Penyenang Hati

Bila membaca status teman-teman di Facebook, khususnya yang bergender wanita, tampak sekali kegairahan, kegembiraan, atau kesedihan mereka bila berbicara tentang anak. Naluri alamiah sebagai Ibu mendorong mereka untuk menunjukkan sikap dan kecintaan mereka itu. Bila anak mereka berprestasi, betapa bangganya mereka bercerita di FB. Sebaliknya, kalau anak sedang sakit, muncul pula gambaran kesedihan pada tiap komentarnya.

Apakah laki-laki tidak seperti itu? Sebenarnya sama saja, hanya saja kaum lelaki ini tidak pandai mengutarakan emosinya secara terbuka. Yang namanya kebanggaan pada anak, sama saja. Demikian pula dengan kesedihan. Bila bangga pada anaknya, seorang ayah mungkin tidak memuji, namun memberikan hadiah jam tangan atau tas baru. Bila sedih saat anaknya sakit, ia tidak mengeluh namun ikut berjaga karena sulit tidur.

penyenang hati

penyenang hati

Dalam Islam, anak dan istri termasuk dalam cobaan namun juga penyenang hati (qurota a’yun). Pada bagian akhir surat Al-Furqan, orang yang menjalankan takwa dengan anak-istri mereka yang juga saleh, akan menerima derajat yang lebih tinggi. Allah mentitipkan istri dan anak, dan menjadikan seorang laki-laki imam dalam keluarga, semata-mata bertujuan untuk lebih meundukkan kepala dalam sujud dan kesyukuran. Allah telah melarang manusia untuk membunuh anak-anak mereka karena takut akan kemiskinan, karena Allah menjanjikan rizki bagi orang tua dan anak-anak tersebut.

Bila kita sempat melihat beberapa catatan kriminal di televisi dan media cetak, betapa miris hati saat melihat atau membaca pembunuhan anak-anak – dengan penganiayaan – oleh orang tuanya sendiri. Sang anak mati di rumah kos-an, dan ditemukan oleh tetangganya, sementara si orang tua sudah kabur entah kemana. Lain lagi cerita tentang seorang ibu yang tega membunuh kedua anaknya dengan racun dan kemudian bunuh diri, karena takut akan masa depan anak-anaknya. Ada juga kasus pembunuhan yang dilatar belakangi ketidak sengajaan, kelainan jiwa, dan sebagainya.

Belakangan juga marak kasus perceraian di kalangan selebritis, entah yang sedang direncanakan (digugat) maupun yang sudah terjadi. Penyebab yang paling umum adalah issue perselingkuhan, baik yang dilakukan oleh si laki-laki maupun si perempuan. Seorang penyanyi yang baru menikah seumur jagung harus menggugat cerai suaminya yang membuatnya bonyok, saat dipergoki sedang bersama perempuan lain. Cerita lain lagi, seorang aktor sinetron menggugat cerai istrinya karena tempat kerjanya dekat dengan maksiat (loh? Memang dulu nggak tahu?). Yang paling mutakhir adalah kabar perceraian penyanyi KD, entah karena sebab apa …..

Sungguh ironis, orang-orang yang seharusnya menjadi penyenang hati mengapa akhirnya menjadi musuh atau korban? Ketika menyakiti istri, tanpa sadar anak menjadi korban. Ketika menganiaya anak, sebenarnya istri justru menjadi musuh baru. Tugas laki-laki adalah menjadi imam, dan bila ia bisa menjadi imam sebuah rumah tangga yang bertakwa, derajatnya akan diangkat oleh Allah Swt.

Akan tetapi, banyak sekali laki-laki yang tidak sadar akan tugasnya sebagai imam dalam rumah tangga, yang merasa tidak berdaya pada istri yang bertingkah berlebihan hanya karena punya pendapatan lebih besar, pada anak-anak yang menunjukkan penyimpangan dengan mendekati kemaksiatan yang nyata. Bukan hanya mereka yang tidak mengenal jalan agama, bahkan anak ulama pun banyak yang salah jalan. Seolah-olah anak-anak itu telah lepas dari tali kendali yang sejak kecil ditanamkan.

Dunia memang tidak sempurna, penuh dengan warna yang seringkali membuat kira merasa miris. Satu hal yang jelas, Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berputus asa pada rahmat Allah. Apalagi Allah juga berjanji akan menaikkan derajat orang-orang yang sebar, karena Allah beserta orang-orang yang sabar. Sabar dalam menjalankan ibadah kepada Allah, sabar dalam menjalankan ketetapan-ketetapan Allah (menjalankan perintah dan menjauhi larangan), dan sabar saat menerima cobaan dari Allah.

Anak dan istri adalah penyenang hati, tetapi bila sebagai imam seorang suami tidak bisa mengarahkan mereka, maka mereka bisa menjadi cobaan. Hanya dengan jalan agama, pengajaran Al-Qur’an beserta penerapan isinya, yang membuat rumah menjadi surga. Semoga kita menjadi orang yang bersabar dan bertakwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: