Orang yang Cerdas, Orang yang Mengingat Mati

Pada hari Jumat minggu lalu, saya membaca sebuah pikiran yang menarik dalam buletin Jumat Al-Qalam. Judulnya pun cukup menggelitik: Mengingat Negeri Akhirat.

Di sekitar 1 Syawal tahun ini, begitu banyak kejadian yang mencoba menggugah kesadaran kita akan kematian, yang merupakan sebuah keniscayaan. Pada minggu terakhir ramadhan, seorang teman yang sedang beristirahat di klinik perusahaan karena sejak pagi merasa tak enak badan, tiba-tiba meninggal saat dalam kondisi berpuasa. Di media massa, elektronik dan cetak, diberitakan berbagai tragedi kecelakaan yang menghapuskan ratusan nyawa dalam ribuan kejadian kecelakaan – hanya sekitar 1 Syawal saja. Yang paling baru, pagi ini ada kabar seorang karyawan perusahaan sebelah meninggal di tempat kejadian akibat kecelakaan lalin. Konon, melibatkan sebuah truk. Suami korban tidak banyak menderita luka fisik, tetapi korban yang di boncengan justru fatal. Kejadian inilah yang menggugah saya menuliskan pikiran saya terkait dengan isi buletin Jumat minggu lalu tersebut.

qanaah - ikhlas menjalani hidup dengan takwa

qanaah - ikhlas menjalani hidup dengan takwa

Setiap kematian selalu meninggalkan duka, khususnya bagi yang ditinggalkan. Tangisan yang mengiringi kepergian sang mayit ke alam barzah, sejatinya adalah tangisan untuk diri sendiri. Sang mayit sudah putus hubungan dengan dunia, namun kepergiannya membuat orang-orang yang ditinggalkan harus mencari penyesuaian diri – dan kadangkala hal itu sungguh sulit. Istri yang ditinggalkan suami, anak yang ditinggalkan ayah, anak yang ditinggalkan ibu, kematian anak laki-laki sulung tulang punggung keluarga, dsb. Bandingkan dengan orang yang tidak punya ikatan emosional dengan si mayit – berduka mungkin tetapi meratapi tidak.

Kematian adalah kepastian, hanya waktunya yang tidak pernah pasti pada tiap-tiap orang. Tugas manusia, khususnya mereka yang berkeluarga, adalah mempersiapkan mental dan materi bagi mereka yang ditinggalkan serta mempersiapkan bekal spiritual untuk dijadikan teman perjalanan ke alam barzah. Memang Allah Maha Kuasa dalam merawat tiap manusia sepeninggal tulang punggung keluarga, namun membentuk masa depan anak, serta mempersiapkan mereka untuk menjadi orang yang lebih baik. Kepahitan yang dirasakan atas sebuah kematian merupakan hal yang wajar, namun Islam juga melarang orang untuk meratap. Ratapan yang berlebihan seperti hendak menunjukkan bahwa kita – yang manusia serba tak sempurna ini – tak rela pada garis ketentuan Allah, dan tidak meyakini bahwa Allah sanggup memelihara kita …

Dalam hadist Ibnu Majah, dikisahkan oleh Ibnu Umar ra, ketika sedang duduk bersama Rasulullah Saw ada seorang Ashar yang bertanya pada beliau:

–         Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apakah yang paling utama?

–         Yang paling baik akhlaknya.

–         Mukmin seperti apakah yang paling cerdas?

–         Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, merekalah ornag-orang yang cerdas.

Para ulama berkata: Sabda rasulullah Saw yang berbunyi “Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)” merupakan kalimat ringkas yang menggabungkan peringatan dan nasihat. Maka, orang-orang yang teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi nikmatnya keindahan dunia yang dia rasakan, dan menghalanginya untuk berangan-angan yang tak berujung, serta membuat dia bersikap zuhud terhadap kenikmatan dunia yang semu.

Barang siapa yang suka mengingat hal kematian, akan diberikan kemuliaan dengan 3 perkara: segera bertobat, hati yang bersifat qonaah, dan rajin dalam beribadah. Sebaliknya, mereka yang melupakan datangnya kematian, akan disiksa dengan 3 perkara: menunda-nunda tobat, tidak ridha dengan menahan diri, dan malas dalam beribadah.

Urusan manusia di dunia selesai ketika ajal menjemputnya. Semua hal yang belum dilaksanakan di dunia tidak bisa lagi diulang. Begitu juga semua keburukan yang telah dilakukannya. Hanya ada 3 hal yang akan membantunya nanti di alam barzah yakni: amal jariyah, ilmu yang manfaat, dan doa anak yang soleh. Sekurangnya, inilah yang perlu dipersiapkan manusia sebelum mereka mati. Sayangnya, ketiga hal inipun tidak mudah diraih, tanpa kesadaran penuh bahwa ketiganya teramat penting sebagai bekal spiritual ke alam selanjutnya.

Betapa banyak dari kita yang enggan memakmurkan masjid, dan tidak suka menanamkan sedekah yang terus menerus dimanfaatkan orang untuk beribadah. Ilmu yang dimiliki justru dipergunakan untuk mengeruk keuntungan, tanpa memperdulikan halal-haram. Akhirnya, Allah menguji dengan pasangan yang mandul, bermasalah dengan kandungan, dan sulit memperoleh anak. Akan tetapi, hal itu tidak menggerakkannya untuk menyantuni anak-anak yatim.

Mengingat hal kematian adalah bersegera memohon ampunan, merapatkan jarak antara sholat dengan memperbanyak sholat sunah. Lapang dan ridha adalah dua kata untuk menggambarkan hati orang yang qonaah, menyerahkan semua urusan sulit pada Allah setelah mengupayakan solusi, dan berprasangka baik kepada Allah dengan ketawakalan sepenuhnya. Esensi bersyukur adalah banyak-banyak melaksanakan perintah dan menjauhi segala yang dilarang oleh agama, dan agar yakin pokok panduan dalam hidup hanyalah firman Allah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasulnya (hadist).

Tidak ada manusia yang sempurna, dan dilahirkan dalam kesempurnaan. Seorang yang maksum seperti Rasulullah pun selalu belajar dan memperbaiki diri, apalagi kita yang hanya manusia biasa – tempat khilaf dan keliru. Artinya, bila sekarang kita keliru, itu manusiawi – tetapi sudah pada tempatnya lah kita mencoba terus memperbaikinya dan selalu menjadi lebih baik. Nikmat dunia ini sungguh menghanyutkan, dan manusia sungguh cepat terbuai di dalamnya, meskipun sebenarnya semuanya semu. Yang kita lihat gemerlapan di dunia ini, tidak akan ada nilainya kelak di padang mahsyar … karena kita kembali menjadi tanah tidak membawa apapun selain amal perbuatan dan ketakwaan yang kita benihkan di dunia.

Mari kita bertanya pada diri sendiri, termasuk dalam golongan manakah kita? Orang yang diberi kemuliaan dengan 3 perkara: ingin segera bertobat, hati yang qona’ah (menerima apa yang dimiliki dengan ikhlas), dan tekun beribadah – atau sebaliknya, ingin bertobat tetapi tidak merasa perlu sekarang (menunda-nunda), ingin mereguk nikmat dunia terus menerus, dan tidak merasa perlu bersujud kepada Allah Swt?

Dunia adalah ladang menanam benih. Marilah kita menanam benih yang benar dengan cara yang benar, agar kelak yang kita tuai adalah kebaikan dan kemuliaan. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: