Ritual Jumat

Jam 11.00 siang, hari Jumat, hampir bisa dipastikan kegiatan bisnis di banyak kantor, pabrik, dan tempat usaha lainnya perlahan mereda hingga akhirnya berhenti pada jam 11.30 (lebih kurangnya). Kaum laki-laki yang bekerja di segenap tempat usaha diberikan istirahat lebih awal untuk solat Jumat, bahkan kalau perlu dilakukan di dalam area pabrik atau gedung bertingkat sendiri. Ada lokasi untuk masjid atau sekedar musholla di pabrik, atau hall yang dibisa dimanfaatkan di dalan gedung bertingkat. Ini sudah merupakan kelaziman, dan kultur ini sulit dihapuskan karena bersinggungan langsung dengan kaidah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia.

Tak kurang dari Al Qur’an sendiri mengabadikan keutamaan hari Jumat sebagai nama salah sebuah surat di dalamnya. Dalam ayat 9 dan 10 surat Al Jumu’ah ini jelas sekali perintah yang terkandung:

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli . Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS Al Jumu’ah:9)

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Al Jumu’ah:10)

 

johnny-apple-sandalKaum Islam diperintahkan untuk berkumpul di masjid-masjid dan tempat-tempat lain untuk solat berjamaah, agar ukhuwah terjalin – dan itu adalah esensi kata jamaah. Sekalipun hari untuk ibadah, sehingga di hari ini bahkan ada sekolah dan toko yang tutup, tidak berarti para laki-laki Islam harus sepanjang waktu berada di masjid dan surau. Allah justru memerintahkan manusia untuk kembali mengais rizki dan bertebaran di muka bumi setelah selesai menunaikan kewajiban solat Jumat, dengan tetap berzikir kepada-Nya.

Menjadikan solat Jumat sebagai peluang untuk menjalin ukhuwah dan menimba ilmu agama dari para khatib di mimbar ternyata bukan urusan sepele. Kalau mau jujur melihat, sebenarnya lebih banyak yang melaksanakan ritual ibadah ini sekedar untuk mengugurkan kewajiban. Bila dalam kutipan surat Al Jumu’ah diserukan muslimin untuk bersegera, yang terjadi justru sebaliknya. Sudah jamak bila orang berangkat ke masjid bertepatan atau bahkan setelah bedug terdengar. Waktu khatib naik ke mimbar, sebagian bahkan masih berada di luar – merokok, wudhu, dan sebagainya. Yang sudah berada di dalam, duduk dengan tenang, sebagian menyimak kutbah dengan benar sementara yang lain terkantuk-kantuk. Memang, kondisi ambient di dalam masjid, audio, terutama kemampuan peng-kotbah sangat berpengaruh pada keseriusan orang dalam menyimak kutbah.

Di setiap hari Jumat, hampir bisa dipastikan masjid-masjid penuh atau hampir penuh, sekalipun tidak semua laki-laki Islam menegakkan perintah ini. Kendatipun hal ini tidak otomatis bermakna meningkatnya pengamalan agama yang lebih baik, sekurangnya kita paham bahwa umat Islam di Indonesia masih menunjukkan ciri kereligiusan yang baik.

Ada sebuah ironi yang terlihat di mata saya setiap usai ritual Jumat, tatkala shuttle bus yang membawa karyawan kantor mengantarkan kami kembali ke pabrik. Tukang becak sedang tidur di atas becak mereka, sebagian sedang bermain kartu, di warung-warung laki-laki dan perempuan bercanda, di beberapa proyek bangunan para pekerja yang istirahat sedang tidur atau makan, dan sebagainya. Intinya, justru mereka yang berpenghidupan susahlah yang tidak menundukkan kepala bersujud di hadapan Allah.

Kesyukuran memang suatu rahasia, yang sangat pribadi di dalam qolbu manusia. Namun demikian, ada rambu-rambu yang sudah diperingatkan sejak awal pada manusia tentang penghidupan ini. Harta yang berlimpah, diperoleh dengan cara yang halal maupun tidak, beresiko membuat orang lupa pada kesyukuran. Ibarat air laut, orang yang “kemaruk” harta akan semakin merasa kekurangan, sekalipun saat itu bisnisnya sedang bagus dan hartanya meningkat. Sebaliknya, orang yang tidak pernah merasa beruntung juga rentan pada kesyukuran, sebab mereka tidak paham harus mensyukuri apa.

Kesyukuran paling pribadi, paling mendasar adalah solat. Solat adalah simbol ketundukan, penyerahan diri, dan pengakuan kebesaran Dzat Illahi. Uniknya, solat menempati posisi yang sedemikian penting dalam tegaknya akidah Islam, sehingga dalam rukun Islam tempatnya tepat setelah ikrar syahadatain. Dalam pembahasaan, solat tidak sekedar dilaksanakan atau ditunaikan, tetapi ditegakkan. Makna filosofis yang dikandung dalam, sebab penegakan solat pada akhirnya adalah tegaknya akidah Islam dengan kokoh.

Konon, kelompok militan HAMAS merekrut kader-kader mudanya dari jamaah solat Subuh di berbagai tempat di Palestina. Orang yang selalu menegakkan solat Subuh di masjid, memiliki kecintaan yang sangat besar pada Allah, dan mereka tidak takut mati untuk apapun.

Semoga, solat jumat selalu memberikan makna ukhuwah bagi semua muslimin, dari kelompok apapun. Ucapan khatib tidak sekedar pengisi waktu sebelum ritual dimulai, namun benar-benar merupakan khazanah ilmu bagi jamaah dan makmum. Allah telah mengabulkan permintaan Rasulullah Saw untuk meringankan hitungan solat kita, hingga tinggal 5 saja dalam sehari semalam. Urusan solat telah diringankan, jadi mengapa kita tidak mengimbanginya dengan keikhlasan dalam bersujud?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: