Kado Istimewa dari POLRI

Catatan akhir Ramadhan 1430H

Subuh tanggal 17 September 2009, Densus Polri 88 melancarkan penggerebekan dan penyerangan ke sebuah rumah di Solo, Jawa Tengah. Konon, tanpa disangka-sangka, buronan teroris nomor wahid sedang berada di sana. Noordin M Top yang licin seperti belut berada di rumah yang menjadi target operasi. Tekanan serangan dari pasukan polisi memaksa jatuhnya korban jiwa di pihak target, termasuk sang buronan … NMT. Sudah jelas bahwa kepolisian kita sudah bekerja tak kenal lelah menelusuri jejak NMT, termasuk membongkar permainan psikologis yang selalu dimainkan para teroris tersebut. Semua kemungkinan diperiksa, karena di antara kemungkinan yang menyesatkan selalu ada petunjuk yang benar.

Ibarat “sepandai-pandainya tupai melompat, dia akan jatuh juga”, NMT yang perfeksionis dalam membuat perencanaan akhirnya memainkan desperate moves yang menggiringnya ke arah kematian. Bagaimanapun Polri yang punya banyak personil dan resource memiliki peluang yang lebih besar untuk menang dalam permainan strategis ini, terlebih lagi kepolisian sudah mulai mampu membuat profiling sang teroris. Kepolisian telah memainkan buah-buah caturnya dengan efektif.

Kita ingat bahwa, setelah berhenti beberapa tahun, ledakan bom di dua hotel internasional di Jakarta itulah (JW Marriot dan Ritz-Carlton) yang memicu gerakan lebih intensif pihak kepolisian. Rupanya, kepolisian menangkap banyak petunjuk dari aksi terakhir yang bisa dikembangkan menjadi petunjuk, khususnya identitas kedua pelaku dan orang dalam yang membantu terjadinya aksi tersebut.

Sebuah aksi teroris yang sedemikian rapih tidak mungkin dilakukan dengan tergesa-gesa, sudah pasti ada perencanaan yang matang dengan pembiayaan yang serius. Dari sana, kepolisian merangkai alur pengeboman yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Pertama adalah pelaku. Sudah pasti gerombolan NMT tidak akan mengorbankan diri mereka sendiri bila hendak melakukan bom bunuh diri, sehingga mereka harus merekrut orang lain. Bom bunuh diri jauh lebih efektif daripada bom mobil, yang juga masih dipakai sebagai alternatif. Dengan terungkapnya identitas kedua pelaku bom bunuh diri Marriot-2, kepolisian jadi tahu bahwa kelompok NMT merekrut remaja atau pemuda tertentu, yang mudah dicuci otaknya, untuk menjadi “pengantin”. Media cetak dan elektronik dipergunakan sebagai alat untuk menyebarkan informasi ini, termasuk nama rekruter yang berkeliaran di masyarakat. Maskarakat menjadi paham dan jauh lebih waspada.

Kedua, rekruter. Pengungkapan pengeboman Marriot-2 dan pemberitaan media massa memaksa kelompok NMT harus menangguhkan rekrutmen pengantin seperti dulu, karena mendadak masyarakat menjadi berprasangka pada orang-orang tertentu.

Ketiga markas sementara, yang dipergunakan untuk mengumpulkan bahan peledak dan perakitan bom. Ini adalah titik penting dalam penyusunan rencana. Terbongkarnya markas sementara di Bekasi membuka mata masyarakat untuk waspada pada kemungkinan pemanfaatan rumah kosong menjadi tempat perakitan bom. Kecurigaan warga pada orang baru yang tidak bisa menunjukkan identitas dengan jelas meningkat, sehingga tidak mudah lagi bagi kelompok NMT mengembangkan gerakan.

Keempat orang-orang kunci dan penghubung aktivitas. Sudah pasti, mereka ini adalah inner circle kelompok NMT. Beberapa orang yang sudah dikenal oleh polisi terus mendapatkan pengawasan. Orang-orang kunci ini memiliki akses pada sejumlah tempat tinggal yang diduga menjadi safe house NMT. Sebelum Temanggung dan Bekasi, Cilacap sudah dilumpuhkan.

Kelima, penyandang dana. Tanpa dana yang kuat, tidak mungkin pembelian setengah ton bahan peledak, mobil pengangkut, dan rumah kontrakan bisa didanai. Kelompok NMT sudah pasti bukan kumpulan orang-orang miskin, mereka militan tetapi tidak miskin. Uang yang mereka terima utamanya dipergunakan untuk aksi terorisme, bukan kepentingan pribadi. Kepolisian sudah pasti memeras otak untuk mencari tahu penyandang dana atau orang yang menyalurkan dana yang dikucurkan pada mereka.

Pergerakan intensif kepolisian membuat ruang gerak NMT semakin lama semakin sempit. Dengan lumpuhnya Bekasi, Temanggung, dan Cilacap, pilihan NMT semakin sedikit. Detik.com menyebutkan, NMT sudah semakin desperate, hingga dia melanggar aturannya sendiri, berkumpul dengan anggota yang menjadi target operasi polisi. Dengan tewasnya Ibrahim dan ditangkapnya beberapa orang lain, NMT mau tak mau harus kembali berhubungan dengan bekas pesakitan macam Urwah.

Kalau dulu pada jaman perjuangan Diponegoro, Jenderal De Kock menggunakan strategi benteng untuk menjepit pergerakan gerilya Pangeran Diponegoro. Semua daerah yang sudah dikuasai segera dibangun benteng dan dijaga ketat, karena tentara kolonial sendiri tidak tahu persisnya keberadaan Diponegoro. Dengan siasat ini, satu persatu orang kepercayaan sang pangeran tertangkap, hingga akhirnya memaksa sang pangeran keluar sarang untuk maju ke perundingan.

Sekarang, siasat yang secara konsep mirip dijalankan oleh Polri. Pergerakan NMT terjepit dengan pengerahan resource yang banyak, langsung maupun tidak langsung. Yang langsung sudah pasti adalah pengerahan reserse ke sendi-sendi kemasyarakatan. Yang tidak langsung adalah membangun awareness masyarakat terhadap keberadaan kelompok NMT. Akibatnya, NMT tidak merasa bebas berkeliaran di kota besar. Sekalipun ada 17 titik yang pernah dilacak sebagai markas, tetapi NMT berakhir di Jebres, Solo.

Tanggal 17 September 2009 adalah titik akhir gerakan sang gembong, namun Polri sendiri juga masih yakin bahwa perjuangan mereka tidak akan selesai sampai di sini. Kematian NMT tidak otomatis mematikan gerakan, karena akar gerakan tersebut masih ada. Kalau sekarang kita semua bisa lega, itu masih untuk sementara. Polri tidak akan berhenti mencari tahu pemain baru yang akan muncul untuk menggantikan NMT sebagai leader.

Semoga Allah Swt senantiasa melindungi kita, semoga moment Ramadhan ini adalah saat yang tepat untuk memperbaiki diri dan membangun masa depan bangsa yang lebih baik.

SELAMAT IDUL FITRI 1430 H

Taqabbalallahu mina wa minkum taqabbal ya karim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: