalan dan ketidak wajaran. Sekian puluh juta untuk sewa apartemen, bukan hal yag wajar, apalagi apartemen tersebut dikenal karena ketatnya akses masuk. Bahkan orang tuanya pun tidak tahu jelas pekerjaan anaknya sehingga bisa membiayai kehidupan mewah seperti itu. Kematiannya yang tidak wajar seperti itu juga menjadi indikasi bahwa ada hubungannya dengan gaya hidupnya yang glamor.

Kita masih ingat penyanyi cantik Alda Risma yang juga meninggal dengan kontroversi dan ketidak wajaran. Penggemarnya tentu masih ingat betapa cantiknya dia ketika masih hidup, namun betapa mengenaskan kondisinya ketika meninggal. Apa yang sebenarnya terjadi pada almarhumah semasa hidupnya hingga harus menemui kematian seperti itu, tidak banyak orang yang tahu.

Dari berbagai data yang ada, kedua contoh di atas bukanlah perempuan bodoh yang mudah dipermainkan. Sebaliknya malah. Tia pernah berprestasi di sekolahnya hingga ke level nasional (menurut sang Ibunda), sementara Alda punya talenta yang bagus termasuk caranya berpikir. Yang menjadi persoalan adalah, bagaimana mungkin mereka lantas terjebak ke dalam sebuah siklus yang menyebabkan mereka mati dalam keadaan yang tidak baik?

Cantik, kaya, hidup mudah dan glamor, mungkin hal itu menjadi tujuan banyak perempuan. Untuk itu, mereka bisa mengorbankan apa saja, termasuk idealisme hidup (itupun kalau mereka sebelumnya punya). Idealisme yang paling jelas adalah akidah keimanan. Kesenangan hidup yang boleh jadi menjadi pengikis utama keimanan justru menjadi cita-cita. Dorongan itu semakin kuat dengan munculnya acara televisi yang mengetengahkan kehidupan megah selebritis, dunia hiburan yang menjanjikan uang cepat dengan hanya berbekal kecantikan, dan tema-tema sinetron yang memuja kemewahan.

Di jalur kehidupan duniawi, segala hal diukur dari kuantitas, dan pandangan orang lain merupakan tolok ukur. Oleh karenanya, ketika harta atau popularitas mereka akhirnya menjadi patokan berperilaku, termasuk standar gaya hidup. Seperti meminum air laut, semakin direguk semakin haus jadinya. Orang akan mengupayakan berbagai hal untuk menjaga keberadaannya di dunia penuh kemewahan tersebut. Bahkan kalau bisa tumpukan harta itu semakin tinggi, agar memuaskannya. Semakin tinggi tumpukan harta itu, kepuasan justru semakin menjauh.

Benarlah peringatan Allah yang tertuang dalam Surat At-Takatsuur:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu ,

sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui ,

dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.

Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,

niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,

dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin .

kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan .

Bermegah-megahan, yakni beradu kemegahan, dengan mencoba menambah lagi tumpukan harta, akan membuat manusia lalai. Tidak akan sadar manusia terhadap hal itu hingga kematian tiba. Allah telah mengingatkan kita untuk “jangan begitu”!

Manusia diingatkan bahwa akan tiba pengetahuan akan kehidupan setelah kematian tersebut, dengan ancaman pada neraka jahim. Di akhirat manusia akan ditanyai tentang kenikmatan yang didapatkan dengan hasrat bermegah-megahan tersebut.

Kehidupan di dunia ini tidak lah langgeng. Rasulullah wafat pada umur 60-an. Ada yang bertahan hingga lebih dari 80-an. Namun, semakin banyak pula anak-anak muda belasan atau awal dua puluhan yang juga mati dengan cara apapun. Umur manusia memang menjadi rahasia di langit, dan tak seorang pun (bahkan malaikat dan jin) pasti mengenai hal tersebut. Kematian adalah kepastian, namun kita dilarang untuk mencarinya, apalagi menyongsongnya dengan sengaja.

Kematian manusia – dan saat-saat terakhir menjelang keluarnya ruh – seringkali menunjukkan amalan mereka selama hidup di alam fana ini. Tidak ada kematian yang indah, namun ada kematian yang tidak menakutkan. Itulah sebabnya, kematian yang khusnul khotimah (yang baik pada akhirnya) adalah harapan kaum muslimin. Kematian dengan senyuman di bibir, dan tidak menimbulkan bekas sakit, aroma yang wajar, dan tidak menyulitkan siapapun yang menyelenggarakan jenazah maupun orang yang ditinggalkan, adalah sedikit di antara tanda-tandanya.

Sebaliknya, kematian yang mengenaskan, mungkin aurat yang terbuka atau wajah yang sudah berubah mengerikan saat ditemukan, apalagi bila kemudian gambarnya dimuat di media massa, adalah sedikit dari tanda kematian yang tidak baik (shu’ul khotimah).

Seringkali saya mengelus dada ketika melihat orang yang cantik atau tampan semasa hidupnya, meninggal dengan kondisi yang tidak wajar. Menjadi bahan cerita media massa, jenazah yang mengenaskan, dan ketika sudah tidak bernyawa hilanglah semua kemegahan dirinya yang dibanggakannya selama ini. Berbeda dengan orang yang meninggal karena sakit, dan semasa hidupnya penuh dengan amalan yang baik.

Ketika di televisi menyaksikan ulah seorang penyanyi cantik yang ditalak suaminya karena selingkuh berkali-kali, saya berpikir … sebenarnya apa yang dicarinya di dunia ini? Ketenaran dan julukan diva sudah didapatkan, suami yang soleh yang mendukung kariernya, anak-anak manis yang lengkap, harta dunia yang lebih dari cukup … semuanya tercampakkan karena alasan yang tidak habis saya pahami. Sebenarnya, tidak sadarkah dia bahwa kecantikan ini hanyalah pembungkus, dan harta tak akan dibawa mati?

…kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan .

Yakinlah bahwa semua kemewahan dunia ini akan berakhir. Ketika itu terjadi, kita manusia ini tinggal seonggok jasad yang membeku, tidur sendiri di dalam tanah, makan dan perlahan-lahan membusuk untuk akhirnya menjadi satu dengan zat yang membentuk kita… tanah. Begitu orang terakhir meninggalkan tanah pekuburan, saat itulah proses interogasi oleh malaikat kubur dimulai. Semua kenikmatan dunia dan kemegahan yang kita miliki haru skita pertanggung jawabkan.

Harga hidup kita di dunia ini hanyalah sebatas umur kita, namun dampaknya akan kitab hingga hari pembalasan bahkan setelahnya. Sungguh naif bila manusia mengorbankan segala akidah hanya untuk mencari dunia. Islam mengajarkan: bila manusia mencari dunia, dia akan memperoleh dunia. Bila manusia mencari akhirat, dia akan memperoleh dunia dan akhirat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: