Menjadi Orang Jawa

Orang manca negara kebanyakan mengenal Jawa dari dua buah istilah: Java (sebuah bahasa dalam teknologi informasi) dan Java Coffee (yang legendaris). Konon, dulu juga dikenal istilah Java teak (jati Jawa) yang dipergunakan oleh armada kerajaan Inggris untuk membangun kapal-kapal perangnya yang tangguh. Akan tetapi, kalau ditanya – di mana letak Jawa – tidak banyak orang manca negara tahu. Beda dengan Bali yang sudah menjadi milik dunia.

Pulau Jawa hanya merupakan pulau kelima terbesar di kepulauan yang bernama Indonesia (setelah Borneo, Sumatera, Papua, dan Celebes), namun menjadi pusat aktivitas negara berpenduduk sekitar 200 juta orang ini. Sebagai pula dengan kepadatan penduduk tertinggi, Jawa terkenal dengan dinamika yang tinggi, multietnik, multikultur, dengan heterogentitas yang tinggi. Uniknya, sekalipun etnik Jawa adalah mayoritas, dan bahasa Jawa juga sangat kuat berakar, bukan Bahasa Jawa yang menjadi bahasa nasional bangsa ini. Bahasa Melayu yang menjadi bahasa pergaulan di sepanjang perairan Indonesia terpilih menjadi bahasa pemersatu.

Keunikan lainnya adalah persoalan agama yang sangat sensitif pada banyak bangsa dan peradaban di dunia. Indonesia yang majemuk terimbas pengaruh berbagai agama besar dunia. Islam bisa ditemui dengan mudah di belahan Barat seperti Sumatera dan Jawa. Di bagian tengah, lebih beragam agama dan kepercayaan bisa ditemui, Islam, Kristen, dan Hindu, bahkan animisme. Di bagian Timur Indonesia, mayoritas yang bisa dijumpai adalah Kristen dan Katholik. Mayoritas bangsa Indonesia memeluk agama Islam, mencapai 80% populasi, yang berarti sekitar 170 – 180 juta jiwa. Ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia.

Pulau Jawa bisa dikatakan sebagai miniatur Indonesia. Dari sisi bahasa, memang bahasa Jawa paling banyak dituturkan, selain bahasa lain seperti Sunda di Barat dan Madura di Timur. Namun demikian, justru Bahasa Indonesia lah yang menjadi bahasa pengantar paling umum, bahkan dituturkan antar dua orang yang belum saling mengenal untuk menghindari kesalah pahaman. Sebagai kiblat peradaban Indonesia, pula Jawa juga menampung semua migran dari berbagai pulau di Indonesia, yang membawa masing-masing kultur dan tradisi – mulai dari daerah Aceh (di ujung Barat) hingga Papua (di ujung Timur) ada di sini. Belum lagi etnis dan ras yang bukan native Indonesia, seperti keturunan pendatang dari Tiongkok, Arab, dan India. Tidak hanya itu, hampir semua aliran dalam Islam dan Kristen juga bisa dijumpai di pulau ini. Di beberapa tempat terdapat kantong-kantong kaum Muslim yang fanatik, seperti halnya ada beberapa lokasi yang menjadi tempat berdirinya Seminari atau sekolah kependetaan. Sebagian kelompok masyarakat di sedikit tempat masih berpegang Hindu sebagai agama, seperti peninggalan nenek moyang mereka yang merupakan pelarian Kerajaan Pajajaran di Barat dan Majapahit di Timur. Selain itu, penghayat kepercayaan tradisional yang bernama Kejawen juga ada, sebuah kepercayaan tanpa agama, yang meyakini keberadaan Tuhan yang Tunggal, tanpa ikatan ritual dan kitab suci tertentu.

Peradaban kerajan Hindu, Buddha, dan Islam, serta pengaruh kolonialisme Belanda hingga abad XX mempengaruhi sendi-sendi budaya orang Jawa. Secara umum, pengaruh yang paling terasa adalah Islam, dan Islam menjadi agama mayoritas di Jawa. Tidak mengherankan, bila kemudian di sebagian daerah terasa Ke-Islaman yang berakulturasi dengan budaya Tiongkok, sebagian lagi Arab, Hindu, bahkan animisme. Akulturasi semacam itu terlihat di berbagai daerah rural dan suburban. Di wilayah urban, terlebih di kota besar seperti Surabaya apalagi Jakarta, sekularisme cukup mengemuka dan berkompetisi sengit dengan identitas kultur-religius. Tidak mengherankan, bila di kota-kota besar, perempuan berjilbab beriringan dengan kaum perempuan narsis menampilkan bagian tubuh terindah. Penampilan modern dengan jas selalu ditimpali dengan laki-laki berbaju takwa dan berpeci. Pembicaraan pasar saham berlari sejajar dengan bisnis berbasis syariah. Dan seterusnya.

Beberapa kota di Jawa sudah dikategorikan kota metropolis, bahkan Jakarta termasuk kota termahal di dunia, namun di wilayah yang berbeda masih dijumpai desa-desa yang bahkan tidak tersentuh listrik. Peradaban di kota semacam Jakarta sudah berkelas dunia, yang dicirikan dengan fashion, gaya hidup, dan teknologi. Merk fashion kelas dunia, cafe, clubbing, gadget modern, Blackberry, dan sebagainya bisa ditemukan di kota ini. Di saat yang sama, di pedalaman Banten, kaum Badui masih mengandalkan alam untuk mencari penghidupan bahkan dalam pengadaan pakaian.

Tanah Jawa yang telah menjadi daerah tujuan, bahkan sebelum republik ini berdiri, kondusif karena karakter manusianya yang terbuka tanpa prejudice. Orang Jawa terbiasa dengan kemajemukan, dan dianggap sebagai kelompok etnis yang dekat dengan kesantunan dalam berperilaku. Secara kultural, yang disebut dengan orang Jawa bukan keseluruhan penduduk asli Pulau Jawa, melainkan hanya orang-orang dari wilayah Jawa bagian Tengah dan Timur. Orang Jawa Barat, sekalipun tinggal di pulau Jawa, biasa disebut dengan orang Sunda. Konon hal ini dikarenakan orang Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki akar kesejarahan yang berkesinambungan, yakni sejak bangkitnya Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah hingga bangkitnya Majapahit di Jawa Timur. Jawa Barat identik dengan Kerajaan Taruma Negara dan Pajajaran yang sangat berkuasa di tatar Pasundan, tetapi tidak memperluas wilayah ke daerah lain.

Kemajemukan etnis di Jawa semakin kental di masa kolonial Belanda memasuki abad XX, saat pendidikan bagi bumiputera lebih terbuka. Itulah awal akulturasi besar-besaran terjadi. Strata sosial dipangkas, jarak sosial dipersempit, dan kian banyak kaum ningrat yang berada di antara rakyat kebanyakan untuk berbagi ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah RM Suryadi Suryaningrat yang berubah nama menjadi Ki Hajar Dewantara, yang menanggalkan status kebangsawanannya dan mewajibkan semua pengajar di Taman Siswa di panggil Ki (laki-laki), Nyi (perempuan sudah menikah), dan Ni (perempuan belum menikah). Di antara kaum pergerakan kemerdekaan, sebutan “Bung” sangat populer, menggantikan semua sebutan dan gelaran yang bersifat etnis atau agamis.

 

sisa peradaban yang siap diklaim negara lain ...

sisa peradaban yang siap diklaim negara lain ...

Dewasa ini, buah akulturasi kemajemukan budaya yang berada di tanah Jawa adalah terbentuknya kultur Jawa yang berbeda dengan sebelumnya. Bahasa Indonesia jauh lebih mudah ditemui dalam penuturan dibandingkan dengan bahasa Jawa. Kalaupun dituturkan, bahasa Jawa tingkatan terendah (ngoko) atau paling tinggi adalah kromo madya. Semakin majemuk sebuah komunitas, semakin sulit orang Jawa mempertahankan identitas ke-Jawa-annya. Sehingga, kultur Jawa sendiri pada akhirnya termarginalkan ke kantung wilayah yang memang masih cenderung homogen berkultur Jawa. Sebutlah, wilayah Jawa bagian Selatan seperti Yogyakarta, Solo, Madiun, Tulungagung, Blitar, dsb.

 

Di wilayah ini, beberapa adat, budaya, dan kesenian rakyat yang langka dijumpai di kota-kota yang berpopulasi majemuk masih bisa dijumpai, sekalipun jumlah seniman yang memainkannya juga semakin berkurang. Wayang orang, wayang kulit, dan ketoprak adalah bentuk-bentuk kesenian yang menjadi icon Jawa, namun sudah kian terpinggirkan. Batik, lurik, kebaya, dan sanggul adalah contoh budaya yang juga lekat dengan etnik Jawa, namun sudah kian jarang terlihat. Belum lagi ritual adat yang sudah banyak menyimpang dari pakem, misalnya upacara pernikahan.

Kepraktisan dan pragmatisme merupakan mata masa, dan banyak adat maupun tradisi yang tidak bisa menahan tuntutan keduanya sehingga terpinggirkan. Sementara orang memang masih menganggap kultur Jawa harus dipertahankan secara utuh seperti sedia kala, sementara di pihak lain ada yang mempertanyakan manfaatnya. Bagi yang bermaksud mempertahankan, budaya Jawa yang adi luhung merupakan pusaka yang tidak boleh hilang, dan harus menjadi pakem perilaku. Bagi yang tidak terlalu memperdulikan hal tersebut, evolusi adalah keniscayaan. Bila budaya Jawa memang tidak bisa bertahan, bagaimana pun tidak akan hilang, kecuali tidak ada sama sekali orang Jawa di Pulau Jawa. Yang nanti terbentuk adalah budaya Jawa yang sudah menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman.

Pada kenyataannya, semakin sulit menjadi orang Jawa yang setia pada berbagai nilai dan etika luhur sebagaimana nenek moyang dulu karena Indonesia sudah membuka diri pada globalisasi. Pragmatisme manusia modern mengalahkan segala keribetan simbolisme adat yang menjadi ciri masa lalu. Di berbagai sekolah memang masih tersisa pelajaran bahasa Jawa – yang menjadi salah satu jendela untuk memasuki pendalaman kultur Jawa – namun pada praktiknya hanya kulitnya saja yang diajarkan. Anak-anak di wilayah heterogen lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan. Kalaupun seseorang dibesarkan di wilayah yang berkultur relatif homogen Jawa, pada akhirnya – entah ketika masuk perguruan tinggi atau bekerja – cenderung sulit baginya untuk tidak menerima imbas dari globalisasi.

Di kalangan orang Jawa, ada istilah “ora jawa” yang artinya tidak paham. Bisa dikarenakan sebuah kondisi yang tidak umum bagi orang Jawa, konteks yang asing, hal yang tidak lumrah, dan sebagainya. Wong Jawa sing “ora jawa” bermakna orang Jawa yang tidak memahami konteks ke-Jawa-annya. Kian hari, justru orang seperti ini yang lebih banyak dijumpai, khususnya dari kalangan muda. Bila konteks Jawa adalah adat, tradisi, termasuk unggah-ungguh, orang jang “ora jawa” berarti telah menyerupai orang asing yang tidak mengenal adat, tradisi dan unggah-ungguh itu. Pengendalian diri, yang bernama tepa selira atau toleransi, adalah salah satu ciri yang juga mulai hilang dari dinamika kehidupan orang Jawa modern, khususnya yang sudah tidak lagi mencerna nilai luhur para orang tua.

Semakin bisa dipahami alasan kegelisahan sementara orang yang menginginkan orang Jawa kembali “jawa”, mengingat sudah cukup parah erosi akulturasi menggerus makna ke-Jawa-an orang Jawa. Bentuk orang Jawa hasil “evolusi” budaya juga tidak kunjung menunjukkan wujud yang established, bahkan kian mengindikasikan kemunduran nilai yang lebih parah. Hingga pantas diajukan, akan kemana orang Jawa ini dibawa mata jaman?

One Response to “Menjadi Orang Jawa”

  1. missjava Says:

    Saya akui bahwa untuk dapat mempertahankan / melanggengkan menjadi “orang jawa” itu tidak mudah…
    Salam dan terimakasih atas adanya tulisan tsb diatas.
    MissJavanicewomen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: