Aku Mencontreng!

 

bukticontreng1Pesta demokrasi telah berlangsung. Hari H: 9 April 2009. Quick count yang ditayangkan oleh beberapa televisi swasta juga sudah selesai. Sekarang, hasil resmi dari KPU yang sedang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Di tengah berbagai keterbatasan dan carut marut aturan main oleh KPU, sungguh menakjubkan secara umum Pemilu berlangsung dengan baik. Catatan KPU menunjukkan bahwa jumlah pemilih mencapai bilangan 170 juta orang lebih – dan kalau 60% saja yang mau mencontreng, angka pemilih di kisaran 110 juta sudah bagus sekali.

Ketika berada di lokasi TPS, yang terlihat adalah wajah-wajah warga yang ingin tahu, penasaran, dan mungkin sebagian agak cemas. Di luar area tunggu TPS terdapat papan besar berisi daftar nama caleg tiap partai (tapi tidak semua partai punya caleg), lengkap dengan asal daerah dan alamat. Tidak ada antrean panjang, hanya barisan tunggu biasa. Saya sendiri hanya berada di lokasi TPS sekitar 50 menit (sejak datang sampai siap pulang). TPS tempat saya mencontreng sederhana sekali, yaitu gedung sekolah dasar negeri.

Panitia memberikan 4 buah surat suara yang terlipat rapih. Di dalam bilik suara, yang berupa sekat setengah badan dari bahan metal (mungkin aluminium), hal pertama yang saya lakukan – sesuai dengan pesan panitia – adalah memeriksa surat suara. Jangan sampai memperoleh surat suara yang rusak atau sobek. Nah, perpaduan antara besarnya surat suara dan bilik pencontrengan yang sempit menimbulkan kesan baru: sumpek. Untungnya, karena partai pilihan saya terletak di tepian, tidak terlalu susah saat mencontreng. Bagaimana kalau pilihan warga ada di tengah, ya tentu saja akan cukup sulit!

Saat membuka lembar surat suara yang selebar koran, saya baru sadar bahwa nama caleg di bawah lambang partai tidak disertai dengan asal daerahnya. Jadi, hanya berdasarkan ingatan saja pada daftar nama caleg di luar bilik pencontrengan, saya menentukan nama yang saya contreng. Demikian pula dengan anggota DPD, yang hanya mencantumkan foto dan nama saja, tanpa daerah asal. Jujur saja, Pemilu kita masih identik dengan pembelian kucing dalam karung ….

Petang hingga malam hari, mulailah quick count memberikan kejutan baru dengan tampilnya Partai Demokrat sebagai pendulang suara terbesar. Sejak sore, posisi 20%-an terus bertahan. Gerindra yang saya prediksikan membuat kejutan, ternyata tidak sefenomenal Partai Demokrat dalam Pemilu 2004. Sebagai partai baru, langsung masuk dalam jajaran 10 besar bersama dengan Hanura sebenarnya sudah cukup bagus, tapi belanja promosi Gerindra tampaknya jauh lebih besar dibandingkan dengan Hanura. Yang terancam tidak masuk dalam parlemen adalah partai-partai berbasis agama seperti PBB dan PDS.

Dari berbagai komentar di koran yang terbit esok paginya, tampak ketidak puasan dari elit politik yang cukup terpukul dengan rendahnya suara yang mereka peroleh. Mereka tidak paham, bagaimana mungkin pemerintahan yang “begini-begini saja” bisa memperoleh kepercayaan rakyat sedemikian besar. Yang lain berusaha mengungkit-ungkit ketidak sempurnaan proses Pemilu, yang sebenarnya sudah bisa diprediksikan sejak tidak kelar-kelarnya dalam proses di DPR.

Jurus lain yang lebih nyata segera dilontarkan oleh beberapa partai yang memang dikenal akrab dengan PD, seperti Golkar, PKS, dan PAN untuk memantapkan koalisi dalam parlemen. Hal ini, tentu saja, untuk mengantisipasi upaya koalisi partai PDI Perjuangan yang juga sudah mulai manuver dengan Hanura dan Gerindra. Bila koalisi Partai Demokrat ditujukan untuk mencapai mayoritas parlemen, tampaknya koalisi PDI-P masih dalam rangka mencapai persyaratan minimum yang solid jumlah prosentase di parlemen untuk pengusulan calon presiden.

Seperti yang sudah saya tuliskan dalam catatan sebelumnya, Indonesia harus tetap bersyukur dengan segala bentuk proses yang sedang berlangsung. Dalam segala konflik dan carut marut proses pemilihan umum, kita tetap rekat sebagai sebuah bangsa. Tak ada yang menyangkal bahwa elit politik selalu dituding sebagai orang dengan lidah bercabang, namun demikian jelas bahwa perhatian mereka pada rakyat masih sangat besar. Bandingkan saja dengan kondisi pemerintahan Thailand yang seperti tak putus dilanda konflik. Bagaimana pula ceritanya, seorang mantan perdana menteri yang dilengserkan karena korupsi bisa menggalang massa untuk melakukan kudeta balasan. Thaksin tidak menggunakan pengaruhnya pada massa untuk membangun bangsanya, melainkan sebagai alat untuk kembali melenggang ke tampuk kekuasaan lagi.

Seharusnya, berbagai elit politik berani mengakui bahwa pemerintahan yang berkuasa saat ini memiliki program kerja yang bagus – menyeimbangkan ekonomi makro dan mikro. Dalam guncangan resesi dunia, Indonesia masih mampu bertahan karena keseimbangan ini. Benar rakyat sengsara, tapi bukan hanya rakyat Indonesia saja. Akan tetapi, rakyat tidak dalam posisi tidak berdaya. Mereka masih selalu punya harapan untuk bangkit, dan optimisme untuk menjadi lebih baik esok hari. Saya pribadi masih sangat yakin bahwa, duet SBY – JK selalu punya gagasan untuk menemukan solusi dan terobosan pada tiap persoalan yang dihadapi bangsa ini.

Menyoroti kelemahan program kerja pemerintah saja – tanpa mengakui keberhasilannya – tampaknya sudah bukan langkah yang tepat lagi. Ternyata, rakyat Indonesia sudah memiliki pola pikir yang lebih kritis, berani melihat fakta daripada sekedar janji dan celaan. Bila Megawati atau Prabowo ingin naik ke kursi RI-1, tahun ini atau 5 tahun lagi, mereka harus menemukan formula yang lebih tepat untuk membangun kepercayaan rakyat, agar rakyat yakin bahwa mereka adalah figur yang tepat dalam membangun bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: