TIDAK MAU MENGALAH

Seorang anak lelaki disuruh ayahnya pergi ke kota untuk membeli tepung roti. Anak lelaki itu segera berangkat berjalan kaki. Jarak antara desa tempat tinggalnya dan kota cukup jauh juga. Di perjalanan ia harus melewati sebuah jembatan kecil.

Kini ia tiba di ujung jembatan kecil itu. Di seberang jalan ia melihat seorang anak lelaki lain yang berjalan ke arahnya. Mereka berdua sama-sama berjalan di jalur yang sama. Hingga tepat di tengah-tengah jembatan itu mereka saling berhadap-hadapan. Keduanya berhenti dan berpandangan. Anak lelaki itu berpikir, “Wah, kurang ajar sekali anak ini. Dia tidak mau mengalah dan memberikan jalan padaku.”

Di saat yang sama, anak lelaki lain itu berpikiran hal yang sama, “Seharusnya dia yang mengalah dan memberikan jalan padaku.”

Lama keduanya saling berdiri di tengah jembatan tanpa ada satu pun yang mau mengalah dan memberikan jalan. Keduanya sama-sama berpikir bahwa “Aku harus berteguh hati dan kuat pendirian.” Keduanya saling berpandangan tanpa ada satupun yang berbicara atau bergerak.

Siang pun tiba. Di rumah, ayah dari anak lelaki yang hendak pergi ke kota itu mulai cemas memikirkan mengapa anaknya belum juga kembali. Sang ayah lalu bergegas menyusul anaknya ke kota. Hingga akhirnya ia sampai di jembatan dan melihat ke dua anak lelaki itu saling berdiam dan berhadap-hadapan.

Sang ayah berteriak pada anak lelakinya, “Wahai anakku, mengapa engkau berdiri di situ?”

Anak lelakinya menjawab, “Anak lelaki ini menghalangi jalanku. Ia sama sekali tidak mau mengalah. Bagaimana aku bisa berjalan jika ia menutup jalanku?”

Sang ayah mulai kesal. Ia lalu berkata pada anaknya, “Sudahlah anakku, sebaiknya kau minggir dan segera pergi ke kota untuk membeli tepung. Biar ayahmu ini yang berdiri di sini menggantikanmu dan tidak memberikan jalan pada anak lelaki yang tidak tahu diri ini!”

(Kisah di atas saya temukan dari kiriman email sebuah milis yang saya ikuti, dan disebutkan asalnya adalah sebuah Chinese Wisdom)

Sekilas, kisah di atas seperti sebuah kelakar, namun bila kita amati lebih jauh betapa banyak kemiripan dengan pengalaman yang kita alami sehari-hari.

Secara harafiah, kita sering terbentur pada kondisi tanpa pilihan kecuali berhenti atau bahkan harus mundur, khususnya bila berkendara dengan roda 4 memasuki sebuah jalan kecil. Betapa sering kita harus memiringkan tubuh saat berpapasan dengan orang-orang di pasar atau di tempat umum karena lebar jalan yang tidak memungkinkan.

Akan akankah orang akan bertoleransi seperti memundurkan atau menepikan mobil, atau memiringkan badan, bila merasa kuat dan yakin akan menang? Belum tentu.

Kalau kita sempat memperhatikan bus atau truk di jalan raya, bagaimana sopirnya biasa berperilaku? Sudah bukan rahasia lagi bahwa, bus atau truk terbiasa “memakan” jalur berlawanan karena yakin sekali mobil lain yang lebih kecil akan menepi. Seorang preman yang berbadan besar tidak akan menepi bila berpapasan dengan orang lain, karena ia meyakini lebih berkuasa dan tidak perlu mengalah, bahkan orang lain lah yang harus mengalah.

Mengalah bukan berarti kalah, dan kalah bukan berarti mengalah. Orang yang mengalah memiliki tujuan, sementara orang yang kalah adalah akibat fatal dari sebuah benturan yang tidak dimenangkan. Persamaannya, keduanya belum tentu gagal.

Mengalah bukan sifat alami manusia, karena ia tumbuh dari sebuah konsep yang bernama toleransi. Karena memiliki dan mengembangkan akal budi, manusia bisa mengalah sekalipun lebih kuat dan bisa menang. Binatang mengalah bukan karena toleransi tetapi karena yakin tidak akan menang bila melawan. Kalau badannya sama kuat mungkin binatang itu akan melawan. Negara demokrasi terbangun karena unsur toleransi dan mengalah untuk mencapai tujuan politik para pelakunya. Di kalangan politisi, mengalah untuk menang sudah menjadi bagian dari napas kehidupan sehari-hari.

Kita pernah mendengar konsep win-win solution, yang lebih kurang bermakna penyelesaian menang-menang. Apakah berarti sama-sama menang? Kenyataannya tidak demikian. Orang bisa menganggap dirinya menang bila mencapai tujuan, sekalipun tidak bisa mendominasi. Karena saling merelakan sebagian dari dominasi tersebut, kemudian orang bisa memperoleh hal yang diinginkannya. Jadi, di sebuah sisi kemenangan dalam win-win solution adalah aspek kalah atau mengalah.

Karena bukan sifat manusiawi, mengalah butuh latihan. Anak kecil yang sedang bermain bersama teman-temannya, pada awalnya tidak mengenal istilah mengalah. Kemauannya adalah dominan dan mendominasi. Mainannya tidak boleh dipinjam temannya tapi kalau pinjam harus diberi. Anak yang berusia lebih tua (sekalipun hanya beberapa bulan) dengan mudah akan mendominasi teman yang lebih muda. Di titik awal sosialisasi dengan teman-temannya inilah seharusnya anak dilatih untuk bertoleransi dan mengalah.

Tidak mengalah adalah membatu, seperti tembok. Karena tidak fleksibel, cara untuk melaluinya adalah dengan merobohkan atau melobanginya. Orang dengan pribadi yang seperti itu hanya mengundang orang untuk memusuhi, atau membuat orang berbalik karena tidak suka berhubungan.

Apakah dengan demikian banyak mengalah adalah hal yang utama? Tidak juga. Bagaimana pun, orang  menyukai karakter yang teguh hati. Keteguhan hati juga hal yang layak dipelajari dan diperjuangkan, karena hanya orang dengan keteguhan hatilah yang akan mampu mencapai tujuan. Kadangkala orang sukar membedakan sifat teguh hati dan keras kepala, karena di dalamnya sama-sama memuat unsur keinginan untuk unggul, tidak kalah, dan bertahan. Mungkin bedanya adalah dalam hal menyikapi tujuan yang sesungguhnya.

Bagi orang yang teguh hati, tujuan adalah fokus yang harus diraih – dengan cara terbaik yang bisa dipikirkannya. Kalau pun harus mengalahkan orang lain, mengesampingkan toleransi, dan tidak mau mengalah, itu semata-mata karena memang harus demikian bila ingin berhasil.

Bagi orang yang keras kepala, cara menjadi fokus di atas tujuan. Dominan, unggul, tidak kalah, adalah tujuan. Untuk apa? Tidak jelas. Karena tidak tahu alasan melakukannya, jelas orang tersebut akan mudah kehilangan arah, bahkan tidak akan pernah tahu bagaimana dia akan menyusahkan orang lain.

Betapa banyak orang yang telah kehilangan arah, tidak paham dengan tujuan hidupnya, tetapi bersikap dan berperilaku orang yang punya tujuan. Salah satu indikasinya adalah maraknya artis karbitan, politisi belum matang, jurnalis asal jadi, semuanya dikarenakan peluang dan kesempatan menjadi “orang” terbuka.

Di layar kaca, digambarkan betapa glamornya kehidupan seorang pesinetron atau penyanyi yang sudah jadi. Tetapi, orang tidak tahu betapa melelahkannya dan terkungkungnya kehidupan pribadi mereka, hanya agar memuaskan khalayak penggemar. Kejar tayang, shooting hingga dini hari, skedul roadshow, dsb. Mereka yang tidak pernah membayangkan sulitnya kehidupan seorang artis, mungkin akan mengalami depresi dan memudar dengan cepat bila tak sanggup menahan tekanan seperti itu.

Satu dasawarsa ini adalah era kebangkitan kaum politisi. Bahkan dalam pemilu legislatif yang terakhir, begitu banyak kaum muda yang ingin masuk ke gedung dewan sekalipun rentang mereka masuk ke kancah politik mungkin baru seumur jagung. Kalau kita tengok beberapa surat kabar yang mengetengahkan berita tentang anggota dewan yang harus berurusan dengan polisi, bahkan sudah masuk penjara, sebenarnya kita harus maklum bahwa godaan uang yang tidak halal menjadi bagian dari keseharian anggota dewan. Hanya mereka yang cukup matang lah yang mampu menahan godaan sesaat ilusi kenikmatan uang.

Intinya, tanpa tujuan, hidup yang kita jalani hanyalah keindahan kembangan saja. Seorang perempuan yang ingin bekerja, hanya karena sayang dengan ijazah S-1 nya, seharusnya berpikir ulang. Impian menjadi pegawai negeri adalah ilusi, karena di sana akan ada harapan pensiun sementara pekerjaan hariannya tidak memeras keringat. Padahal, ulama yang menyitir hadits menjelaskan bahwa, dari 10 jalan rizki 9 di antaranya adalah perniagaan. Bila Rasulullah sudah menyatakan demikian, itulah yang seharusnya menjadi buah pikiran kita.

Bukan pegawai kantoran yang mudah menunaikan rukun Islam ke-5 yakni berhaji, melainkan mereka yang kehidupannya justru dalam perniagaan. Seorang pegawai tidak akan kaya, kecuali dia mau bekerja sampingan dengan berniaga.

Semoga kita senantiasa menjadi hamba Tuhan yang berpikir dengan hati dan menimbang dengan nurani. Dengan demikian, kita tidak sekedar ikut-ikutan melainkan dengan mantap mengikuti tujuan yang kita tetapkan sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: