Farewell Corazon ……

Jan 1933 - Aug 2009

Jan 1933 - Aug 2009

Nama Corazon Aquino – atau biasa disapa dengan Cory – tidak banyak lagi didengar oleh orang di luar negerinya, Filipina, sampai kabar kematiannya tersebar di media massa pada hari Sabtu 1 Agustus 2009 . Mau tak mau, nama itu membawa ingatan saya kembali pada awal-awal masa kuliah dulu, saat perempuan bersahaja itu naik ke kursi kepresidenan Filipina di pertengahan 80-an – pada usia sekitar 53-an. Dialah perempuan pertama yang mengukir sejarah sebagai presiden pertama di Filipina, bahkan Asia.

Catatan: Jabatan Presiden di Filipina sama dengan di Indonesia, yaitu kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Di bagian Asia yang lain, seperti Indi dan Pakistan, sudah ada perempuan yang berhasil mengukir sejarah sebagai kepala pemerintahan dalam jabatan perdana menteri. Kita ingat nama Indira Gandhi dan Benazir Bhutto.

Cory Aquino selalu meng-klaim dirinya sebagai perempuan biasa yang menjadi ibu rumah tangga. Tubuhnya yang cenderung mungil, wajah yang bersahaja tapi tegas, dan pakaian yang tidak mewah, sungguh jauh bila dibandingkan dengan sosok ibu negara saat itu yang dianggap sebagai salah satu perempuan kuat di Asia, Imelda Marcos. Imelda bukan saja cantik, tubuhnya tinggi, cerdas, dan kharisma politiknya juga kuat.

Memang sebelum kebangkitannya dalam pemilihan presiden, nama Corazon Aquino tidak pernah dikaitkan dengan politik praktis. Ia membawa nama Aquino dari suaminya, Senator Benigno Aquino Jr yang tewas di ujung peluru sniper begitu menjejakkan kaki di bandara (yang kelak diberi nama sesuai dengan namanya) sepulang dari pengasingan di Amerika Serikat (1983).

Mendiang Ninoy Aquino selalu didengungkan akan menggantikan sang diktator kuat Ferdinand Marcos, dan mungkin memang inilah langkah keliru sang orang kuat – menghabisi lawan politiknya di tanah kelahirannya sendiri. Entah memang Marcos yang memerintahkan pembunuhan Ninoy Aquino atau bukan, kematian sang Senator telah memicu kemarahan bangsa Filipina.

Cory Aquino kembali ke tanah air pertama kali sejak pengasingan untuk ritual pemakaman suaminya, yang dihadiri oleh lebih dari 2 juta orang – terbesar dalam sejarah bangsa tersebut. Sejak saat itulah, Cory selalu tampak di depan barisan aksi massa yang menyuarakan penentangan kepada diktator Ferdinand Marcos. Ia tampak sebagai icon pemersatu massa penentang Ferdinand Marcos, yang sudah berkuasa di Filipina sejak 1965.

Pada saat pemilihan presiden Filipina yang diumumkan tahun 1985, Cory Aquino bahkan tidak dengan serta merta mencalonkan diri sebagai presiden. Kaum oposan lah yang mendorongnya untuk maju, bahkan didorong pula oleh kaum bisnis yang tidak menyukai perekonomian Filipina dikuasai oleh kroni Marcos. Sebenarnya, calon yang cukup populer saat itu adalah Senator Salvador Laurel – putra mantan Presiden yang dikalahkan Marcos sekian puluh tahun silam. Akan tetapi, beberapa pihak meragukannya mampu menyatukan semua kekuatan oposisi untuk menandingi dominasi partai yang mengusung Ferdinand Marcos.

Hampir semua orang yang menjadi saksi masa kampanye Filipina saat itu meihat euforia politik bangsa, bagaimana mereka larut dalam kekuatan massa yang mendukung Cory Aquino. Simbol jarinya adalah L (ibu jari dan telunjuk – dari partai yang mengusungnya LABAN). Sementara Marcos tetap dengan simbol konservatif V (Victory). Tentu saja, Marcos tidak demikian saja menyerah. Dengan segala cara yang legal maupun kotor  ia berusaha menjatuhkan Cory Aquino (misalnya dengan membunuh sekutu-sekutu kuat Cory), namun barisan pendukung perempuan itu sangat kokoh.

Hasil pemilu bulan February 1986 menjadi kontroversi besar, karena dengan segala cara Marcos berusaha memanipulasi hasil pemilihan presiden untuk keuntungannya. Komisi pemilihan umum resmi pemerintah COMELEC (semacam KPU di sini) menyatakan bahwa Marcos adalah pemenang pemilihan – unggul sekitar 1.5 juta suara. Batasang Pambansa (semacam parlemen) yang dikuasai antek Marcos mengesahkan hasil pemilu tersebut – sekalipun ada 50 orang oposisi melakukan walk-out memprotesnya.

Hasil penghitungan suara oleh lembaga yang lebih independen NAMFREL (semacam Bawaslu di sini) menemukan hal yang berlawanan. Cory Aquino dinyatakan menang dengan selisih sekitar 800 ribu suara. Sekitar 30 orang operator IT COMELEC yang bertugas mengkompilasi suara pemilih melakukan walk-out karena mereka tidak mau menjadi kaki tangan sang diktator. Konon, walk-out-nya staf COMELEC inilah yang memicu bergeraknya protes massa terhadap hasil pemilihan.

Rakyat yang tidak puas bergerak. Mereka melakukan gerakan damai yang dikenal dengan istilah People Power. Gerakan inilah yang mengilhami kebangkitan rakyat Indonesia dalam penggulingan Suharto tahun 1998 tak pelak lagi terinspirasi oleh gerakan Cory yang santun dan damai. Bila Marcos didukung oleh perwira loyalisnya, Cory didukung oleh dua jenderal yang meletakkan jabatan pemerintahan: Juan Ponce Enrile (menteri pertahanan) dan Fidel V Ramos (wakil panglima angkatan bersenjata). Belum lagi tokoh gereja kharismatik Uskup Agung Jaime Cardinal Sin. Boikot pada sendi-sendi bisnis kroni Marcos benar-benar melumpuhkan perekonomian pendukung Marcos.

Saat yang bersejarah adalah 25 Februari 1986, saat Filipina mengangkat sumpah sang presiden terpilih. Yang unik adalah, dua presiden di lantik pada hari yang sama. Marcos dikukuhkan kembali sebagai presiden di Istana Malacanang, sementara Corazon Aquino dilantik di luar istana, di sekitar camp pergerakan massanya. Akan tetapi, pada hari itu juga, keluarga Marcos bergegas meninggalkan Filipina secara dramatis pada malam hari, sehingga otomatis Cory Aquino menjadi penguasa negeri itu.

Yang diingat orang begitu masa demonstran menguasai Malacanang adalah ditemukannya koleksi sepatu Imelda Marcos yang berjumlah ratusan (bahkan mungkin ribuan) pasang. Kemewahan sang diktator akhirnya harus runtuh di tangan seorang lawan politik yang sama sekali tidak diperhitungkannya sebelumnya.

Cory hanya menjabat satu periode masa pemerintahan, dengan segenap kesederhanaan dan integritasnya pada kemanusiaan dan keadilan. Dia menjadi lambang seorang ibu yang ideal bagi bangsa Filipina. Dicabutnya undang-undang subversi, dan dibubarkannya Batasang Pambansa, agar rakyat Filipina bisa membentuk masa depan yang lebih cerah. Di bawah administrasi pemerintahannya, Filipina memasuki era baru pasca diktator Marcos. Mungkin terjadi gejolak, namun bangsa itu telah menjelma menjadi sebuah negara demokrasi.

Bahkan di akhir masa jabatannya, Cory keluar dari Istana Malacanang hanya dengan Toyota Crown yang dibelinya sendiri. Ia tidak mau diantar Mercedez kepresidenan yang disediakan. Ia kembali ke habitatnya, bekerja untuk kemanusiaan pada berbagai yayasan. Sungguh sebuah pribadi sederhana yang mempesona dunia. Jejak kakinya mengukuhkan dirinya sebagai Ibu bangsa Filipina, hingga presiden Gloria Arroyo menetapkan 10 hari berkabung nasional. Kanker usus besar menggerogoti kesehatannya. Menurut kabar, kematiannya disebabkan kegagalan fungsi jantung dan paru (cardiopulmonary arrest)setelah berkomplikasi dengan kanker tadi.

Tanggal 1 Agustus 2009 jam 3:18 waktu setempat tercatat sebagai waktu kematian Cory Aquino. Paalam na po Cory … farewell….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: