Ekstrimisme (Lagi) Merobek Nama Bangsa

Catatan akhir bulan Juli 2009

Seharusnya, bulan Juli ini penuh dengan event yang ditunggu oleh masyarakat Indonesia. Hasil pilpres 2009 dan datangnya raksasa sepak bola Manchester United di Jakarta adalah dua di antara hot news-nya. Tapi, seperti kata pepatah … untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, justru dua ledakan maut menggasak hotel yang akan dipergunakan oleh team MU dan sedang dipergunakan oleh team Indonesia. MU membatalkan kunjungan ke Jakarta, dan tingkat elit politik yang menyongsong hasil resmi pilpres menjadi tegang. Semua gerah – kecuali media massa yang mengeruk berita harian hangat.

JW Marriot aftermath ...

JW Marriot aftermath ...

Seketika itu juga, di tengah kepedihan yang langsung terasa di sudut-sudut negeri, kita jadi sadar bahwa ekstrimisme masih menjadi PR bagi pemerintah yang sedang berkuasa. Ekstrimisme yang menjadi akar terorisme masih ada, dan setiap saat mengancam. Kali ini, masih seperti sebelumnya, ekstrimisme yang dilakukan pelaku bom bunuh diri meminjam nama Islam. Nama-nama lama seperti Noordin M Top menyeruak ke permukaan, dan jaringan yang selama ini hampir dilupakan membuktikan eksistensinya.

Berbagai analisis dikemukakan di televisi dan koran, yang kian lama rasanya semakin membuat masyarakat cemas. Orang tidak akan melihat progress yang diraih oleh kepolisian dan intelijen, karena porsi dugaan dan asumsi di televisi jauh lebih intens. Hampir setiap pagi dan petang, beberapa televisi selalu menayangkan rekaman detik-detik terakhir sebelum ledakan, sketsa potongan kepala, sosok bertopi yang diduga pelaku bom bunuh diri, hingga keluarga sederhana yang diduga merupakan kerabat pelaku tersebut.

Yang paling menarik sebenarnya adalah ulasan MetroTV. Dengan bahasa yang meyakinkan, stasiun itu mempertanyakan alasan sebenarnya Noordin M Top (yang sebelumnya bersama Dr Azahari) memimpin serangkaian pengemboman di Indonesia. Mereka adalah jagoan perakitan bom, namun tidak ada sepotong pun yang meledak di tanah air mereka. Kalau mereka membenci orang Amerika dan Eropa, rasanya orang asing di Malaysia tidak kalah jumlahnya dengan Indonesia.

Beberapa hari yang lalu, sebuah blog yang berisi pengakuan Noordin M Top bisa diakses massa. Di sana, ia mengaku bahwa bom di kedua hotel internasional tersebut adalah tanggung jawab kelompoknya. Ada yang menganggap blog itu palsu, namun pendapat lain yang lebih kuat menyebutkan bahwa memang bukan NMT sendiri yang membuat. NMT dibantu orang lai dalam menuliskan pikirannya di dalam blog. Hal ini bisa ditengarai dari kemiripan ciri yang tinggi dengan website lain yang serupa yang pernah dirilis MNT. Beberapa perbedaan dalam cara pengetikan menunjukkan bahwa orang yang mengetik memang beda orang.

Yang sangat memprihatinkan adalah keterlibatan pemuda-pemuda Indonesia sendiri dalam bom bunuh diri ini. Mereka meyakini bahwa kematian mereka dengan membawa banyak orang asing akan membuat mereka masuk surga. Sebuah logika yang sinting, namun nyata dan didalami oleh sebagian pemuda tersebut. Entah bagaimana asal muasalnya, yang jelas para pemuda kita itu memiliki pandangan yang sangat ekstrim, tidak punya rasa toleransi, dan menganggap benar kejahatan yang dilakukannya.

Beberapa hari lalu, MetroTV menayangkan kesaksian survivor ledakan JW Marriot 2. Dari pengakuan salah seorang saksi tersebut, memang jelas bahwa yang akan diledakkan adalah kumpulan CEO yang sedang mengadakan jamuan breakfast meeting. Bukan hendak menyabot kedatangan MU. Pelaku yang membawa tas besar memaksa untuk menyerahkan tas besar (yang berisi bom) kepada atasannya yang sedang meeting. Masih menurut saksi tersebut, sesampai di depan meja panjang tempat breakfast meeting, orang itu seperti kebingungan. Hanya berselang 1 menitan, tas orang itu pun meledak.

Mengapa orang itu sepertinya kebingungan? Menurut salah seorang teman, bagaimanapun orang yang akan mati akan muncul keragu-raguan. Tetapi, ada kemungkinan orang tersebut bukanlah pemegang detonator. Ada orang lain yang memicunya. Kalau benar orang yang meledak bersama tas itu bukan sekaligus pembawa detonator, pertanyaannya adalah sadarkah mereka bahwa ia akan diumpankan menjadi bom hidup … yang pastinya akan mencederai lebih banyak orang Indonesia daripada orang asing? Semuanya masih teori dan dugaan, namun yang jelas bangsa ini telah terluka karena tindakan yang berlandaskan ekstrimitas itu ….

Flu babi belum selesai, bahkan tercatat semakin meluas, kini kasus bom bunuh diri menimpali. Rasanya banyak masalah di negeri ini … namun saya yakin, kita semua bisa mengatasinya dengan optimisme, pengharapan, dan dedikasi pada bangsa dan negara. Bangsa ini rasanya sudah berada di track yang benar.

Semoga Allah Swt senantiasa negeri yang indah dan bangsa yang sedang mencari jati dirinya ini. Amin.

One Response to “Ekstrimisme (Lagi) Merobek Nama Bangsa”

  1. apapun & siapapun, perbuatan seperti ini hanya merugikan banyak orang dan yg melakukannya tidak manusiawi
    akui jg berharap yg sama, semoga Allah senantiasa memberkahi dan merahmati bangsa & negara yang Qta cintai ini…amin..
    mksh y udah mampir k blogQ
    salam kenal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: