Pilpres dan Pertentangan Kepentingan

Beberapa hari belakangan ini, televisi ramai menyiarkan kerusuhan di kota Teheran pasca kemenangan Ahmadinejad dalam pemilihan Presiden Republik Islam Iran untuk periode berikutnya. Di layar kaca Metro TV dan beberapa televisi swasta nasional lainnya terlihat kumpulan orang yang bergerak dalam kelompok besar menyuarakan ketidak puasan terhadap hasil pemilihan umum yang memenangkan kandidat yang tidak mereka dukung. Sebagian yang lain mengklaim adanya kecurangan, dengan tujuan memenangkan sang incumbent Ahmadinejad. Lebih seru lagi, beberapa hari kemudian terdengar kabar terjadinya perusakan di makam Ayatollah Khomeini dan sebuah masjid di luar kota Teheran.

Kondisi ini seperti analogi sebuah minuman bersoda tertutup yang dikocok. Kita tahu ada elemen yang bisa menyebabkan letupan, yaitu air bersoda. Kocokan ringan menyebabkan limpahan buih. Kocokan yang keras bahkan mampu membuat tutup botol meletup.

Iran adalah air bersoda. Wilayah ini sejak dulu sangat rawan konflik, karena sejak awal bangsa ini selalu memiliki ekstrimitas. Kaum Islam dan kelompok majusi yang masih hidup di pelosok negeri. Kaum Syiah yang mendominasi pendudukan memiliki ajaran yang sulit diterima orang Sunni yang berada di sekitarnya. Kaum moderat atau modernis berseberangan dengan kaum konservatif.

Iran adalah negara dengan kandungan minyak yang – konon – terbesar kedua di dunia, dan yang jauh lebih menggiurkan Amerika adalah kandungan uranium di buminya yang cukup melimpah. Itulah sebabnya nuklir Iran selalu menjadi kontroversi.

Tahukah anda berapa sinagog – rumah ibadah kaum Yahudi – di Teheran saja? Sebuah liputan dari National Geographic dari jantung Teheran menyebutkan ada 25 sinagog di Teheran saja. Penduduk beragama Yahudi yang tinggal di Iran merupakan populasi Yahudi terbesar kedua di dunia setelah Israel, dan mereka telah tinggal di bumi Persia jauh sebelum Islam menyebar di sana – yakni sejak sekitar 3000 tahun silam. Apakah mereka berselisih dengan warga Islam yang mayoritas? Bahkan mereka bisa berniaga, membuka toko, dan berbaur dengan warga Iran kebanyaka tanpa hambatan sama sekali.

Ini hanya sedikit dari banyak contoh keunikan bangsa ini.

ahmadinejad

sang zuhud yang kharismatik

Mahmud Ahmadinejad adalah Presiden Iran yang disukai kaum mullah. Hal itu tidak dapat disangkal. Dia awalnya bukan politisi, namun sekarang menjelma menjadi sosok yang disegani di dunia Islam dan tidak disukai Barat – karena berani head-to-head dengan para pemimpin Barat. Termasuk Presiden Amerika kala itu, Bush. Yang lebih pelik bagi Barat adalah karena orang ini terkenal zuhud dan jauh dari kemewahan. Ia tidak meneruskan kebiasaan mewah para Presiden sebelumnya , dan menempatkan dirinya sama dengan rakyat Iran kebanyakan. Sangat sulit menemukan sasaran tembak yang menjatuhkan kredibilitas Ahmadinejad di mata rakyat Iran.

Ketika dia naik sebagai Presiden 4 – 5 tahun yang lalu, tidak ada yang menduga kemenangannya, bahkan dia bukan kandidat yang diperhitungkan sejak awal. Akan tetapi, tampaknya dia adalah orang yang memang digadang para mullah untuk memimpin level eksekutif Iran. Tidak ada gejolak seperti saat ini, entah karena para lawan politiknya masih shock atau intelijen asing belum tahu “si hijau di dunia politik” ini akan berbentuk seperti apa.

Dalam pilpres sekarang, lawan politiknya – termasuk intelijen asing – menemukan titik tembak yang bisa dipergunakan untuk merobohkan dominasi Ahmadinejad: persoalan ekonomi dalam negeri dan ke-Islaman yang konservatif yang tidak didukung orang muda perkotaan.

Begitu telaknya kemenangan Ahmadinejad yang punya basis massa proletar di wilayah non-kota (60% prosen lebih suara) membuat lawan-lawan politiknya langsung meradang dan menuding adanya kecurangan. Dikomandani kandidat dari kaum reformis yang digadang bisa memang Mir Hasan Mousavi (dalam pengejaan lain Musawwi), gelombang unjuk rasa menyergap ibukota Teheran, sebuah fenomena yang tidak biasa terjadi.

Yang lebih unik dan mengherankan adalah, sebuah issue dalam negeri – yang sebenarnya biasa terjadi di negara manapun – menjadi headline televisi berita besar macam CNN dan BBC. Bukan sekedar memberitakan, namun waktu ratusan jam diporsikan untuk berita-berita di seputar pilpres Iran ini seolah-olah hendak menunjukkan tangan besi pemerintah kepada pengunjuk rasa yang menentang hasil pemilu. Dengan bahasanya yang canggih, CNN menyebutkan bahwa video yang diterimanya berasal dari kontributor yang tidak bisa diverifikasi. Sekalipun jelas menyebutkan hal tersebut, tetap saja gambar yang ditayangkan telah membentuk opini internasional.

Kepentingan personal tampak sekali bermain dalam kasus ini. Kepentingan sang kandidat presiden, kepentingan orang-orang yang akan meraup keuntungan, kepentingan dengan tumbangnya sang incumbent, dan kepentingan sponsor unjuk rasa – yang ditengarai adalah pihak Barat. Bahkan pemerintah Iran tanpa ragu menunjuk Inggris adalah pihak Barat yang bermain di sini.

Iran adalah idaman bagi pengendali ekonomi, karena negeri ini terletak di tempat yang strategis dan kandungan minyaknya – konon – terbesar kedua di dunia. Bukan hanya itu, cadangan uranium Iran tentunya membuat negara super power berliur karena iri. Tidak mengherankan bila sejak sekian puluh tahun silam pihak Barat selalu berusaha menanamkan pengaruh di sana. Kecemerlangan bangsa ini beberapa kali tampak ke permukaan, dan yang terakhir adalah ketika Shah Iran berkuasa. Bangsa Persia tampak seperti negeri impian saat itu.

Semua mendadak berubah tatkala people power menggulingkan pemerintahan korup Shah Iran dan menggantikannya dengan republik Islam yang konservatif di bawah pemimpin spiritual yang sempat terbuang Imam Khomeini. Puluhan rakyat Amerika yang tidak sempat lolos menjadi sander di dalam Kedutaan Besar Amerika di Teheran. Dengan trik politik yang kotor, Ronald Reagan dan Bush mengkonversikan tawanan tersebut dengan pembiayaan perang Iran yang saat itu sedang perang dengan Irak. Reagan akhirnya terpilih menjadi presiden, namun pengaruh Amerika di Iran tercabut. Apakah Amerika Serikat dan sekutu Baratnya diam saja? Tidak! Mereka selalu berusaha menanamkan pengaruh lagi di sana.

Setelah sekian puluh tahun, kekuatan massa yang menyebut diri mereka modernis dan reformis mencoba mengembalikan jalur dialog ke Barat yang selama ini ditutup oleh Ahmadinejad, melalui pemilihan presiden. Logikanya, ekonomi Iran akan terbantu bila katup dialog dengan Barat dibuka, sehingga kondisi carut marut yang tidak disukai orang kota sekarang ini akan terselesaikan.

Rakyat telah memilih – dan dengan alasan apapun – mayoritas penduduk telah memilih sang incumbent yang low profile namun merakyat, dan disukai kaum mullah. Mahmud Ahmadinejad punya pekerjaan rumah besar di awal putaran kedua masa jabatannya, yaitu menenangkan unjuk rasa yang sudah mulai anarkis, dan membuktikan bahwa bangsa ini patut disegani di Timur Tengah dan menjadi duri dalam daging bagi Barat dalam upayanya melindungi kepentingan Israel di sana.

Kita harapkan, yang terbaik akan terjadi di tanah para mullah ini. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: