Mbah Surip, Gombloh, dan Gepeng

Tak gendong … kemana-mana

Tak gendong … kemana-mana ….

Enak to, mantep to ….

tak gendong ... kemana-mana

tak gendong ... kemana-mana

Lirik lagu berirama reggae ini sederhana, kedengaran kampungan, campur aduk antara bahasa Indonesia, jawa, bahkan Inggris, namun justru itu yang membuatnya dekat di hati dan disukai khalayak. Pemusik reggae di tanah air cukup banyak, namun penggemarnya captive sebagaimana lagu jazz – terbatas dan itu-itu saja. Tapi lagu Tak Gendong menembus batas usia dan kelas sosial, bahkan bisa dinyanyikan (barang sepenggal) oleh anak berusia 2 tahun yang baru belajar bicara. Di situs 4shared, semua lagunya sudah di-upload, akan tetapi ringback tone-nya mencapai rekor 8 milyar rupiah penjualan – sehingga Mbah Surip selaku pencipta memperoleh royalti hingga 4 milyar rupiah. Sungguh fantastis.

Sosok laki-laki yang bernama asli Urip Akhmad Riyanto ini juga se-eksentrik lagunya. Wajah “ndeso”-nya jelas tidak tampan, berambut gimbal dengan topi warna-warni khas Jamaika, bahkan gitar, pakaian, dan sepatunya juga berwarna ala Jamaika. Dan yang paling susah dilupakan adalah tertawanya yang lebar … Haahahaha ……

Sekarang, pelantun lagu jenaka itu telah tiada, meninggal di usia 60 tahun pada tanggal 4 Agustus 2009. Diduga, pak tua asal Mojokerto ini meninggal karena penyempitan pembuluh jantung. Ia memang kurang suka air putih, dan kabarnya penggila kopi dan rokok. Kematiannya yang medadak membuat banyak orang yang cukup berduka, karena rasanya belum cukup puas kita mendengar kelucuan-kelucuan lagu atau video klip lainnya. Mbah Surip meninggal justru ketika bintangnya sedang naik.

Di era 80-an, ada seorang penyanyi asal Jawa Timur lain yang dikenang hingga sekarang karena lagu-lagunya yang merakyat dengan lirik sederhana namun menikam sasaran: Kebyar-Kebyar, Kugadaikan Cintaku, Apel, dsb. Bahkan lagu Kebyar-Kebyar ini memberikan dorongan motivasi massa saat perjuangan reformasi. Ketika di Surabaya masih berlangsung gerak jalan tradisional Mojokerto-Surabaya untuk memperingati Hari Pahlawan, lagu Gaung Mojoketo – Surabaya sangat disukai massa.

kebyar kebyar ... pelangi jingga ....

kebyar kebyar ... pelangi jingga ....

Gombloh yang bernama asli Sujarwoto Sumarsono ini tidak tampan, malah seperti Mbah Surip – unik dan agak menggelikan. Tubuhnya kurus kering, sangat “nyantai”, selalu berhias kacamata Rayban besar, dan yang paling mencolok adalah mulutnya yang nyaris ompong. Tidak ada keglamoran pada diri Gombloh, bersahaja, hingga akhir hayatnya.

Gombloh meninggal pada usia menjelang 40 tahunan di tahun 1988, ketika lagu-lagunya baru mulai dikenal masyarakat Indonesia. Bila sebelumnya ia adalah aset Surabaya, ketika meninggal Gombloh telah dianggap sebagai bagian dari budaya musik Indonesia. Tubuh kurusnya ternyata menyimpan beberapa penyakit, namun ia tidak pernah menurunkan kuantitas konsumsi rokoknya.

Masih di era 80-an, dunia lawak Indonesia pernah diramaikan oleh seorang jenaka yang akrab dipanggil Gepeng. Nama aslinya adalah Aris Freddy, pengocok perut yang memulai debutnya di Srimulat Surabaya. Sekalipun tergolong baru, Gepeng mampu merangsek dominasi rekan-rekannya yang lebih senior di Surabaya seperti Bambang Gentolet dan Didik Mangkuprojo. Ia berangkat ke Jakarta dengan bekal kelucuannya bersama Tessy, Basuki, Tarsan, dsb.

... untung ada saya ...

... untung ada saya ...

Gepeng nyaris selalu muncul melawak sebagai orang biasa, pelayan yang bodoh atau orang yang tidak berpendidikan, berbicara seenaknya sendiri, dengan ciri khas kepiawaian dalam membolak-balik kata dalam bahasa Indonesia hingga terdengar sangat lucu. Maunya menggunakan istilah modern, tetapi karena tidak tahu artinya, akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah serangkaian kalimat tanpa makna. Yang diingat orang akan Gepeng adalah kata-katanya: “… untung ada saya…!” dengan kenaifan yang lucu. Penggalan kata itu pula yang menjadi salah satu judul debut film layar lebarnya.

Gepeng adalah icon baru lawak Indonesia pasca lengsernya para pelawak tua seperti Bagyo cs, Ateng-Iskak, dsb. Beda dengan warga Srimulat lainnya, bintang Gepeng sangat terang. Ia bahkan pernah membintangi film layar lebar di era Warkop DKI – saat film komedi slapstick sedang booming. Sayangnya, ia harus mati muda karena digerogoti penyakit di livernya.

Kesaman dari ketiga seniman yang terkenal di masa mereka itu  adalah sama-samameninggal saat sedang berada di puncak ketenaran. Ketiganya meninggal karena penyakit dalam yang mereka derita, namun tak banyak yang tahu itu sebelum mereka tiada. Yahh … karena tugas mereka adalah berkarya dan menghibur, jadi sesakit apapun harus mereka tahan.

Kematian mereka memberikan garis bawah bagi orang yang beriman … bahwa hidup ini sangat rapuh. Kita bukanlah tuan atas kehidupan kita sendiri. Kematian tidak pernah memberikan kabar, ia datang setiap saat, dan tak memilih orang. Tak akan ia menunggu barang sedetik pun bila sudah waktunya, namun tak akan datang ia bila waktunya belum tiba.

Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha untuk mati dengan baik … baik pada akhir atau khusnul khotimah. Mati dengan memeluk Tuhan di qolbu, di perut, di mulut, dan dalam perbuatan. Kematian dengan kalimat Allah di mulut terjamin sorga … hanya sayangnya hal itu tidak bisa dilatih. Mereka yang biasa mengumpat, hanya akan menyisakan umpatan sebagai kata akhir. Hanya mereka yang selalu menyimpan iman dan asma Allah di mulut dan qolbu saja yang bisa demikian.

Janganlah kita mati dalam keadaan tidak diridhoi Allah, tanpa iman di dada, apalagi dengan barang najis di perut…. na’udzu billahi mindzalik… karena by pass ke neraka sudah disiapkan lebar-lebar.

Ada yang jauh lebih penting daripada nama besar yang dikenang manusia … yaitu catatan amal kita  yang dicatat indah di langit….

2 Responses to “Mbah Surip, Gombloh, dan Gepeng”

  1. ahmad zaidan Says:

    baguss banget…

  2. top banget, mumpung masih ada waktu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: