Candu Modern: Memabukkan Dan Mematikan

Benda apa yang paling jamak dijumpai di ruang tamu atau ruang tengah keluarga? Televisi. Setelah awal 90-an, televisi yang sebelumnya adalah barang mewah berubah menjadi salah satu kebutuhan hidup rakyat Indonesia. Apalagi sekarang ini jumlah salurannya sudah semakin banyak. Kalau kita sempat berjalan di sepanjang jalur luar kota besar, akan bisa kita lihat bambu tinggi untuk menempatkan antena televisi, dan jumlahnya luar biasa banyaknya. Televisi adalah icon penyebaran informasi di negeri ini.

Sebagaimana kemajuan lainnya, perkembangan pertelevisian juga memiliki ekses yang tidak terhindarkan. Perlahan namun pasti, posisinya menjadi sentral perhatian di dalam rumah. Bukan hanya itu, fungsinya yang awalnya adalah media hiburan menjelma menjadi bagian kebutuhan anggota keluarga. Sang ayah maunya berita atau siaran olah raga, sang ibu suka sinetron demikian anak pertama yang perempuan (hanya beda saluran saja), sementara anak bungsu yang laki-laki selalu cari saluran kartun atau komedi. Sebuah benda persegi hitam dengan banyak tombol yang bernama remote control akhirnya menjadi barang rebutan di rumah. Kalau sudah begitu, jangan harap ada ketenangan di rumah – khususnya di jam-jam tertentu yang berbenturan.

buang-buang waktu berharga ...

buang-buang waktu berharga ...

Dalam beberapa tahun belakangan, demam PS2 melanda kalangan anak laki-laki. Di sudut kota hingga kampung muncul persewaan PS2 yang mengadu ketrampilan dalam memainkan joystick. Lebih seru bila permainan tersebut berbentuk sparring – misalnya game sepakbola Winning Eleven, FIFA Soccer, dsb. Bukan hanya yang main merasa seru, penonton pun merasakan keseruan yang sama. Bagaimana mereka bisa bermain selama itu, dengan duit tentunya. Apakah kalau seorang anak sudah punya PS2 di rumah lantas dia berhenti bermain di luar? Belum tentu.

Hampir serupa dengan PS2 adalah PC game online. Bila persewaan PS2 menyasar kelas menengah ke bawah, game online menyasar di level yang lebih tinggi. Tidak jauh dengan PS2, permainan ini tidak murah, level adiksinya tinggi, dan pecandunya rela mengorbankan aktivitas yang lebih penting untuk bermain online.

Bagi masyarakat perkotaan, mall adalah fenomena. Tidak ada hari sepi di mall. Kapanpun kita datang ke sana – weekdays apalagi weekend – orang selalu berkeliaran di dalamnya. Apa yang menarik dari sebuah mall – saya tidak tahu. Mengapa orang tergila-gila pada mall – jangan tanya saya. Yang saya tahu, ada orang-orang yang shopaholic. Kalau nggak ke mall, badan rasanya sakit semua. Kalau ada waktu senggang, maunya ke mall. Apa yang terjadi kalau sudah di mall? Belanja, paling tidak makan. Jangan pula ditanya bagaimana waktu akan terlewatkan dengan sedemikian cepatnya.

Kalau sudah mulai nonton televisi, dan asyik dengan yang ditonton, level adiksi meningkat secara perlahan. Yang suka sinetron, komedi, menjadi kian tergantung pada acara-acara tersebut. Aktivitas apapun bisa ditinggalkan asalkan tidak ketinggalan acara TV. Yang bapak-bapak rela begadang demi siaran bola, ibu-ibu menyia-nyiakan waktu berlalu demi sinetron yang sambung-menyambung, anak-anak lupa sholat ashar atau maghrib, dan seterusnya. Kalau sudah main game, PS2 atau PC game online, waktu sekolah dan uang sekolah bisa ludes di meja kasir, dan pulang ke rumah kalau sudah tidak punya bekal lagi. Waktu tampak sangat relatif di dalam mall, karena hampir tidak akses melihat ke luar, sejuk AC, dan semua lampu menyala sekalipun tengah siang. Akibatnya, hari berjalan sedemikian cepatnya – tahu- tahu sudah Maghrib.

Entertainment, itulah yang dicari orang! Dengan menonton sinetron di televisi, bermain PS2, jalan-jalan di mall, ada sisi negatif diri yang terlampiaskan. Persoalan sehari-hari yang menjemukan atau yang berat seolah-olah terkikis dengan hiburan tadi. Orang meninggalkan kehidupan nyata yang tidak nyaman masuk ke kehidupan semu.

Tidak belerbihan kiranya mengekuivalenkan entertainment dunawi tersebut dengan candu kuno yang kita kenal secara harafiah. Candu yang memabukkan membawa orang meninggalkan kegetiran dunia untuk masuk ke alam semu. Semakin dihisap, semakin dalam penikmatnya masuk ke alam halusinasi. Di alam khayalan, orang bisa menjadi apapun yang dikehendakinya, tidak ada rasa sedih, tidak ada kesusahan, hanya kebahagiaan. Sayangnya, begitu efeknya habis, yang muncul adalah kondisi depresi, semua badan sakit-sakit, dan ternyata kesulitan hidup masih di sana tidak pergi barang sejengkalpun. Secara fisiologis, otak akan mengalami degradasi bila orang mengkonsumsi narkoba, hingga tidak mampu lagi digunakan secara normal. Karena otak adalah sumber akal budi manusia, hilangnya kemampuan otak bermakna lenyapnya pula segala kecemerlangan manusia sebagai mahluk tertinggi ciptaan Allah.

Otak kita adalah alat untuk berpikir, berkreasi, sekaligus pusat emosi dan kepribadian kita. Memberikan feeding pada otak berarti memerintahkannya berpikir, bukan justru diberi tontonan yang melenakan. Kepribadian manusia terasah bila langsung bertemu dengan orang, bukan bermain soliter tanpa komunikasi sosial yang bersemangat. Ada kalanya manusia perlu menyegarkan pikiran dengan menghabiskan waktu bersantai – berjalan-jalan di mall misalnya – tetapi menenggelamkan diri dalam kemewahan mall membunuh nurani pada kebutuhan orang-orang miskin.

Entertainment modern mudah sekali membuat orang lupa bahwa, kehidupan ini perlu perjuangan. Tidak ada prestasi yang dicapai dengan duduk manis nonton sinetron atau film, main PS2 atau game online, dan window shopping di mall. Semuanya adalah kehidupan semu, dan rata-rata kita tidak sadar menghabiskan waktu yang tidak bermakna di tempat yang tidak memberikan barokah.

Allah hanya memberikan waktu kita 24 jam sehari. Berapa yang bisa kita sisihkan untuk bersujud memohon ampunan atau duduk tafakur menaikkan zikir kepada Illahi robbi? Mungkin dengan 6 – 8 jam kerja di kantor, pabrik, rumah tangga, atau sekolah, 7 – 8 jam untuk tidur, tersisa 7 – 8 jam untuk lainnya. Mau kita apakan sisa waktu ini?

Mungkin kita tidak mati secara fisik seperti pecandu narkoba, karena entertainment modern tidak membunuh. Yang mati dari diri kita adalah kreativitas, nurani, dan kemauan untuk berkembang menjadi orang yang lebih baik. Bayangkan kalau kita bisa putuskan rantai ketergantungan pada sinetron, PS2 dan mall, berapa banyak waktu yang bisa kita sisihkan untuk membentuk karakter personal kita, membangun kepribadian yang lebih baik.

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa, kehidupan ini tak lebih dari senda gurau. Sesuatu yang fana, akan berlalu, dan bukan tempat yang kita tuju. Apakah kita hanya akan menyia-nyiakan waktu hanya untuk sesuatu yang tidak serius? Menghabiskan waktu 3 jam di mall seperti berlalunya angin, namun membaca Al-Qur’an 30 menit saja rasanya …. ampun….

Mungkin kita perlu mengubah mindset. Kita perlu menetapkan tujuan untuk hidup yang lebih baik di masa depan … menuju kehidupan kekal kelak. Tidak mudah itu sudah pasti …. apalagi langkah pertama yang perlu diambil adalah, menjauhi televisi, mesin PS2, dan mall. Dan segala entertainment yang telah membuat mabuk. Anda bisa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: