ANAKKU PENCURI?

Sepekan atau dua pekan berselang, seorang teman lama curhat tentang anaknya yang belum lama masuk SMP. Dia punya feeling yang tidak enak tentang anak tengahnya ini, yang kebetulan juga satu-satunya yang laki-laki. Dari ketiga anaknya, hanya anak kedua inilah yang belum dapat dipahaminya dengan sepenuhnya.

Teman saya itu (sebut saya Marta) bersama-sama dengan suaminya membuka dan mengelola apotek yang cukup sukses di sebuah kota di Jawa Timur. Ia bercerita, setiap hari selalu ada setoran berbilang puluhan juta di rumahnya yang akan disetorkan ke bank esok harinya. Uang tersebut tidak di simpan rapih di tempat terkunci, tetapi yang tahu perihal penyimpanannya hanya dirinya, suami, dan anak-anaknya. Seringkali, hitungan awalnya dengan saat hitungan petugas bank berselisih 2 hingga 4 lembar dalam satu ikatan uang. Pada awalnya ia hanya berpikir, mungkin dirinya yang salah hitung. Tentu saja, ia jadi malu bila ternyata bendelan uang yang disetorkannya tidak sejumlah yang dituliskan di slip setoran.

Ketika anak laki-lakinya itu dikhitan, plus saat Lebaran kemarin, sebagaimana lazimnya banyak angpao yang masuk ke sakunya. Semua angpao tersebut diserahkan kepada mamanya untuk disimpan. Jadi, Marta tahu persis berapa jumlah uang anaknya. Ia mengakui anaknya cenderung boros, misalnya beberapa kali mentraktir kakak dan adiknya es krim atau makanan lainnya. Ia juga suka komik dan mainan yang cukup punya harga (mobil-mobilan Hot Wheels misalnya).

Suatu pagi, Marta bersih-bersih kamar anaknya – kali  ini lebih dalam. Ketika membuka loker si anak, di sana didapatinya komik-komik serial yang mencapai puluhan jumlahnya, dan mainan yang tidak murah. Mobil-mobilan Hot Wheels, mobil Tamiya, dan jenis lainnya ada di sana. Ia menaksir nilainya pasti lebih dari 500 ribu rupiah. Dan yang lebih pasti,  sebagian besar bukan ia yang membelikannya.

Perlahan ia kumpulkan ingatan, dan dengan bantuan informasi dari anak-anaknya yang lain, Marta baru menyadari bahwa anaknya sering pulang membawa mainan atau komik baru. Bukan hanya sering, tapi hampir setiap hari.

Marta segera dilanda kebingungan, karena ia tidak ingin suaminya tahu persoalan ini. Adat suaminya yang keras dan keteguhan pada aturan agama membuatnya bisa memprediksi apa yang terjadi bila ia tahu anaknya telah menjelma menjadi pencuri kecil. Di sisi lain, ia tidak tahu harus berbuat apa…..

Puncaknya, siang itu saat anaknya pulang sekolah, ia mendapati uang sebesar 350 ribu berada di dalam tasnya.

 

Tinjauan

child_stealing-cropMencuri – atau mengambil barang orang lain secara diam-diam (sekalipun itu adalah milik orang tuanya sendiri) – bukanlah perilaku natural seorang anak. Apalagi orang tua sudah melambari ajaran agama dan norma yang membedakan perilaku yang benar dan keliru. Dorongan untuk melakukan tindakan tersebut seringkali bukan murni didasari atas keinginan menguasai milik orang lain, melainkan hal lain yang tidak terkait langsung dengan esensi mencuri.

Misalnya, seorang anak yang mendapati teman-temannya memiliki mainan yang mahal dan bergengsi, akan berkecenderungan untuk memiliki hal serupa. Kalau akses untuk mendapatkannya dengan cara normal tidak ada, ia akan mencoba cara apapun. Tujuan akhir dari memiliki benda tersebut bukan sekedar kepuasan, melainkan juga pada harga diri di mata teman-teman yang lain.

Oleh karena itulah, saran saya pada Marta adalah mengenali teman-teman anaknya. Langsung maupun tidak, lingkungan pergaulan mempengaruhi cara anak berpikir, bersikap, dan berperilaku. Orang tua memang selalu menjadi tempat anak kembali bila dalam masalah atau kesulitan, namun teman-temannya menjadi acuannya dalam berperilaku. Kalaupun orang tua pernah membentuk karakter anak, perannya akan tergeser oleh penerimaan teman sebaya.

Teman sebagai kelompok referensi ini bisa bersifat langsung maupun tidak. Berpengaruh langsung apabila anak menjadi anggota kelompok, tidak langsung bila anak hanya sebatas simpatisan. Sekalipun tidak langsung, menjadi sama atau setara dengan orang di dalam kelompok acuan adalah keinginan seorang anak. Standar perilaku yang ditetapkan kelompok tersebut menjadi acuan bagi anak-anak lain yang ingin dianggap seperti mereka. Misalnya, kalau ingin dianggap cool harus ikut trend permainan elektronik yang canggih, harus punya pakaian dengan model yang trendy, harus bisa mengikuti arus pembicaraan soal tokoh kartun Ben10, dsb.

Saat anak menjadikan kelompok acuan sebagai referensi perilaku, sebenarnya tidak ada kaitan secara langsung dengan munculnya perilaku pencuri. Sebuah tindakan kriminal seperti itu terjadi bila ada kesempatan dan ada kemauan untuk melakukannya. Naasnya, karena sangat percaya pada anak-anaknya, Marta selama ini tidak pernah menyimpan uangnya dengan baik. Oleh karena itu, saya menyarankan padanya untuk membeli sebuah petty cash box sebagai media penyimpanan sementara.

Berangkat dari pengalaman pribadi dan pengamatan pada remaja pada umumnya, saya menyarankan Marta untuk mengajak bicara anaknya empat mata dari hati ke hati. Tanpa kehadiran orang lain, termasuk kakak dan adiknya. Dengan melakukan pendekatan personal, yang ditekan adalah hasrat untuk mencuri, sekalipun banyak kesempatan yang terjadi. Dalam kaidah transactional analysis, saat melakukan pendekatan personal orang tua diharapkan turun dari level parent ke level adult, sementara si anak naik dari level child ke level adult. Dengan demikian, pembicaraan menjadi setara.

Saya wanti-wantikan kepada Marta untuk menekan egonya sebagai orang tua, karena bila anak merasa tidak nyaman dengan perlakuan orang tua yang mengedepankan ego orang tua, saya khawatir anak akan menjadi defensif bahkan menutup diri. Sama dengan kita – orang dewasa yang melakukan kesalahan – bila dihadapi boss secara bossy (boss bermain di level ego orang tua dan kita diperlakukan sebagai ego anak) kita akan defensif dan mengelak. Beda dengan boss yang memperlakukan kita sebaga kolega yang keliru.

Saya pribadi selalu mencoba memperlakukan kenakalan atau ketidak patuhan anak sebagai kekeliruan, bukan kesalahan. Mungkin bagi orang lain keduanya punya makna yang sama, tetapi bagi saya tidak. Keliru adalah ketidak mampuan memahami norma kebenaran yang ditetapkan orang tua, sementara salah menunjukkan kegagalan mematuhi hal yang benar.  Karena itu, konsep keliru selalu saya terapkan pada individu yang sedang belajar, sementara salah terjadi pada individu yang gagal menempuh sebuah norma yang sudah disepakati bersama.

Untunglah, teman saya Marta sudah terbiasa berbicara dari hati ke hati kepada semua anaknya, memberikan wejangan setelah sholat Maghrib. Alhamdulillah, dia mencerna pesan saya dan berhasil mengajak anaknya bicara terbuka. Anaknya mengakui semua kekeliruannya, dan meminta maaf kepada ibunya.

Belakangan, Marta menceritakan bahwa anaknya mengeluh kepalanya pusing namun ia tidak mendeteksi adanya infeksi atau demam. Sebenarnya hal tersebut adalah gejala psikosomatis yang wajar pada individu yang mengalami stress karena kehilangan sesuatu yang disukainya.

 

Kesimpulan

Analogi mendidik anak adalah bagaikan memegang seekor burung di tangan. Kalau terlalu keras dia akan mati, kalau terlalu longgar dia akan lepas. Lebih pelik lagi, karena manusia memiliki akal budi, ia bisa membantah, berkilah, menipu, berpura-pura, dan mempermainkan emosi orang tuanya.

Orang tua yang menganggap anaknya adalah anak-anak, sekalipun si anak sudah di sekitar usia akil baligh, sebenarnya telah membuat kekeliruan. Sudah saatnya orang tua berhenti bicara – barang sebentar – dan mulai mendengarkan. Bukan sekedar mendengar (hear) tetapi mendengarkan (listen) – yang bermakna mendengar secara aktif. Bila orang tua tidak juga mau berhenti bicara, dan cenderung menguliahi anaknya, mereka akan semakin kehilangan pegangan pada si anak.

Secara umum, orang tua cenderung marah bila anaknya yang masih SMP pacaran. Si anak akan di sidang dan kata-kata klasik akan keluar: “Kamu tidak boleh pacaran, masih kecil, belum waktunya.” Padahal dulu, si orang tua ini waktu SMP juga curi-curi kesempatan untuk pacaran.

Menyukai lawan jenis adalah hormonal, dan wajar terjadi pada anak yang mulai akil baligh. Seringkali yang dimaksudkan dengan pacaran hanyalah menyukai saja, makan bakso bersama, duduk-duduk dan curhat-curhatan. Tidak lebih. Namun demikian, bila kondisi ini lebih intens, orang tua harus curiga bahwa ada saluran komunikasi yang terhambat di rumah. Akibatnya, anak mencoba mencari penyaluran di luar – di antaranya dengan berpacaran.

Membina generasi baru adalah tugas orang tua, dan anak yang sholeh dan mendoakan orang tua akan menjadi bekal di akhirat. Karena itulah, kita sebagai orang tua harus dengan cermat mengingat konsep ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: