Pemilu 2009

 

tactical and political move ...

tactical and political move ...

Tak terasa, sudah 5 tahun berselang sejak pemilihan umum legislatif terakhir dilaksanakan di bumi tercinta ini. Tanggal 9 April 2009 besok, Indonesia akan kembali merayakan demokrasi dengan caranya sendiri – dan keberhasilannya akan mengukuhkan bangsa ini sebagai negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia setelah India dan Amerika Serikat. 

Saya sempat membaca pidato Presiden SBY di depan London School of Economics and Political Sciences 31 Maret 2009 yang lalu, dan tiba-tiba sebuah cermin besar terpampang di depan saya. Negara ini memang sedang dalam masa transisi, namun kita adalah bangsa dengan optimisme yang sangat besar.

Dalam kurun waktu 1998 – 2004, sebelum pemilu presiden, kita mempunyai 4 orang presiden yang masing-masing hanya berumur sekitar 1.5 tahun. Ekonomi tidak stabil dan situasi politik suram, hingga seorang foreign affair columnist AS dan pemenang Pullitzer Thomas Friedman sempat menyebut Indonesia sebagai: “messy state … too large to fail, too messy to work.” Di sisi lain, justru Menlu AS Collin Powell menaruh optimisme dengan menganggap Indonesia sebagai “the most misunderstood country in the world“. 

Setelah bencana tsunami Indonesia pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di level 6%, di akhir tahun ini pun – ketika perekenomian dunia sedang lesu – diperkirakan level pertumbuhan ekonomi masih berada pada 4.5%. Setelah Timor Timur lepas, bangsa ini juga terancam perpecahan di ujung Barat dan Timur. Namun, dengan cara yang cukup menakjubkan, konflik di Aceh bisa terselesaikan secara elegan. Di Timur, dengan pemekaran menjadi dua propinsi, Papua sekarang lebih terkendali. 

Bangsa ini berbentuk negara kesatuan, dan sejauh ini tidak ada tawar menawar tentang hal tersebut. Ide bentuk negara federal seperti yang digagas beberapa tokoh (seperti Amin Rais) dikesampingkan, karena kita juga harus paham bahwa tidak semua propinsi mempunyai kekuatan merata dan pemerintah pusat masih perlu campur tangan. Otonomi daerah tampaknya menjadi solusi yang jauh lebih masuk akal. Sekarang ini, buah dari otoda adalah terbentuknya pemerintahan daerah dan parlemen tingkat I dan II yang murni merupakan bentukan tiap-tiap daerah. Semua aset terbaik daerah bergegas pulang untuk membangun daerah masing-masing – dan memang itulah harapan kita semua. 

Besok TPS dibuka dan mengharapkan kehadiran para pemilih yang sudah terdaftar untuk datang ke sana. Ada pesimisme, karena rasanya kurang sosialisasi. Terlalu banyak partai sehingga kertas suara terlalu lebar. KPU yang belum mampu bekerja secara profesional. Caleg yang tidak dikenal konstituennya sendiri. Dan … swing voters (suara mengambang) yang belum menetapkan pilihan dan berpotensi besar untuk tidak memilih. Banyak yang justru sudah mempersiapkan diri berlibur ke luar kota, karena kapan lagi ada libur berturut-turut seperti ini? (anggap saja Sabtu libur atau harpitnas).

Akan tetapi, optimisme selalu ada. Masih banyak yang menginginkan hasil terbaik untuk bangsa ini. Pesta demokrasi besok adalah sebuah langkah menuju Indonesia yang lebih baik. Kalaupun banyak kekurangan, itu wajar karena semua harus melalui proses – dan tugas kita yang hidup di masa ini adalah menjaga proses tersebut berjalan ke arah yang benar. Kalaupun kita tidak lagi hidup tatkala bangsa dan negara ini sudah menjadi negara demokrasi yang kokoh, it’s okey … setidaknya kita bisa bangga telah mengawalnya. Biarlah kita yang menanam biji mangga itu, dan semoga anak cucu kita selalu bersukur setiap menikmati buahnya yang ranum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: