Kampanye Pilpres: Yang Membosankan hingga Black Campaign

Catatan akhir Juni

– baru terposting Juli karena masalah internet –

Awal bulan ini ditandai dengan dimulainya putaran kampanye pemilihan Presiden Republik Indonesia untuk masa bakti 2009 – 2014. Setelah melalui berbagai pertentangan dan tarik ulur kepentingan, tiga pasang capres dan cawapres diresmikan dan didaftarkan ke lembaga KPU. Megawati – Prabowo Subianto memperoleh nomor urut 1, Susilo Bambang Yudhoyono di urut 2, dan Jusuf Kalla – Wiranto memperoleh nomor 3. masing-masing team sukses sama-sama mengusung keyakinan bahwa pasangan capres-cawapres merekalah yang paling pantas untuk menempati kursi RI-1 dan RI-2.

Apakah benar pasangan nomor 1 dan 3 yakin bisa mengungguli sang incumbent yang tampak kokoh di posisinya? Kenyataannya mereka tidak seyakin itu. Hal itu terlihat dari cara team sukses memposisikan pasangan lain dalam peta persaingan mereka. Konon, team sukses nomor 1 dan nomor 3 sepakat (secara tidak resmi) untuk saling mengalihkan suara mereka apabila ternyata dalam putaran kedua Pilpres nanti pasangan yang mereka usung tidak masuk. Secara tidak langsung mereka mengakui bahwa pendukung pasangan nomor 2 masif.

Dengan gaya yang serupa tapi tidak sama, Megawati dan Prabowo selalu menekankan kegagalan pemerintahan yang sekarang meretas kemiskinan, tidak berpihak pada rakyat jelata, bahkan pengangguran semakin banyak. Sisi negatif dan angka statistik pemerintahan dibeber untuk membentuk opini negatif terhadap administrasi kepresidenan yang sedang berjalan. Rakyat dibuat gelisah bahkan hingga takut akan masa depan yang suram bila sang incumbent kembali berkuasa. Jalan masa depan yang cerah adalah perubahan mendasar melakui mereka.

Political of fear (politik ketakutan) memang biasa dipakai dalam membentuk opini massa, dan mengarahkan floating mass ke arah yang dikehendaki pihak yang melancarkannya. Taktik ini seperti yang dilakukan oleh John McCaine dalam kampanye pilpres di Amerika tahun lalu. Bila Obama selalu mengedepankan adanya harapan dan masa depan, McCaine menggelontor rakyat Amerika dengan ketakutan akan terorisme. Kalau saja tidak ada krisi global yang menghempas dunia, belum tentu taktik McCaine bisa dikalahkan Obama dengan telak. Di sini, kita akan melihat nanti, apakah taktik kampanye yang dipilih Prabowo bisa berhasil.

Pasangan SBY-Budiono adalah orang-orang cool yang tidak berapi-api. SBY punya gaya reserved dan berwibawa, dengan determinasi yang kuat tentang langkah yang telah diambilnya. Banyak orang yang menganggapnya lamban dalam memutuskan sesuatu, namun dalam banyak hal justru kehati-hatiannya membawa keuntungan. Di sisi lain, langkah konsisten dan tanpa gejolak yang dipilihnya akan menunjukkan bahwa dalam periode pemerintahannya yang kedua (bila terpilih kembali), rakyat tidak bisa mengharapkan sebuah perubahan yang terlalu drastis. Dengan kata lain, hingga lima tahun ke depan, perubahan yang terjadi akan gradual dan tikda revolutif.

Apalagi, Budiono juga banyak dikenal sebagai sosok pendiam yang tanpa emosi dan ambisi yang berlebihan. Cara berpikirnya dalam, khas seorang teknokrat dan guru, agar ia bisa mempertanggung jawabkan langkah yang diputuskannya. Karakter personalnya seolah-olah mirip dengan SBY, hanya beda arah hidup saja.

Rakyat tidak banyak melihat janji ke depan, karena konsep kampanye pasangan ini: Lanjutkan! berarti semua hal tidak banyak berubah dari masa sekarang.

Pasangan JK-Wiranto seolah-olah hendak menjawab pasangan ideal yang diharapkan bisa memimpin Indonesia. Pasangan Non Jawa – Jawa, sipil – militer, pengusaha – politisi, dsb. JK yang pebisnis punya keyakinan besar bahwa kapasitasnya lebih dari cukup untuk membawa Indonesia ke tempat yang lebih baik. Apalagi ia akan dikawal seorang jenderal berbintang empat, yang sejak lama dikenal handal dalam memimpin. Wiranto punya kemampuan yang kuat dalam mengkomunikasikan pikirannya, persuasif, dan tidak pernah tampak emosional, sebuah sifat yang nyaris berkebalikan dengan Jusuf Kalla.

JK lebih optimis dibandingkan SBY dalam menatap masa depan, dengan mengedepankan ambisi membentuk Indonesia yang mandiri dari tangan asing. Pembangunan bandara tanpa campur tangan kontraktor asing, pemberdayaan pengusaha lokal, dan tujuan akhirnya adalah pembukaan lapangan kerja baru.

TV swasta sudah memberikan kesempatan pada ketiga capres-cawapres untuk mengemukakan visi dan misinya selama 4 – 5 tahyn ke depan bila hendak menjabat sebagai orang nomor satu negeri ini. Ada forum pertemuan dan konsultasi model town hall forum yang kurang menarik, hingga debat sopan santun yang menjemukan. Di luar mereka, beberapa acara televisi justru menyajikan forum antar team sukses yang lebih ramai, lebih berani beradu konsep dan pikiran, dengan pendukung masing-masing. Sayangnya intinya sama: tidak ada yang baru dan membosankan.

Jangan harap bisa menemukan pidato ala Obama yang bernas dan optimis, pidato ala McCaine yang membuat bulu kuduk berdiri, dan forum penyajian yang kreatif. Yahh … kita memang bukan Amerika yang sudah sangat maju dalam urusan pilpres. Negeri ini baru belajar menyelenggarakan pemilihan presiden yang menarik dan melibatkan semua elemen masyarakat. Kalau sekarang kampanye yang ada sangat membosankan, itu memang proses yang harus dilalui. Melihat animo dan keseriusan pihak televisi swasta mengemas kampanye, bukan tidak mungkin lima tahun mendatang kita akan melihat sajian yang jauh lebih menarik.

Munculnya black campaign dalam sebuah ajang pemilihan pimpinan sudah jamak terjadi, dan bukan kali pertama juga terjadi. Karena itulah, pihak KPU dan Polda cepat tanggap dan menangani persoalan ini dengan proper. Hal biasa saja, tetapi karena blow up media massa, sehingga hal biasa menjadi heboh sekali.

Apakah hanya cawapres Budiono yang terkena kampanye hitam? Tidak juga. Kalau ini lolos, bisa jadi yang lain akan bermunculan. Status cawapres Prabowo yang menduda dan keterlibatannya dengan peristiwa 1998, Wiranto yang masih lekat dengan kasus HAM, semuanya potensial terkena kampanye hitam. Rumor sudah di permukaan tetapi belum manifes menjadi kampanye hitam.

Semoga pilpres tahun 2009 nanti akan berlangsung dengan lancar, dan memberikan kebaikan bagi seluruh elemen bangsa ini. Siap menang, siap kalah. Siapapun yang terpilih adalah representasi rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: