Lebaran Lagi, Kerawanan Lalu-Lintas Lagi ….

Catatan akhir September 2009

Taqabalallahu mina wa minkum … minal aidin wal faidzin 1430 H…. mungkin kalimat-kalimat penuh kerahmatan itu yang sering kita dengar di penghujung bulan September ini, seiring dengan datangnya hari kemenangan bagi segenap kaum muslim di Indonesia – bahkan seluruh dunia.

Setiap bangsa punya fenomenanya sendiri dalam menyambut hari besar keagamaan, seperti halnya orang-orang di pulau Jawa atau yang berasal dari Jawa dalam menyambut datangnya hari raya Idul Fitri, yaitu mudik. Di daerah lain, sekalipun meriah, Idul Fitri tidak menciptakan kehebohan seperti di Jawa. Mudik adalah fenomena, dan seiring dengan kian maraknya urbanisasi mudik juga menjadi lebih massive.

Sudah ada sekian banyak wacana yang terkait dengan upaya mengatasi ekses fenomena mudik ini, namun sejauh ini tidak memberikan dampak yang signifikan. Mudik selalu identik dengan: kemacetan lalu-lintas, pelanggaran lalu-lintas, kecelakaan lalu-lintas, resiko tidak terangkut kendaraan umum, keterlambatan tiba kembali di tempat kerja, penurunan produktivitas, kriminalitas di tempat-tempat yang tidak berpenghuni maupun di atas kendaraan umum, dan banyak lainnya. Tahun ini, angka kematian di jalan raya akibat kecelakaan lalu lintas ditengarai meningkat, baik karena infrastruktur yang kurang baik maupun disebabkan kelalaian personal

Pemerintah sudah melarang operasional truk non-sembako sekian hari sebelum hari H Idul Fitri. Kekuatan armada bus dan kereta api ditambah oleh kemudahan dari pemerintah. Ribuan kilometer jalan sudah diperbaiki sejak sekian bulan sebelum puncak mudik Lebaran. Satpol PP dan kepolisian berjaga di titik-titik rawan kemacetan, seperti pasar tumpah yang serng terjadi menjelang Lebaran. Himbauan melalui media massa tak kurang-kurang untuk berhati-hati. Pengelola bus ditekan keras untuk memperketat pengamanan, selain pemberlakuan batas bawah dan atas tarif demi kenyamanan penumpangnya.

Pihak swasta yang mencoba mengeruk keuntungan dari para pemudik, sebenarnya juga turut andil dalam upaya penurunan tingkat kecelakaan di jalan raya. Kita lihat ada pos-pos istrirahat yang dibuat produsen mie instan yang menyediakan produk gratis siap santap, minuman energi, operator telepon seluler, termasuk layanan bengkel mobil dan motor sesuai dengan merk.

Di sisi lain, kerawanan tertinggi tampaknya justru disebabkan oleh aspek mental pemudik, khususnya keperdulian mereka terhadap safety. Kalaulah mereka (anggap saja sepasang suami istri) sudah mengenakan helm untuk berkendaraan roda dua (crashed helmet), ternyata mereka membawa dua anak kecil yang tanpa helm. Sudah bukan keanehan lagi bila ada sebah keluarga bersepeda motor pulang ke kampung dengan anak-anak mereka di antara bapak dan ibunya, dan seorang lagi di depan sang bapak. Betapa miris perasaan ini tiap kali berita tentang kecelakaan yang dialami kendaraan beroda dua, dan ironisnya yang menjadi korban justru anak-anak. Bukan itu saja, di belakang masih ada lagi tas besar yang mungkin berisi pakaian mereka selama di kampung. Bermotor selama mudik bukan sekedar menghemat ongkos di jalan, tetapi juga kepraktisan selama di sana. Kalau ada motor, silaturahmi lebih mudah dilakukan.

Dari release MetroTV, Menhub menjelaskan bahwa korban tewas turun sekitar 50%, tetapi korban luka dan luka berat naik hingga 40%. Secara umum, kecelakaan masih merupakan kerawanan yang sangat besar pada masa menjelang, selama, dan pasca Lebaran. Jumlah kecelakaan mencapai 1500 kejadian, dengan korban jiwa sekitar 700 – 800 jiwa.

Dalam sebuah ulasan reportasenya, TV-One menuding pemerintah harus bertanggung jawab pada tingginya angka kecelakaan lalu-lintas tersebut. Menurut saya, hal itu kurang bijak dilakukan oleh sebuah media massa. Pemerintah sudah berusaha, utamanya pada infrastruktur dan struktur jaringan transportasi. Sisanya, masyarakat dan individu harus turut berpartisipasi dalam mengupayakan kenyamanan dan keselamatan perjalanan. Fenomena pasar tumpah penyebab kemacetan, ngantuk di jalan, kerusakan mesin kendaraan, hingga kelalaian hingga pengendara motor terlindas truk, tentu saja di luar jangkauan tangan pemerintah – karena bagaimanapun pemerintah punya keterbatasan.

Fenomena terakhir yang sudah hampir dipastikan terjadi pada akhir minggu pasca Lebaran adalah volume kendaran bermotor yang tumpah ruah di jalan utama antar kota, yakni arus balik. Kalau arus muduk sudah cukup menyumbat berbagai jalan raya, arus balik yang memuat jutaan orang yang sebenarnya bepergian dengan enggan lebih menghabiskan energi. Kalau memungkinkan, banyak karyawan yang menunda kepulangan kembali ke tempat kerja agar memperoleh angkutan yang lebih lapang. Apa daya … tempat kerja sudah memanggil-manggil, sekolah sudah hampir dimulai, jadi mau tak mau arus balik harus ditunggangi.

Semoga tahun ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua, agar lebih arif dalam menyikapi mudik tahun depan. Mudik adalah fenomena yang selalu ada, tidak bisa dihapuskan begitu saja, namun dengan pengaturan yang lebih seksama insyaallah bisa lebih menyenangkan dan aman bagi keselamatan jiwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: