Waktu untuk Anak

Anak-anak yang lucu, permata hidup kita ...

Anak-anak yang lucu, permata hidup kita ...

Pada suatu saat, seorang teman – wanita – menuliskan statusnya pada Facebook, yang intinya: … bagaimana cara meluangkan waktu lebih banyak untuk anak?

Jelas sekali terbaca keprihatinannya tentang waktu yang dirasakannya kurang bagi anak. Sebuah pernyataan yang sepintas bukan hal yang kompleks – bagi kebanyakan wanita. Sesibuk apa sih, kok tidak punya waktu luang untuk anak?

Sejak kuliah, saya bisa menyebutnya sebagai super girl. Gadis yang tidak bisa diam, dan hari-harinya selalu dipenuhi dengan berbagai macam kesibukan. Selain berotak encer, berwajah cantik, juga sangat energik. Dalam semua kesibukan di dalam dan di luar kampus, dia masih bisa selesai dengan IPK di atas 3,5.

Saya tidak begitu banyak dengar tentang dirinya setelah kuliah, tapi saya tahu dia menikah dan sekolah lagi ke Australia bersama dengan suaminya untuk memperoleh gelar master. Setelah sekian lama, saya bertemu lagi dengan dia dan suaminya dalam sebuah pesta pernikahan teman.

Kesibukannya tetap luar biasa. Sepertinya tidak boleh ada waktu luang yang disia-disiakan. Dari seorang supergirl – ketika masih kuliah – teman saya itu telah berubah menjadi seorang wonder woman. Dengan energi yang sama, kecerdasan yang tidak pernah luntur, dan kecantikan wanita matang yang menawan. Saya bahkan berpikir, mungkin ia bisa rileks justru ketika banyak yang harus dikerjakan.

Dengan pola yang khas, anak-anaknya sudah pasti harus berangkat dan pulang dengan sopir. Mungkin saat bertemu dengan orang tua adalah setelah matahari terbenam, itu pun hanya beberapa jam saja sebelum semua harus berangkat tidur. Mungkin waktu yang optimal adalah Sabtu dan Minggu – itupun kalau tidak ada pertemuan sosial dan keagamaan yang membutuhkan kehadiran teman saya itu. Sebagai seorang Nasrani yang taat, ia juga menjadi bagian dari komunitas tertentu, dan tentu saja dengan posisinya ia dan suaminya adalah anggota komunitas yang terpandang. Jadi, semakin sempitlah waktu untuk anak-anak yang manis dan cerdas itu.

Mungkin pertanyaan saya untuknya adalah: Orang tak perlu ragu dia adalah seorang wonder woman, tapi apakah sudah cukup sebagai seorang SuperMom?

Jawaban saya pada status Facebook teman saya tersebut adalah memberikan sebuah filosofi yang saya yakini: tujuan dan pengorbanan adalah dua sisi dalam sekeping mata uang. Tanpa pengorbanan, tak mungkin orang mencapai tujuan. Besarnya pengorbanan, tergantung berapa besar tujuan yang ingin dicapai. Tanpa pengorbanan, jangan harap sebuah tujuan bisa dicapai.

Dari semua permata di dunia, anak adalah permata yang terhebat – karena kilaunya membuat bangga, dan suramnya membawa kepedihan. Anak bisa membuat orang tua menyesal seumur hidup, namun sebaliknya bisa membuat orang tua mati dalam senyuman. Semuanya tergantung pada cara anak bertumbuh dan menjadi individu yang terbaik.
Rupanya teman saya itu memahaminya, karena kami tumbuh bersama dalam budaya psikologi. Di sisi lain, saya bisa berempati pada dilema yang dihadapinya sekarang. Letting go of something bukan hal yang mudah, apalagi bila hal itu sudah menjadi bagian dari kehidupan. Di sisi lain, ia kian menyadari bahwa kualitas pertemuan tidak pernah cukup – sebab kuantitas juga merupakan kondisi yang penting. Omong kosong bila ada orang tua berani berkata bahwa yang terpenting adalah kualitas pertemuan dengan anak – bukan kuantitas. Itu hanyalah dalih dari ketidak mampuan orang tua untuk menomor satukan anak.

Sebagai individu yang berkembang dan menumbuhkan banyak kompetensi di dalam dirinya, seorang anak akan mencapai tahapan perkembangan secara alami. Pada masanya, ia lebih mementingkan teman dan kelompok. Kemudian, seiring dengan pubertas, anak mencoba bereksplorasi dan bereksperimentasi. Energi dan curiousity pada berbagai hal baru pecah di usia remaja ini – termasuk eksplorasi dan eksperimentasi dalam seksualitas. Tanpa disadari, anak akan meninggalkan orang tua – karena mereka harus memiliki dunia sendiri dan keluarga yang mandiri.
Seberapa kenal kita pada anak-anak kita sendiri?

Setiap orang tua akan senang bila setiap hari mendengarkan cerita dan kabar yang bagus dari anak. Ia berkisah tentang teman yang suportif, prestasi yang cemerlang, guru-guru yang baik, dan kehidupan lain yang menyenangkan. Angka rapor yang baik memperkuat asumsi bahwa anak itu unggul dan manis.
Apa reaksi kita bila ada informasi bahwa anak kita – yang manis dan pintar itu – ternyata mulai suka nonton BF di rumah temannya, dan dalam ujian suka mencontek?
Resistensi atau penolakan sudah pasti menjadi reaksi pertama, karena mana ada orang tua yang mau percaya anaknya tidak berkelakuan baik?
Orang tua pada umumnya berasumsi telah memberikan segalanya pada anak, sehingga meyakini anak akan membalasnya dengan kebaikan. Bila orang tua adalah orang terpandang, dan sudah menerapkan semua standar dan norma yang – menurut orang tua – terbaik, anak dipastikan akan menjadi baik. Orang tua yang berpendidikan tinggi, terpandang di masyarakat, akan menghasilkan anak dengan kualitas serupa. Well … bisa benar, bisa tidak.

Pada kenyataannya adalah – kalau orang tua hanya atau kebanyakan mendengar anak bicara tentang sisi positifnya saja, dan tidak pernah menceritakan tentang sisi negatif dirinya, berarti ada sesuatu yang salah. Bagaimana pun, anak tetap anak, remaja tetap remaja. Mereka selalu punya dua sisi dalam diri mereka: baik – nakal, gembira – sedih, suka – duka, dan sebagainya. Kalau orang tua hanya bisa menangkap satu sisi saja (dalam banyak kesempatan), orang tua perlu introspeksi diri. Mungkin ada sesuatu yang salah.

Kita sebagai orang tua yang lebih matang dalam menempuh kehidupan saja selalu membutuhkan orang untuk berbagi kesedihan, keluhan, frustrasi kemarahan, dan sejenisnya. Ketika bahagia karena prestasi, kita menginginkan reward agar terpacu untuk lebih baik. Saat sedih, kita membutuhkan tempat untuk berbagi, pelukan yang menenangkan, bahu untuk menangis … dan semacamnya.

Tapi … apa yang biasanya kita lakukan bila anak datang dari sekolah dengan wajah cerah dan berkata: Bu, ulangan bahasa Indonesiaku dapat 93 …. adakah sebuah kata selamat sempat terlontar dari sang Ibu yang sedang memasak? Atau sekedar pelukan agar anak gembira? Anak membutuhkan sambutan (sekurangnya), tapi orang tua biasanya menganggap hal itu sebagai kewajaran dan kewajiban.

Apa yang terjadi ketika anak menyambut kedatangan Ayah atau Ibu di sore hari – dengan tubuh yang letih – dengan berita bahwa ulangan matematikanya jeblok … dapat 54? Omelan, cercaan, atau senyuman dan pelukan? Anak membutuhkan penenang kegalauan seperti elusan dan pelukan, tapi orang tua umumnya justru menimpali dengan omelan – seolah-olah dunia akan kiamat besok.

Kekeliruan orang tua dalam merespon aktivitas dan ucapan anak bisa menyebabkan terputusnya komunikasi – sehingga mungkin sekali anak akan menarik diri. Ia hanya akan menyampaikan segala hal yang tidak membuat orang tua lebih marah dan lebih membuatnya merasa tidak berharga. Karena tidak mungkin semua beban batin dan emosi negatif disimpan, ia akan mencari pemecahannya sendiri tanpa orang tua. Hukum alam sudah menjelaskan bahwa adanya sumbatan bisa memicu dua kemungkinan: jebolnya sumbatan dengan paksa, atau material yang tersumbat mencari saluran keluar yang lain.

Kalau anak lebih suka mencurahkan perasaan dan beban batinnya pada diary-nya, sebenarnya orang tua harus mulai berintrospeksi. Karena, anak lebih percaya pada diary yang tidak memberikan respon, daripada kepada orang tua yang akan merespon negatif. Anak usia SMP yang mulai pacaran, mungkin alami dan trendy, namun sebenarnya tidak wajar. Seharusnya, anak itu lebih berfokus pada studi, pembebasan energi secara fisik dalam aktivitas sosial, dan pelepasan emosi kepada orang tua (bukan kepada sang pacar). Keterlibatan anak dalam kelompok yang menunjukkan perilaku delinkuen seperti merokok dan berkelahi, juga mengindikasikan adanya sesuatu yang keliru.

Bila orang tua hanya punya kualitas pertemuan dengan anak, pertanyaannya adalah: seberapa banyak emosi yang bisa ditumpahkan pada orang tua – khususnya Ibu? Sementara sentuhan tangan sang Ibu mungkin sangat diperlukan oleh anak, setiap kali dia mengalami kesulitan dan masalah – yang mungkin terlalu lama bila harus menunggu sang Ibu pulang nanti malam. Bahkan dengan kehadiran seorang Ibu secara fisik, anak bisa merasakan ketenteraman, dan rasa sakit yang dialami bisa reda dengan sendirinya.

Menyaksikan anak berkembang dan tumbuh, dan menjadi bagian dari semua kesulitan mereka sebenanrya adalah tugas orang tua. Anak-anak akan bangga pada orang tuanya, itu adalah hal yang wajar, dan itu perlu dipupuk agar anak menjadikan orang tua mereka sebagai referensi semua tindakan mereka. Untuk itu, orang tua perlu selalu mengenal anak-anak mereka, dan memberikan nasihat sesuai dengan karakter anak. Ingat, karakter anak memuat kepingan dari budaya yang berkembang di masanya.

Menjadi seorang SuperMom bukan sekedar manajemen rumah tangga: menyiapkan masakan untuk keluarga, pakaian yang selalu bersih, rumah yang terawat – karena hal itu bisa dikerjakan PRT. Yang lebih penting adalah menyediakan diri secara fisik dan mental untuk anak, agar bisa menjadi bagian dari perkembangan permata terindah itu.

Saya tetap meyakini bahwa, mengasuh anak ibaratnya memegang seekor anak burung. Terlalu kendor dia akan lepas, terlalu erat dia akan mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: