Milestone bagi Bangsa

Catatan Akhir Oktober 2009

Setelah bulan lalu umat Islam menandai kalender dengan tanggal merah Idul Fitri, pada akhir September bangsa ini menerima pertanda merah dari alam dengan guncangan lebih dari 7 skala Richter – tepatnya di sekitar kota Padang. Akibatnya, sepanjang awal Oktober ini bangsa Indonesia disibukkan oleh penyaluran bantuan moril, materiil, langsung maupun tidak.

Seperti sebuah ledakan di dalam (implosion) yang dahsyat, gempa tektonik Sumatera Barat tersebut merontokkan berbagai bangunan besar dan kecil tanpa ampun, dan karena terjadi pada jam-jam sibuk, semua orang yang sedang beraktivitas di dalam gedung langsung terjebak di dalamnya. Sebagian bisa diselamatkan, tetapi masih tidak terhitung yang hilang dan mungkin tidak pernah diketemukan lagi di bawah puing-ping.

Sedikit ke luar kota Padang, sebuah desa kelihatan mengenaskan – dan mengerikan – karena nyaris tergusur bukit yang longsor. Penduduk desa yang tersisa seperti berada dalam mimpi buruk, karena mungkin hampir semua kerabatnya mati seketika dan dirinya sebatang kara dalam sekejap. Di luar radius terdekat dari Padang, guncangan seperti tidak terlalu memberikan dampak yang terlalu signifikan. Bukit Tinggi, Tebing Tinggi, dan daerah lain yang cukup jauh dari Padang tidak menerima dampak yang terlalu signifikan.

Solidaritas rakyat Indonesia diuji lagi, dan tampaknya dorongan untuk bersedekah kepada saudara sebangsa yang sedang kesusahan masih sangat menonjol. Penggalangan oleh stasiun televisi (on air maupun off air), media massa cetak, radio, dan berbagai lembaga kemanusiaan lain secara berjamaan berhasil mengumpulkan ratusan milyar rupiah untuk menolong korban gempa Sumbar tersebut.

Catatan lain di bulan ini adalah pelantikan Presiden terpilih 2009 – 2014 Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono, serta pemilihan anggota kabinet pemerintahan. Seperti diduga banyak pengamat politik, partai yang mendukung SBY dalam Pemilu Presiden memperoleh jatah menteri di pos-pos yang diduga maupun tidak. Kaum teknokrat yang handal masih dipertahankan, termasuk ekonom kelas dunia Mari Elka Pangestu dan pemikir ekonomi yang tidak membosankan dilihat Sri Mulyani. Muh. Nuh, mantan Menkominfo yang pernah menjabat sebagai Rektor ITS Surabaya, dan dalam kinerjanya sebagai menteri membuat kementrian yang dipimpinnya tidak lagi dipandang sebelah mata, digeser menempati posisi yang lebih prestisius: Menteri Pendidikan Nasional.

Yang menarik adalah lengsernya Siti Fadillah Supari dari jabatan Menteri Kesehatan, sekalipun sebelumnya banyak yang meyakini dia akan dipertahankan SBY – karena kinerja positifnya dan kemampuannya berdiri dengan lantang membela hak-hak negara dunia ketiga atas virus yang diambil dari negara-negara ini. Ia berseteru dengan NAMRU dari AS yang diketahuinya sudah tidak mempunyai izin beroperasi di Indonesia. Menjadi jauh lebih menarik ketika ternyata SBY justru mengangkat Endang Rahayu Sedyaningsih yang pernah diangkat dan dimutasikan dari jabatan peneliti utama di Depkes, dan dikenal dekat dengan NAMRU.

Tak ubahnya seperti berita gosip ala selebritis, kondisi ini terus menerus menjadi bahan berita media televisi dalam negeri. Baik mantan Menkes maupun pejabat baru sama-sama diwawancarai untuk menemukan titik temu, namun lagi-lagi keesokan harinya muncul berita serupa yang bermuatan sama sekali sama. Bahkan lebih keji, kemudian disebutkan bahwa Menkes kita ini dulu pernah menyelundupkan virus ke luar negeri. Benar-benar sebuah pelintiran, benar-benar penguasaan power atas kata yang abusive.

Belum lagi bergerak, sebuah isu baru menerpa dari kalangan kabinet, yakni pemikiran (atau permintaan – kurang jelas) bahwa gaji para menteri yang akan bekerja ini dinaikkan. Kontan berbagai komentar bermunculan dari petinggi partai yang berkiprah di DPR, dan tentu saja mayoritas menilai bahwa para menteri itu keterlaluan dan tidak sensitif. Padahal, kalau dipikir lebih jauh, para menteri tersebut jumlahnya hanya sekitar 30 – 40 orang, membantu Presiden mengurusi 200 jutaan penduduk Indonesia. Rasanya siapapun mereka, dengan kesibukan 24 jam seperti itu, cukup pantas menerima penghargaan gaji yang besar. Kita harus ingat, bahwa sekarang bukan jaman Orde Baru yang penuh dengan kebocoran. Para Menteri harus bergaji tinggi agar mereka kecukupan dan tidak berpikir aneh-aneh tentang jabatan mereka. Presiden sudah berjanji dan sudah memulai langkah pemberantasan korupsi, karenanya tidak layak bila kita meragukan komitmen figur yang telah kita pilih untuk memimpin bangsa ini selama 5 tahun ke depan.

Di akhir Oktober, bertepatan dengan dua pekan pertama bulan Dzulqo’dah, jamaah calon haji Indonesia mulai memadati asrama haji untuk secara bertahap diberangkatkan ke tanah suci Mekkah. Isu pemondokan dan transportasi masih mengemuka, namun menteri agama yang baru dan segenap jajaran yang megurusi haji telah berjanji untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada kafilah yang sampai di sana. Memang mungkin tidak mudah, tetapi semua selalu ada waktu dan caranya. Kita yang belum berkesempatan untuk pergi menunaikan rukun Islam yang ke-lima itu hanya bisa berharap semoga mereka pulang kembali ke tanah air sebagai haji-haji yang mabrur. Amin.

Sebuah catatan penting juga adalah kian senyapnya gaung peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang jatuh pula di bulan ini. Pertanyaan yang kemudian lazim terlontar adalah, apakah gerakan yang menjadi cikal bakal kebangkitan pemuda Indonesia ini akan semakin kehilangan makna?

Beberapa hari yang lalu, masih di seputar saat pelantikan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, KNPI Maluku menggagas unjuk rasa yang berakhir ricuh karena secara kesukuan mereka merasa dianak tirikan. Pelopor unjuk rasa mengatakan, propinsi lain bisa menempatkan 2 hingga 3 menteri di kabinet, tetapi mengapa tidak ada satupun putra Maluku yang diangkat jadi menteri. Saya yakin, kecemburuan tersebut dipicu naiknya beberapa nama yang berasal dari Sulawesi ke jajara menteri.

Nasionalisme adalah harga mati untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa, karenanya layaklah bila semangat tersebut senantiasa dikobarkan. Mungkin Kementrian Pemuda dan Olahraga perlu menjadi katalisator dan fasilitator bangkitnya semangat nasionalisme ala awal abad XX silam tersebut. Semoga kesempitan dalam berpikir tidak menghambat bara nasionalisme di hati kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: