Pemilihan Presiden Indonesia

Hari ini, Rabu 8 Juli 2008, seluruh warga bangsa Indonesia diberi kesempatan untuk menyalurkan aspirasinya memilih pemimpin negara yang mereka sukai. Sudah tersedia tiga pasang Presiden – Wakil Presiden, yang mewakili 3 kekuatan partai besar dalam Pemilu legislatif beberapa bulan silam.

Capres nomor 1 Megawati adalah representasi PDI Perjuangan yang secara tradisional dikenal sebagai partai nasionalis dan berpihak pada rakyat kebanyakan. Posisinya yang kuat di beberapa propinsi menjanjikan dulangan suara yang harus diperhitungkan. Apalagi, beliau juga didampingi Prabowo Subianto yang tampaknya memiliki cukup kharisma di kalangan muda. Keduanya mengemban konsep kerakyatan yang serupa, dan diwujudkan dengan slogan PRO RAKYAT.

Sang incumbent, SBY yang kali ini menggandeng Boediono, memperoleh nomor 2. Kharisma sang incumbent ini sebagai seorang Presiden sudah dikenal luas. Gaya bicaranya yang reserved dan – sejauh yang saya tahu – selalu dengan emosi yang terkontrol, memiliki nilai positif luar biasa. Ia adalah figur utama dan representasi Partai Demokrat yang secara fenomenal menjadi pemenang dalam Pemilu legislatif tahun ini. Keyakinan beliau bahwa Indonesia sudah berada di jejak yang benar memberi gagasan motto: LANJUTKAN!

Nomor 3 ditempati oleh sang incumbent wakil presiden, JK. Setelah yakin bahwa SBY memasang prasyarat yang tidak bisa dipenuhinya bila hendak meneruskan fungsinya sebagai wakil presiden, beliau memutuskan maju sendiri sebagai representasi Golkar. Dalam Pemilu kali ini, Golkar bersaing ketat dengan PDI Perjuangan dalam peroleh kursi. Dengan menggandeng Jenderal (purn) Wiranto yang sebelum menjadi Ketum Hanura adalah juga fungsionaris Golkar, JK yakin sekali telah menjelma menjadi representasi ideal: Jawa – luar Jawa, sipil – militer, bisnis – birokratis, dst. Sebagai orang bisnis, beliau yakin, Indonesia membutuhkan langkah yang: LEBIH CEPAT LEBIH BAIK.

Hanya sebulan ketiganya secara resmi diijinkan untuk berkampanye secara terbuka, sehingga team sukses masing-masing harus bekerja keras menguapayakan langkah terbaik untuk mengkondisikan hasil paling positif untuk pasangan yang mereka usung. Saling klaim keberhasilan, saling jegal, saling sindir, adalah dinamika yang terjadi selama masa kampanye. Yang lebih mengesankan lagi, tahun ini dimulai acara debat antar calon kandidat Presiden yang diselenggarakan oleh KPU dan ditayangkan oleh hampir semua televisi nasional.

Hari ini – the D-Day – semua dipastikan. Dalam jam-jam terakhir – kurang dari 48 jam sebelum hari pemilihan, Mahkamah Konstitusi mengesahkan aturan penggunaan KTP dan KK sebagai pengganti DPT yang belum lepas dari kekacauan. Artinya, akan lebih banyak warga bangsa yang punya hak memilih. Sekalipun minim dengan sosialisasi, tampaknya peran televisi memberikan dorongan yang luar biasa besarnya pada suksesnya pemilihan presiden hari ini.

Sejak pukul 9-an pagi, secara mengejutkan sudha muncul prediksi angka di televisi swasta yang secara khusus menyiarkan pemilihan kepala negara ini. Prediksi itu berasal dari Exit Polling, yaitu suara pemilih yang baru keluar dari lokasi TPS. Dengan segera pasangan nomor 2 memimpin. Exit polling bukan suara yang sebenarnya, seban ada kemungkinan pesan yang disampaikan secara verbal bisa berbeda dengan hasil yang masuk ke kotak suara.

Pada pukul 12.00, dengan cepat quick count menempatkan pasangan SBY-Boediono leading jauh dari kedua pasangan lainnya. Suara Megawati – Prabowo lebih kurang separuh suara SBY – Boediono; sementara suara JK – Wiranto sekitar separuh dari suara Megawati – Prabowo. Prediksi beberapa pengamat yang menjagokan JK – Wiranto sebagai “kambing hitam” persaingan ternyata meleset jauh. Dari catatan di semua propinsi, pasangan nomor 3 ini tampaknya hanya unggul di 2 atau 3 propinsi. Daerah yang secara tradisional dikenal sebagai basis PDI Perjuangan ternyata tidak memberikan hasil optimal bagi pasangan nomor 1. Bahkan di Ambon, yang dalam Pemilu legislatif didominasi PDI-P, ternyata justru memberikan suara bagi SBY – Boediono.

aku juga nyontreng nomer 2

aku juga nyontreng nomer 2

Dalam pikiran saya, kharisma SBY memang belum bisa dibendung. Langkah-langkahnya yang banyak dikecam oleh Prabowo Subianto ternyata masih disukai oleh para pemilih. Strategi menciptakan image masa depan yang kelam bila pemerintahan sekarang dilanjutkan yang diintrodusir oleh sang cawapres ini ternyata tidak dipahami oleh rakyat. Mungkin sekali bahasa yang dipergunakan terlalu tinggi bagi mereka – tapi ini masih perlu diuji. JK tidak berhasil mendulang suara optimal, menurut Renald Khasali, dikarenakan waktu untuk pencitraan tidak cukup panjang. Konsep ideal yang diusung beliau dan cita-cita untuk membuat negeri ini mandiri, ternyata tidak banyak dipahami juga oleh rakyat.

Bila tidak ada aral melintang, sesuai dengan suara yang diaspirasikan para pemilih dalam ajang Pilpres tahun ini, SBY – Boediono akan melenggang ke kursi kepemimpinan negeri di bulan Oktober 2009 nanti. Insyaallah.

Saya pribadi yakin, pemilihan presiden 5 tahun mendatang akan jauh lebih seru karena tidak ada incumbent yang akan bertarung. Semoga Indonesia selalu dalam lindungan Allah Swt, dan memperoleh pemimpin yang tepat untuk jamannya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: