Ketika Cinta Bertasbih: Tutur Panjang Film Manis dengan Kebingungan

kcb2_wallpaper1Setelah Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih adalah novel kedua Habiburrahman El-Shirazy yang diangkat ke layar kaca dan sukses. Mungkin karena justru pangsa pasar ini lebih ditujukan kepada pemeluk Islam, orang Islam yang mencapai lebih dari 80% penduduk negeri jadi tertarik untuk menyaksikannya. Atau bagi mereka yang telah membaca novel Kang Abik sebelumnya, mereka ingin melihat visualisasi cerita novel tersebut. Genre yang diangkat memang tidak terlalu umum, yaitu kultur Islam dalam komunikasi antara laki-laki dan perempuan, atau dalam kelompok masyarakat yang lebih besar. Ya, karena Islam tidak sekedar agama formal, melainkan juga merupakan nilai dan filosofi kehidupan sosial yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadist, Islam memiliki kultur yang relatif universal maupun yang terpengaruh dengan kondisi kultur lokal.

Film KCB terbagi dalam dua episode, yang secara umum terbagi dalam dua lokasi cerita. KCB 1 didominasi pemandangan kota Alexandria Mesir, sementara KCB 2 banyak sekali mengetengahkan gambar desa dan sub-urban di wilayah Kartasura – Jawa Tengah. Berbeda dengan AAC yang melakukan pengambilan gambar di India (tetapi diset serupa Mesir), KCB memang mengambil lokasi di Mesir. Bisa jadi, karena AAC sukses mengangkat budaya Mesir, pemerintah mendukung dibuatnya KCB.

Protagonis utama film ini adalah seorang mahasiswa telat lulus bernama Abdullah Khariul Azzam,  yang masuk ke Universitas Al-Azhar sejak 9 tahun yang lalu namun, cerdas dan cemerlang di awal kuliah namun terseok-seok di tahun-tahun lanjutan karena harus bekerja sambilan agar terus sekolah. Dinamika kehidupan mahasiswa cukup bagus disajikan dalam episode 1. Sosok Azzam yang sederhana dan ulet, pemberani dan berjiwa kepemimpinan, memberika tauladan kepada rekan mahasiswa yang lebih junior, cukup bagus dimainkan oleh M. Cholidi Asadil Alam. Menurut penilaian saya, peran Azzam dimainkan dengan proporsional – walaupun kadangkala masih terlihat akting yang bisa lebih ditingkatkan.

Azzam pada akhirnya dipasangkan dengan Anna Althafunissa, yang sejak di Kairo sudah dipertemukan dengan Azzam, namun kisah berliku baru mempertemukan mereka sekali lagi di kartasura (ternyata mereka satu kota). Anna Althafunissa terlihat dimainkan dengan sangat santun, bahkan teramat santun, sehingga sekilas terlihat seperti porselin yang mudah pecah. Sekalipun demikian, hampir semua orang suka dan bersimpati pada karakternya di film ini – mungkin missi membawa citra muslimah ideal sukses di sini. Karena too white inilah karakter Anna tidak terlalu menarik untuk dibahas.

Alice Norin yang berperan sebagai Eliana Pramesthi Alam, putri duta besar Indonesia untuk Mesir, cukup mencolok dan mencuri perhatian dengan kecantikannya. Elliana, dimainkan secara cukup naturaloleh Alice Norin, khususnya saat menunjukkan citra perempuan modern yang biasa berpikir liberal. Namun demikian, di mata saya sosok ini  seharusnya bisa ditampilkan lebih cerdas dibandingkan lebih glamor. Sebagai seorang yang aktif, cerdas, dominan, putri Dubes yang juga aktivis dan artis sinetron, dalam film ini Elliana lebih cenderung muncul sebagai selebritis dibandingkan pekerja yang sibuk.

Saya harus mengangkat jempol untuk casting Ninik L. Karim sebagai ibunda Azzam, Deddy Mizwar sebagai Kyai Luthfi, dan Meyda Sefira sebagai ayatul Husna (adik Azzam). Harus saya katakan, ketiga orang dan karakter inilah yang membuat benar merah cerita dalam KCB 2 bisa terjalin manis dan mengalir. Tak diragukan lagi, Dedy dan Ninik punya karakter yang kuat dan sanggup menghidupkan tokoh yang dimainkan. Bila dalam KCB 1 sosok Kyai Luthfi hanya muncul sesekali, dalam KCB 2 kharisma sang Kyai muncul mempesona. Begitu juga peran Bu Malikatun yang dimainkan Ninik L Karim, begitu kuatnya mewarnai sequel ini. Yang mengejutkan justru kemampuan Meyda Sefira beradu akting dengan Ninik L Karim saat terjadi dialog rutin di rumah, jauh melampaui kemampuan akting artis-artis sinetron yang reguler muncul di televisi.

Saya juga memberikan poin plus pada Dude Herlino, Asmirandah dan Gito Gilas yang memainkan peran kecil namun cukup memberikan keindahan warna film ini secara keseluruhan. Mereka cukup layak menjadi bintang sinetron papan atas negeri ini.

Ada sebuah karakter yang menurut saya tidak dimainkan dengan optimal, yaitu figur Furqon. Sosok ini seharusnya menjadi salah satu sentral dalam cerita film ini tetapi secara umum gagal menarik perhatian. Kalah cemerlang dibandingkan figur Eliana yang dimainkan dengan bagus oleh Alice Norin. Andi Arsyil Rahman punya ketampanan yang khas, tetapi mungkin kurang pas memainkan Furqon. Ada kharisma yang hilang dari karakter anak seorang kaya raya, biasa berkehidupan borjuis, intelek, dan dominan. Saya malah berpikir, bagaimana sekiranya posisi Andi Arsyil Rahman dan Dude Herlino dipertukarkan?

Kesan tentang film KCB:

1. Secara umum, saya katakan KCB adalah film yang manis, banyak letupan yang memancing emosi penonton, alur cerita yang cukup menarik, sehingga sekalipun mungkin berbeda dengan isi novel penonton tidak terlalu berkeberatan. Bahkan teman saya berkomentar, perlu bawa banyak tisu untuk air mata. Banyak pelajaran tentang kultur Islam yang bisa dipetik melalui film ini. Recommended untuk kaum muslim.

2.  Pemakaian jilbab kok tidak natural? Pemirsa akan lebih banyak menyaksikannya dalam KCB 2. Saya tidak tahu harus berkomentar bagaimana, karena memang cukup membingungkan. Jamaknya, perempuan Islam tidak mengenakan jilbab di dalam rumah yang hanya berisi perempuan, bahkan bila ada laki-laki yang merupakan saudara kandung. Di manapun, istri yang sudah tinggal berduaan dengan suami di dalam kamar tidak akan mengenakan pakaian penutup yang berat dan lengkap. Masalahnya adalah rumah dan kamar tersebut adalah set pengambilan film, dan saudara atau suami tersebut hanyalah peran yang dimainkan.

3. Sponsor untuk kerudung ditampilkan dengan cukup demonstratif. Kerudung Anna Althafunnisa adalah Pasmira, sedangkan yang lainnya adalah Rabbani. Logo keduanya selalu tampak, bahkan agak mencolok.

4. Sepanjang ingatan saya, ada dua momen saat gambar di layar seperti kehilangan fokus. Dalam KCB 1, hal itu terjadi saat ada adegan lansekap pantai alexandria di sebelah kiri dan kamar hotel di sebelah kanan. Dalam KCB 2, terjadi saat rombongan Furqan datang untuk melaksanakan pernikahan di pesantren.

Di luar semua kekurang telitian atau kebingungan tadi, Indonesia perlu lebih banyak membuat film-film lain dengan genre kultur Islam seperti ini. Edukasi tentang Islam yang paling bagus adalah melalui visual, apalagi bila dengan contoh yang membumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: