Kecintaan dan Keyakinan

Sebuah cinta yang dilandasi dengan keyakinan yang mendalam, bisa mengubah pandangan orang sedemikian rupa, sehingga bertolak belakang dengan pandangan sebelumnya. Kisah yang paling populer dan diceritakan dari generasi ke generasi di jaman Rasulullah SAW adalah Umar Bin Khaththab ra, yang masuk ke dalam pelukan Islam secara dramatis dan menjadi pembela Islam yang segarang ketika dia memusuhi Islam.

Ada seorang lagi sahabat yang punya pandangan dan kehidupan yang sangat berbeda ketika belum memeluk Islam dan setelah masuk Islam, yaitu Mush’ab bin Umair. Sebelum Islam, Mush’ab adalah pemuda flamboyan, tampan dan kaya, dan dengan jubahnya yang harum selalu menarik hati laki-laki dan perempuan Mekkah di masa itu. Kehidupannya selalu berkecukupan bahkan berlebih karena memang ia adalah putra sebuah keluarga bangsawan Quraisy.

Kebanyakan orang tidak memahami alasan Mush’ab memeluk Islam, namun yang jelas hidayah Allah bisa datang pada orang dan saat yang tak terduga. Mush’ab langsung di-Islamken sendiri oleh Rasulullah, sehingga kegembiraannya bergejolak harus ditenangkan oleh sentuhan tangan Rasululah SAW di dadanya. Kegundahan Mush’ab hanya satu, yaitu kekhawatirannya pada sang Ibu yang juga sangat dikasihi dan dihormatinya.

Akhirnya memang sang Ibu mengetahui perihal ke-Islaman Mush’ab – anak yang dikasihinya. Kemarahannya memuncak, demikian juga segenap kaum bangsawan Quraisy. Siksaan fisik dan mental diterimanya dengan lapang dada. Pada puncaknya, ia harus meninggalkan keluarga dan sanak kerabat bangsawannya, namun Mush’ab lagi-lagi mampu menerimanya. Ia tidak lagi berjubah dan berpakaian indah, keindahan pakainnya dulu tergantikan oleh sebuah jubah usang yang bertambal-tamal. Mush’ab membuang semua keindahan dan kenikmatan duniawi yang semu, namun diliputi kebodohan, untuk masuk ke dunia terang Islam sekalipun harus penuh dengan kesederhanaan.

Ketika sebagian umat Muslim harus mengungsi ke Habsyi, Mush’ab adalah salah seorang relawan yang pergi meninggalkan tanah air. Kelompok yang pergi ke Habsyi ini punya tujuan sampingan untuk menyebarkan Islam kepada raja dan penduduk negeri itu. Beberapa orang meninggal saat berada di Habsyi maupun dalam perjalanan pergi dan pulang melalui laut yang penuh kesulitan.

Kecintaan Mush’ab pada Islam dan Rasulullah SAW dibuktikannya terakhir kali dengan perang Uhud yang merupakan tragedi bagi kaum Muslimin. Ketidak disiplinan tentara Islam hanpir membawa petaka, sehingga Rasulullah tersudut dan harus bertahan dari gempuran tentara kafir yang menang personil dan persenjataan. Mush’ab adalah salah satu yang gugur karena melindungi Rasulullah.

Banyak kisah yang bercerita tentang mu’alaf yang selalu berada di garda depan perjuangan Islam, karena mereka pernah berada di sebuah tempat yang gelap dan penuh kebodohan. Ketika merasakan cerahnya Islam, mereka tak ragu-ragu lagi membela Islam dalam pemikiran dan perbuatan. Sebut saja Muh. Syafii Antonio, Anton Medan, dan Irene Suhandono, tiga di antara banyak pemuka Islam yang pernah beragama lain.

kemanapun wajah kuhadapkan adalah bumi Allah

kemanapun wajah kuhadapkan adalah bumi Allah

Di sisi lain, betapa tidak sedikit juga orang yang sejak lahir mengaku beragama Islam, namun perilaku serta pemikirannya justru kontra produktif dengan kultur Islam. Sebut saja para teroris yang mengaku memperjuangkan Islam namun tidak keberatan dengan tumpahnya darah sesama umat Islam.

Islam mengajarkan kita meyakini segala hal yang gaib, dalam pengertian memang tidak pernah terlihat wujudnya, maupun yang tidak pernah dilihat manusia kebanyakan. Itulah rukun iman yang enam. Percaya dan meyakini Allah, malaikat, Nabi dan Rasul, kitab-kitab yang diturunkan, takdir, dan hari akhir. Semuanya agar manusia lebih bertakwa.

Dalam sebuah hadist diriwayatkan, Rasulullah pernah berkata tentang orang-orang luar biasa yang dicintainya. Bukan mereka yang hidup di jaman beliau dan bisa bertemu dengan beliau, dan bukan alim ulama besar yang dekat dengan beliau. Orang-orang luar biasa itu adalah kebanyakan manusia di muka bumi ini, yang mencintai Rasulullah sekalipun tidak pernah bertemu dengan beliau. Kecintaan secara gaib, hanya karena meyakini bahwa tanpa beliau kita masih berada di alam kegelapan, dan hanya karena beliau saja kita terus bisa menikmati kerinduan pada Allah Ta’ala. Sekalipun berjarak ratusan bahkan ribuan tahun dari Rasulullah, orang-orang luar biasa itu berdzikir dan membaca Al-Qur’an seperti diajarkan beliau, menyayangi yatim piatu dan santun pada orang tua seperti beliau, dan memakmurkan masjid seperti tatkala beliau ada.

Kecintaan dan keyakinan membentuk karakter, dan bila sumbernya adalah firman Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW tentu saja jadinya luar biasa baik. Pribadi yang dihasilkan adalah bentuk indah sebagai manusia. Apapun yang menjadi jalan kehidupannya, ia akan mengabdikannya pada jalan yang di-ridhoi oleh Allah SWT. Kalau dia orang yang kaya, kekayaannya akan berguna bagi orang lain. Kalau dia penguasa, maka dirinya adalah payung besar yang mengayomi dan meneduhkan. Kalau jalan hidupnya sebagai cendekia dan pendidik, ia menjadi jalan terang bagi orang-orang yang bodoh dan mencari ilmu. Kalau dia pedagang, dia menjadi pengingat adanya kejujuran dalam semua transaksi. Kalau dia adalah seorang dhuafa, miskin, tak berharta, dia mengajarkan pada orang lain tentang kesabaran dan keikhlasan.

Dengan kecintaan dan keikhlasan, marilah kita mencari bentuk terbaik dari diri kita sendiri, untuk kemudian kita abdikan untuk agama dan kemanusiaan. Marilah berbagi dan mengabdi untuk kemanusiaan secara universal, untuk kemajuan dan kemakmuran umat Islam pada khususnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: