Mari Berpuasa ….

Tanggal 22 Agustus 2009, secara serentak kaum Muslim negeri ini seharusnya mulai berpuasa, seiring dengan masuknya bulan Ramadhan. Memang ada beberapa anomali yang tidak terhindarkan, misalnya beberapa aliran yang berpayungkan Islam ternyata memilih untuk berbeda. Katakanlah tharikat naqsabandiyah di Sumatera Barat yang berlandaskan ajaran sufisme, ternyata memulai dua hari lebih awal. Anomali lain adalah kelompok orang Islam (paling tidak KTP-nya berbunyi seperti itu) yang menganggap bulan Ramadhan sama dengan bulan lain, tidak lebih – bedanya hanyalah mereka jadi tidak bebas untuk makan di siang hari.

Adanya orang yang tidak berpuasa karena tidak menganggap penting berpuasa di bulan Ramadhan dari masa ke masa ini seolah-olah sudah menjadi garis kodrat manusia, sehingga firman Allah dalam Al-Baqarah 183 pun menyebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Yang diseru adalah “yaa ayyuhalladzina aamanu” bukan “yaa ayyuhannas” – hai orang yang beriman bukan hai manusia. Berpuasa adalah jalan orang yang beriman dan diserukan hanya kepada orang yang beriman, agar semakin mereka mendalami makna puasa, kian besarlah takwa dalam diri mereka.

Secara nyata, memang tidak semua orang suka (bahkan yang beragama Islam) dengan datangnya bulan puasa, karena berarti mereka harus berhenti melakukan berbagai hal yang secara nafsu mereka sukai: makan minum di siang hari dengan bebas, aktivitas syahwat yang menyimpang, dan suasana yang mendadak religius mau tak mau membuat kekangan, setidaknya perasaan yang tidak enak.

Kalau kita simak di layar televisi, menjelang bulan suci ini para Satpol Pamong Praja berkeliaran di tempat-tempat yang ditengarai menjadi basis kemaksiatan dan menertibkan mereka. Para PSK mau tak mau harus ikut berpuasa, karena lokasi mereka dipantau ketat. Tak kalah seru, Ormas yang mengatas namakan Islam seperti FPI juga merazia beberapa tempat yang dianggap sumber maksiat. Pokoknya, aparat pemerintah daerah dan ormas seperti berlomba menegakkan kedisiplinan dalam beribadah.

Puasa sebenarnya bukan monopoli orang Islam, karena sebelum Islam pun berpuasa sudah di-syariah-kan melalui Rasul sebelum Muhammad SAW. Puasa Dawud dan puasa di hari Asyura adalah contohnya. Sebelum di tetapkan hukumnya sebagai sunnah oleh Rasulullah SAW, orang-orang yang hidup di jaman Rasulullah (bahkan Rasulullah sendiri) juga berpuasa di hari Asyura. Pada intinya, dengan kenyataan bahwa puasa adalah tuntutanan agama sejak jaman dahulu, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. Apalagi puasa di bulan Ramadhan sudah jelas dituliskan dalam Al Qur’an.

Teristimewa di Jawa, datangnya bulan puasa ini juga dimaknai dengan beberapa ritual dan adat yang tidak jelas asal-usulnya. Pertama, sebelum masuk Ramadhan berbagai makam tiba-tiba penuh dengan kerabat ahli kubur untuk “nyekar” (mungkin sekali di beberapa tempat lain juga demikian). Kemudian ada saling antar makanan antara tetangga, khususnya memberi antaran pada orang-orang tua atau yang dituakan. Setelah masuk bulan puasa, pikiran sudah meloncat jauh ke akhir bulan, saat Idul Fitri – karena di Jawa Idul Fitri identik dengan mudik dan perayaan keluarga besar. Beberapa orang yang menjelang bulan puasa belum “nyekar” juga menyempatkan diri untuk berziarah kubur.

Mudik yang masif sekarang sudah menjadi tradisi, adat kontemporer, baik bagi Muslim maupun non-Muslim, bagi Muslim yang khusyuk berpuasa maupun sama sekali tidak melaksanakannya. Tahun ini, dengan meningkatnya teknologi pemesanan tiket kereta, bahkan tiket bisnis dan eksekutif hingga hari H-5 sudah habis terjual ketika bulan puasa belum tiba.

Dengan masuknya bulan puasa, kita kemudian disuguhi acara televisi yang bernuansa ramadhan, dan pada jam sahur semua televisi swasta berlomba-lomba menyajikan konsep acara yang hampir sama dengan tahun lalu: humor dan kuis. Yang sedikit berbeda adalah sinetron Para Pencari Tuhan yang masuk tahun ketiga di SCTV, dan kelanjutan Tafsir Al-Misbah di Metro. Jadi, sambil bersantap sahur,  pemirsa bisa menentukan selera mereka.

Di atas segala apapun, ramadhan adalah biang segala bulan, bulan yang utama karena Allah sendiri yang memerintahkan puasa ini, bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk Allah sendiri. Allah juga yang akan membalas sendiri ketakwaan manusia dengan takaran yang dikehendakiNya. Berpuasa bisa dengan alasan apapun, termasuk semua khasiat dan manfaat yang dijelaskan oleh Rasulullah, tetapi boleh juga hanya mendasarkan diri pada prinsip tersebut di atas: puasa kita ini hanya untuk Allah. Semakin ikhlas kita melaksanakannya, semakin ringan rasanya. Mereka yang berpuasa dengan pamrih karena manusia lain, akan merasakan beratnya puasa ini.

Semoga Allah senantiasa menjaga puasa kita yang dilakukan hanya untuk mencari ridlo Allah semata, dari semua gangguan dan godaan duniawi maupun syetan yang terkutuk.

SELAMAT MELAKSANAKAN IBADAH PUASA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: