Sang Menteri…

Garuda1Seminggu terakhir ini – sejak hari Sabtu minggu lalu – adalah hari-hari yang melelahkan secara mental bagi beberapa politisi, teknokrat, dan team sukses SBY yang diproyeksikan sebagai menteri dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II. Sedikit berbeda dengan era Orde Baru, calon menteri yang dipanggil dan diwawancarai oleh SBY dan Boediono ternyata tidak selalu dipastikan menjadi menteri.

Seperti biasa, kalau ada perhelatan seperti ini para komentator politik jadi laris di media massa elektronik maupun cetak. Bukan sekedar berkomentar, bahkan ada yang dengan nyinyir mencela pemilihan orang yang mereka anggap tidak kompeten di bidang yang akan ditempati para menteri baru tersebut. Mungkin benar bahwa posting menteri yang berasal dari partai politik koalisi Partai Demokrat memang cukup kental bernuansa politis dibandingkan pertimbangan profesional, akan tetapi pada kenyataannya Presiden juga tidak gegabah menempatkan personalia menteri yang akan membantunya.

Beberapa profesional tetap dipertahankan di posisinya semula, beberapa yang lain digeser ke kantor yang berbeda, pos “aman” diserahkan ke menteri dengan kapabilitas yang belum teruji, “ikan besar” di-posting ke posisi yang prestisius, dan seterusnya. Seperti itulah Presiden mengotak-atik sususan nama yang masuk ke kantongnya untuk menjadi barisan lengkap yang baik. Sebelum tanggal 22 malam yang menjadi hari penentuan, banyak spekulasi yang berterbangan di layar kaca, namun pada akhirnya cukup tepat. Pembaca dan pemirsa media massa mau tak mau megikuti perkembangan dari Cikeas.

Beberapa profesional senior tetap menempati posnya masing-masing, seperti Djoko Kirmato, Sri Mulyani, dan Mari Elka Pangestu. Yang hanya bergeser ke kantor lain, bisa disebutkan Hatta Radjasa, Fredi Numberi, Muhammad Nuh, dan Purnomo Yusgiantoro. Tokoh penting yang masuk dalam susunan baru di posisi cukup penting seperti Agung Laksono. Petinggi partai yang diberi posisi “aman” bisa disebutkan seperti Muhaimin Iskandar sebagai Menakertrans, dan Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo. Profesional yang baru dimasukkan ke dalam jajaran kabinet juga ada, sebut saja Marty Natalegawa yang selama ini dikenal sebagai Dubes Indonesia untuk PBB. Sebuah nama yang sudah diumumkan menjadi calon menteri, tetapi kemudian ternyata tidak lulus fit & proper test adalah Nila Juwita A Moeloek, dokter spesialis mata yang digadang sebagai Menteri Kesehatan.

Sejumlah pengamat langsung bereaksi. Beberapa masih akan menunggu kelanjutan kinerja menteri yang ditunjuk Presiden, sementara yang lain langsung mengeluarkan nada minor atas beberapa nama. Yang paling eksplosif tampaknya adalah mantan Menkes Siti Fadillah Supari, yang ternyata tidak jadi digantikan oleh Nina Moeloek, karena penggantinya adalah orang yang pernah “dikotakkan”-nya sehubungan dengan kasus virus H5N1. Kabarnya, Endang Rahayu Sedyaningsih pernah membawa sampel flu burung ke Hanoi tanpa sepengetahuan Menkes, dan itu ditengarai berkaitan dengan keterlibatnnya pada NAMRU (Naval Medical Research Unit) milik Amerika. Jadi, pengangkatan Endang sebagai Menkes dianggap sementara pengamat sarat bermuatan kepentingan dengan AS.

Bagi saya, yang lebih menarik adalah ekspresi orang-orang yang akhir diumumkan menjadi menteri. Kebanyakan akan segera mengucapkan hamdalah, mengangkat tangan, dan menerima salam dari rekan dan kerabat yang “kebetulan” nonton bareng pengumuman di rumah mereka … dengan wajah sumringah. Bahkan Patrialis Akbar yang diangkat menjadi Menteri Hukum dan HAM langsung sujud syukur mengekspresikan kegembiraannya.

Yang berbeda adalah Tifatul Sembiring yang diangkat sebagai Menkominfo menggantian Muhammad Nuh (yang sekarang menjabat sebagai Mendiknas). Begitu diumumkan, yang dilakukannya hanya berdiri, mengangkat kedua tangan, dan berucap: Inalillahi wa ina illaihi rooji’uun…. Saya menarik napas terharu melihat keikhlasan Pak Tifatul dalam menerima amanah.

Sebuah jabatan adalah percayaan dan amanat, bukan hadiah. Bila hadiah adalah hak mutlak si penerima begitu berpindah tangan, sementara amanat harus dijalankan dengan baik atau akan diambil kembali oleh si pemberi. Orang akan memperlakukan sesuatu yang disebut dengan hadiah dan amanah secara berbeda.

Saya hanya berharap, sekalipun para menteri tersebut berucap hamdalah, namun di hati mereka tetap menganggapnya amanah, karena tujuan akhir sebuah amanah adalah kemaslahatan bagi umat manusia.

Selamat bekerja Bapak dan Ibu Menteri Kabinet SBY, semoga kalian amanah dan Allah senantiasa memberikan panduan bagi kebaikan manusia Indonesia. Amin.

One Response to “Sang Menteri…”

  1. waduh…waduh..
    masa baru saja menjabat sebagai menkes sudah ada masalah sih…
    menkes yang baru ini disebut2 membawa vaksin flu burung keluar negeri..
    sehingga menkes pada waktu itu memutasi endang kebidang yang tidak mengurusi virus dan sebaginya…

    apakah motif dibalik pemilihan menkes yang baru oleh bapak eSBeYe???
    semoga saja bapak eSBeYe tidak salah memilih….
    Iklan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: