Menjadi Khalifah…

Beberapa hari silam, dalam salah satu episode perbincangan menjelang Maghrib antara Shahnaz Haque dan Ustadz Abu Sangkan, diangkat sebuah fenomena tentang pengusaha muslim yang sukses dan memiliki karyawan hingga ribuan. Pengusaha konstruksi tersebut bisa dikatakan sebagai pebisnis papan atas di sektornya. Yang menarik adalah kutipan sang ustadz pada ucapan sang pengusaha, yang menyebutkan bahwa semua usaha yang dilakukannya semata-mata agar dia menjadi apa yang disebut khalifah di muka bumi.

Menjadi khalifah adalah menjadi kepanjangan tangan Tuhan di muka bumi, dan dalam pengertian sang pengusaha dia ridha menjadi pintu rizki bagi orang lain dengan kemajuan usahanya. Ia istikomah dalam berbisnis bukan semata untuk dimakan atau untuk kepentingan lainnya, namun lebih untuk menjalankan amanat Allah.

Lebih jauh Abu Sangkan menjelaskan hakikat zakat sebagai salah satu pilar dalam rukun Islam. Zakat yang disebutkan di sana adalah memberi zakat, bukan menerima zakat. Implikasinya, umat Islam tidak boleh miskin agar bisa membayarkan zakat. Kalau saja orang Islam memahami konsep dasar ke-lima pilar tersebut, seharusnya orang Islam harus berkecukupan dalam nafkah.

Yang terjadi dewasa ini, justru kebalikan dari semangat Islam yang mulia tersebut. Di beberapa ruas jalan di Jawa, jamak kita jumpai barisan beberapa orang di dekat pembangunan masjid yang berdiri di atas marka jalan – seraya mengacung-acungkan ember atau kaleng untuk minta uang. Ada pengeras suara yang memberikan alasan minta-minta itu – misalnya untuk biaya pembangunan masjid. Saya selalu berpikir, apakah tidak ada cara yang lebih terhormat untuk melakukan pembangunan rumah ibadah semacam itu? Bagaimana pula dengan belasan laki-laki produktif yang hanya berjajar di marka jalan dan meminta-minta dari mobil yang lewat itu? Mengapa tidak sebaiknya mereka bekerja saja daripada mengacung-acungkan ember?

Jangan tanya lagi soal pengemis yang jumlahnya semakin banyak saat memasuki bulan puasa begini. Seolah-olah memanfaatkan kerapuhan hati sebagian muslim di saat berpuasa dalam bersedekah, bulan puasa seolah-olah identik dengan musim pengemis. Satpol PP yang bertugas membersihkan jalanan menjadi momok sekaligus musuh pengemis dan gelandangan musiman, karena mereka tak kenal lelah membersihkan jalanan. Ada perasaan iba campur aduk melihat mereka “digaruk” petugas, tetapi itulah resiko mengemis dan menggelandang di masa sekarang.

Manusia yang dianugerahi akal budi tidak pernah tanpa pilihan, namun memang tidak semua manusia mau bersusah payah melihat peluang yang memungkinkan mereka lebih baik, atau cukup sabar menghadapi cobaan.

Beberapa hari berselang saya membaca kabar pelaku korupsi berjamaah dana sosial yang memasuki tahap vonis. Ke-5 orang jamaah korupsi tersebut (dari jajaran Depsos, pemda, camat hingga lurah), mengkorupsi dana bantuan korban bencana puting beliung di sebuah wilayah di Probolinggo. Dana yang dialokasikan sekitar 285 milyar ternyata yang disalurkan kepada para korban tinggal 14 milyar. Sebanyak 271 milyar raib.

Apakah memang begini karakter manusia yang sebenarnya?

Hingga para malaikat yang biasanya tunduk patuh pada tiap keputusan Allah pun bertanya kepada Allah Swt ketika hendak menetapkan seorang khalifah di muka bumi (QS Al Baqarah 30). Manusia dianggap tidak pantas memimpin dunia, karena ia hanyalah biang kerusakan, dibandingkan dengan para malaikat yang selalu bertasbih. Akan tetapi Allah berketetapan untuk menempatkan manusia sebagai khalifah di antara mereka sendiri.

Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, akan tetapi manusia diletakkan di titik nol – yang serendah-rendahnya. Hanya manusia yang beriman dan beramal saleh saja yang bisa mengangkat dirinya dan meneguk pahala yang tiada habis. Surat At-Tin dengan jelas menggambarkan kodrat manusia yang memang tidak tinggi, namun mereka diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, menjadi orang yang lebih baik, agar menjadi khalifah sebagaimana ketetapan Allah. Orang yang tidak paham akan tetap di tempat yang tidak punya nilai tinggi.

Kalau manusia hanya berpikir untuk mencari makan dalam mengisi kehidupan ini, lantas apa bedanya dengan mahluk hidup lain yang lebih rendah derajatnya? Memang tidak semua orang punya rizki sebaik orang yang lain, namun semua orang punya peluang untuk menjadi diri yang lebih baik. Kalaupun ia tidak bisa menjadi pintu rizki bagi orang lain, setidaknya ia punya waktu untuk mensyukuri rizki yang diterimanya. Bersyukur adalah salah satu cara untuk bangkit dari titik nol, sesuai dengan firman Allah dalam QS Ibrahim, bila kita bersyukur semakin besar karunia Allah. Sebaliknya, bila kita tidak juga mau bersyukur, maka siksa Allah sungguh pedih.

Salah satu kesyukuran yang bisa kita tunjukkan pada Allah adalah dengan memberi pada orang lain. Allah tidak menyukai tangan di bawah, karena meminta-minta bukanlah tuntunan Islam. Orang Islam harus berikhtiar, menunjukkan harga diri, sehingga tiap rupiah yang kita terima terasa jauh lebih manis.

Tangan di atas tidak pernah sama dengan tangan di bawah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: