Pemilu … aftermath!

 

Pemilu 2009 adalah bencana!

Itulah yang dirasakan sebagian orang pasca pesta demokrasi 5 tahunan tersebut. Sehari setelah pencontrengan, beberapa kabar duka menyeruak dari tengah-tengah masyarakat, dan kabar-kabar yang tidak menyenangkan lainnya.

Di Bali, seorang caleg Hanura meninggal dunia karena perolehan suara yang kecil dan tidak mampu mengangkat dirinya ke kursi parlemen. Itu kabar resmi pertama yang ditayangkan televisi. Hari Senin kemarin, saat pertamakali bertemu dengan teman-teman kerja seusai libur panjang, catatan tersebut bertambah panjang. Seorang pengusaha lokal yang menjadi caleg Golkar gagal maju, dan dikabarkan meninggal. Seorang lainnya, caleg dari PPP, menderita gejala depresi setelah menghabiskan hampir 300 juta secara sia-sia.

Melalui televisi, muncul kabar mulai masuknya para caleg gagal ke rumah sakit jiwa – mulai sekedar konsultasi karena stress hingga harus awat inap karena depresi. Bahkan rumah sakit jiwa tersebut mempunyai ruangan hingga VVIP! Wow …. Kabar lainnya adalah meninggalnya beberapa caleg kalah dari berbagai macam partai gurem, yang tidak bisa bersaing dengan kandidat dari partai-partai yang lebih besar.

Yang lebih menggelikan dan mengenaskan adalah pernyataan Wiranto soal Pemilu 2009 yang dianggapnya sebagai Pemilu terburuk sepanjang sejarah bangsa ini. Dengan dalih “banyak sekali” pelanggaran yang terjadi, beliau merasa sudah pantas menilai Pemilu tahun ini dipenuhi skandal dan kongkalikong untuk memenangkan partai pemerintah. Masalahnya adalah, beliau menilai “banyak sekali” berdasarkan laporan yang masuk ke Hanura dan berita di televisi – bukan tinjauan statistik.

depressionAftermath Pemilu, sebagaimana bencana lainnya, menimbulkan mekanisme pertahanan ego bagi individu yang terimbas dampak buruknya. Mekanisme ini muncul – bahkan mungkin dibutuhkan – dalam masa transisi pasca kejadian traumatis agar mereka bisa menata menghadapai kehidupan yang akan datang. Mereka yang tidak berhasil memunculkan mekanisme pertahanan ego mungkin langsung kehilangan gairah hidup dan meninggal.

Gejala depresi yang biasa muncul adalah withdrawal atau menarik diri dari pergaulan sosial. Caleg yang merasa gagal merasa kehilangan muka dan harga diri, atau marah pada orang di sekitarnya, sehingga merasa tidak perlu bertemu dengan orang lain. Bukan sekedar menarik diri, tetapi juga lebih suka tidur dan menghabiskan waktu di ranjang untuk melupakan semua masalah yang dialami. Dengan tidu atau tidur-tiduran, waktu akan cepat sekali berlalu – setidaknya itu yang mereka rasakan.

Para petinggi partai seperti Wiranto yang bisa melenggang ke parlemen merasa perlu juga membangun mekanisme pertahanan ego, agar tidak dianggap sebagai total loser. Mereka perlu merasionalisasi kekalahan dengan tudingan kelancungan yang dilakukan oleh pihak ke-3 (dalam hal ini adalah KPU beserta semua aparat di bawahnya). Padahal, jujur saja, tanpa kecurangan sama sekali pun, belum tentu suara yang didulang partai kecil cukup signifikan untuk menandingi perolehan suara partai pemenang.

Yang juga baru kita amati melalui televisi adalah intelektualisasi, semacam langkah rasionalisasi namun dengan model analisis ilmiah sehingga penyebab kekalahan dalam pendulangan suara bisa diketahui. Ujungnya adalah penyelamatan harga diri. Berbagai elit partai diwawancara, dan dengan keras mereka berupaya menjelaskan penyebab kekalahan mereka. Kalapun mereka akhirnya mengakui kekalahan, pengakuan atas keberhasilan partai pemenang masih jauh.

Mekanisme pertahanan ego normalnya muncul dalam situasi transisi yang belum stabil – atau kondisi yang disebut disequilibrium. Rentang waktunya seharusnya tidak panjang, karena orang harus segera menemukan realitas dan kembali hidup berpijak di atas kehidupan nyata tersebut. Mereka yang depresi harus kembali bergairah, yang meyangkal harus menerima, tidak mencari kambing hitam, dan berhenti menganggap orang lain bodoh. Bila berkepanjangan, ada indikasi gangguan yang dialami penderita sudah membutuhkan penanganan yang lebih serius.

Bukankah Al-Qur’an menjelaskan dalam QS Al-An’am 32: Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka . Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Jadi, tidak pada tempatnya manusia terlalu fokus pada hal duniawi, menjadi sakit, terluka, bahkan mati karena urusan dunia yang sia-sia. Sementara kita diajari untuk menyerahkan semua masalah dan kesulitan pada Allah Swt, khususnya bila sedang menghadapi musibah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: