TUTWURI HANDAYANI

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani ….

Sebuah slogan dan motto yang telah menginspirasi gerakan pendidikan Indonesia, digagas oleh seorang ningrat dari Yogyakarta, yang seolah menanggalkan semua privilege sebagai bangsawan untuk mengabdikan kehidupannya bagi bangsa ini. Kalau nama RM Suwardi Suryaningrat tidak banyak dikenal, Ki Hajar Dewantara pasti lebih familiar di telinga orang Indonesia. Sebagai pengajar, beliau bertindak sebagaimana motto di atas: Di depan memberikan teladan, di tengah membangun motivasi, di belakang memberikan dukungan dengan segala upaya.

Beliau adalah seorang patriot sejak muda, dengan gaya perjuangannya sendiri. Tidak kenal menyerah, pemberani, dengan daya inisiatif yang mengagumkan. Tulisannya dalam koran De Expres tahun 1913 berjudul Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku seorang Belanda) membuatnya diasingkan bersama pemilik koran tersebut yang juga sahabatnya Ernest Douwes Dekker dan sahabatnya yang lain Tjipto Mangoenkoesoemo. Tulisan yang membuat gerah kaum Belanda saat itu adalah (dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia): “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Dalam pengasingan di Belanda inilah Suwardi Suryaningrat muda memperoleh gagasan untuk memajukan pendidikan di Indonesia, saat bergabung dengan para pelajar Indonesia di sana. Pemikiran-pemikiran pendidikan Barat serta pergerakan pendidikan India yang digerakkan oleh keluarga Tagore menginspirasinya dengan kuat. Setelah 5 – 6 tahun dalam pengasingan, Suwardi Suryaningrat kembali ke Indonesia dan mulai merintis pergerakan pendidikan dengan cara menjadi guru di sekolah binaan saudaranya. Pada tahun 1922, berbekal pengalaman mengajar, berdirilah Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Nama Ki Hajar Dewantara baru digunakannya saat berusia 40 tahun, tanpa embel-embel gelar kebangsawanan.

Nama Ki Hajar Dewantara, tak pelak lagi, menginspirasi pergerakan pendidikan di Indonesia. Sebagai menteri pengajaran, pendidikan, dan kebudayaan yang pertama. Beliau dikukuhkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia beberapa bulan setelah wafat tahun 1959.

Tahun ini, setelah sekitar 50 tahun sang pahlawan pendidikan pergi, bangsa ini masih terus bergulat untuk mencari model dan sistem pendidikan yang paling tepat. Tak dapat disangsikan, pendidikan selalu menempati urutan ke sekian dalam prioritas kepentingan nasional, sehingga bentuk dan mutu pendidikan di Indonesia tidak pernah jelas. Bahkan di era orde baru, dengan teganya penguasa menanamkan serangkaian kronologi sejarah yang bisa menyesatkan kaum muda, hanya demi pengkultusan individu penguasa.

 

salah satu model kelas

salah satu model kelas

Satu hal yang perlu kita syukuri adalah besarnya upaya pemerataan pendidikan dasar bagi generasi baru bangsa. Sejak masa orde baru, kita pernah mengenal istilah SD Inpres untuk menyebut sekolah-sekolah baru di wilayah pinggiran yang merupakan rintisan baru. Dewasa ini, pasca orde baru, jargon wajib belajar lebih didorong dengan peningkatan anggaran pendidikan. Hal yang seharusnya sudah dilakukan sejak dulu, karena bangsa ini bisa besar karena generasi muda yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

 

Setelah keruntuhan orde baru, pendidikan di Indonesia tidak memiliki kiblat tertentu, karena memang pasar bebas juga telah merambah ke ranah pendidikan. Tidak ada lagi kewajiban penyeragaman, buku teks yang dipergunakan, hingga kurikulum. Memang, sekolah-sekolah negeri sudah pasti tidak terlalu jauh beranjak dari pakem pendidikan yang sudah dikonsepkan sejak awal. Sebaliknya, sekolah swasta terus melakukan revisi dan peningkatan agar tidak selalu berada di belakang institusi pendidikan yang didanai pemerintah. Pendidikan yang dikelola swasta menggeliat, karena tidak mau selalu dianggap “cadangan” bagi siswa yang tidak lulus tes sekolah negeri.

Dampaknya, di berbagai kota besar di Indonesia pendidikan semakin kompetitif, namun tentu saja bila mau biaya yang lebih ringan pilihan jatuh pada sekolah negeri. Di sisi lain, kesenjangan masih terjadi di tempat-tempat yang jauh dari kota-kota besar, karena kurangnya tenaga pendidik. Pendidikan masih dianggap sebelah mata, selain karena dianggap membebani juga tidak memberikan manfaat langsung. Sebagian masyarakat masih belum mampu menimbang pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Kisah novel Andrea Hirata bukan isapan jempol, sebab memang ada daerah yang sama sekali tidak memiliki guru, dan satu-satunya guru hanyalah lulusan sekolah dasar.

Peningkatan standar mutu pendidikan yang dicanangkan oleh menteri pendidikan memang sudah seharusnya dilakukan, agar pendidikan di Indonesia memiliki bobot yang standar. Bila tidak demikian, tidak akan ada penyetaraan pendidikan tinggi di negeri ini. Masalahnya, sistem pendidikan di Indonesia tampaknya belum sepenuhnya “kompatibel” dengan pencanangan standar nilai yang semakin lama semakin tinggi tersebut. Akibatnya, berbagai kecurangan masih terjadi dalam proses Ujian Nasional dengan tujuan kelulusan siswa.

Mahalnya biaya pendidikan di Indonesia semakin terasa, terlebih lagi pendidikan tingginya. Hal ini dikarenakan perguruan tinggi tidak lagi menerima subsidi dari pemerintah, dan harus mencari sumber dana sendiri – baik dari sumbangan pendidikan maupun dari kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri. Tidak heran, banyak lulusan SMA yang langsung mencari bea siswa di luar negeri, dengan asumsi biaya sekolah bisa ditekan bila bersekolah di luar negeri (karena biaya pokok sudah ditanggung sponsor).

India sudah menemukan jati diri sistem pendidikannya lebih lama, dan di Asia negeri berpenduduk terpadat kedua di dunia itu sudah dipandang sebagai penantang bagi pasar tenaga kerja di Amerika dan Eropa. Banyak sekali pakar dan penulis buku manajemen dan teknik yang berasal dari negeri anak benua itu. Kemampuan mereka bahkan telah diapresiasi dengan sangat baik, sehingga raksasa IT seperti Microsoft meng-outsource-kan sebagian tugas pengembangan software pada anak-anak bangsa tersebut. Sebuah prestasi yang tentu saja sangat membanggakan.

Ironisnya, pendidikan di India termasuk yang paling murah di dunia. Dalam sebuah feature yang pernah di muat harian Jawa Pos sekian tahun lalu, disebutkan bahwa perguruan tinggi di India tidaklah glamor. Jangan tanya ruang ber-AC, perabotan modern, atau kelas asri yang enak dipandang mata. Semuanya efisien, seperti kelas-kelas di perguruan tinggi negeri di Indonesia sekian tahun silam. Akan tetapi, semua profesor dan doktor yang bertugas mengajar tidak pernah mewakilkannya pada asisten dosen. Bayangkan kondisi tersebut disertai dengan adanya buku-buku original dan murah terbitan Tata-McGraw-Hill, yang selalu update.

Saya selalu bermimpi, kita bisa mengembangkan sebuah sistem pendidikan yang efisien, komprehensif, dan yang paling penting mampu menghasilkan lulusan yang “terpakai” oleh dunia yang membutuhkannya: industri, profesi, sastra dan jurnalistik, dsb. Bekerja punya makna yang lebih luas daripada status pegawai negeri, pegawai swasta, buruh, dsb. Bekerja adalah mencari penghidupan dengan halal, dan sukses adalah hasil kerja keras karena memanfaatkan berbagai peluang usaha. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits: pintu rizki itu ada sepuluh, sementara sembilan di antaranya melalui perniagaan.

Semoga, kita sedang mengarah pada bentuk dan sistem pendidikan yang benar, yang terbaik untuk bangsa ini. Mungkin tidak seperti di Amerika atau Jepang, tidak persis seperti India, karena mungkin kita justru bisa menemukan jati diri kita sendiri.

Bangsaku, selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional. Semoga semangat Bapak Pendidikan selalu menjadi ruh kemajuan pendidikan bangsa ini. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: